Pacarku Presdir

Pacarku Presdir
Pacarku Presdir-81


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Alvaro membukakan pintu mobil untuk Aluna, tak lupa tangannya melindungi kepala gadis itu takut jika tersandung kap mobil. Mereka sudah sampai ke Inggris.


Aluna benar-benar kagum dengan negara disana. Maklum jarang pergi ke luar negeri membuatnya terlihat seperti kampungan. Dulu waktu SMA Aluna sering mengikuti lomba antar Negara sebagai perwakilan Indonesia diajang internasional. Walau sudah sering tapi tetap saja dia tak berhenti berceloteh kagum.


"Kak ternyata Inggris itu indah yaaa. Aku pikir seperti difilm Herry Potter yang pakai sihir itu lho".


Alvaro dan Sonny terkekeh mendengar celotehan Aluna.


"Kau suka?". Alvaro tersenyum hangat tangannya mengenggam tangan Aluna dengan sayang.


Aluna mengangguk "Tapi aku lebih suka Indonesia, karena masih alami". Sahut Aluna.


Sonny menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang sesuai perintah Alvaro. Alvaro membiarkan Aluna menikmati permandangan.


Sampai di sebuah rumah mewah. Lagi-lagi Aluna merasa benar-benar kagum. Ternyata pacarnya ini benar-benar orang kaya. Aluna pikir Alvaro hanya pria biasa saja yang menjabat sebagai Presdir tapi ternyata diluar dugaannya. Alvaro memiliki segalanya.


Mereka disambut oleh para pelayan yang bekerja disana.


"Selamat datang Tuan Muda. Nona Muda". Sapa mereka serentak


"Terima kasih". Aluna merasa seperti ratu.


(Pakai bahasa inggris ya guys, tapi author takut salah ngomong wkwkwkw. Anggap aja pake bahasa itu yaaaa hihi)


"Grandfa. Grandma".


"Al".


Kedua pasangan berumur itu menyambut cucu pertama mereka dengan senyuman mengembang. Rindu sudah pasti. Apalagi dari dulu Alvaro memang tinggal bersama keduanya.


Alvaro memeluk Kakek dan Neneknya secara bergantian. Sementara Aluna hanya tersenyum simpul. Bingung ingin bicara apa.

__ADS_1


"Ohh ya Grandfa. Grandma. Ini Aluna calon istriku". Ucap Alvaro memperkenalkan Aluna.


Namun wajah kedua pasangan itu tampak tidak senang. Mereka memang sudah mendengar bahwa Alvaro bertunangan dengan gadis yang tidak sederajat dengan mereka.


"Aluna, Grandfa. Grandma". Aluna mengulurkan tangannya untuk memberikan salam pada kedua orang itu.


Namun kedua pasangan itu justru menatap Aluna dengan jijik. Apa Alvaro buta ingin menikahi gadis ini? Sama sekali tidak menarik. Penampilan nya terkesan tomboy. Memang cantik tapi tidak ada yang menarik.


"Senang bertemu dengan kalian". Aluna menarik paksa tangan kedua orang itu lalu mencium punggung tangan mereka.


Robert dan Maria terkejut melihat keberanian Aluna dan mereka sedikit tertegun ketika Aluna mencium tangan mereka. Maklum ini di Inggris bukan Indonesia, rasanya sedikit aneh jika ada orang yang mencium tangan orang yang lebih dewasa.


"Iya". Sahut Maria datar.


"Bawa kekasihmu duduk". Suruh Robert


Alvaro tahu jika Kakek dan Neneknya tidak menyukai Aluna. Dari dulu kedua orang itu selalu menargetkan dirinya agar menemukan pasangan yang serasi dengannya. Dari keluarga kaya dan memiliki segalanya.


Sementara Sonny menyeret kedua koper Tuan dan Nona-nya lalu membawa koper itu kedalam kamar yang sudah disiapkan.


Jangan pikir jika Aluna akan tersinggung. Gadis itu malah terlihat biasa saja tanpa beban. Anggap saja angin lalu. Kan seperti kata Aluna, tidak semua orang akan menyukai kita. Ada masa dimana mereka akan menganggap kita sebagai remahan. Tugas kita adalah bagaimana membuktikan bahwa terlahir dari keluarga miskin bukan berarti tidak memiliki masa depan, bukan?


Maria menatap Aluna dengan tak suka. Dia menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut. Pakaian yang Aluna kenakan juga bukan pakaian bermerk mahal.


.


.


.


.


"Ayo sayang". Alya menggandeng tangan Rayyan "Kak Al sama Kak Nana udah sampai di Mansion. Ayo aku udah gak sabar ketemu mereka".

__ADS_1


Langkah Rayyan terasa berat. Bagaimana pun dia masih belum siap melihat wajah gadis yang masih dia cintai itu. Meski dia sudah berjanji akan membuka hatinya untuk Alya namun nyatanya dia adalah pria yang ketika jatuh cinta maka akan sulit untuk berpindah hati.


"Iya". Rayyan mengikuti langkah Alya.


Rayyan memutuskan menerima cinta Alya. Dia akan mencoba melupakan Aluna. Barangkali Alya adalah wanita yang tepat untuknya bisa melupakan cinta nya itu.


Keduanya masuk kedalam mobil. Rayyan menjalankan mobilnya meninggalkan kampus.


Alya masih bergelut manja dilengan kekasihnya itu. Sementara Rayyan menatap kedepan tanpa ekspresi. Dia sedang mencoba menormalkan detak jantungnya. Setiap kali bertemu Aluna perasaannya masih sama seperti dulu. Namun dia akan berusaha melepaskan semua perasaan nya dan mencintai Alya dengan tulus.


Keduanya turun dari mobil. Ketika sampai di Mansion mewah keluarga Alya.


Rayyan benar-benar gugup.


"Sayang kok tangan kamu dingin sih? Kamu sakit?". Tanya Alya sambil berjalan menggendeng tangan Rayyan.


"Gak kok. Cuma AC mobil tadi terlalu dingin suhu nya". Jawab Rayyan asal.


Mereka masuk. Senyum mengembang diwajah Alya saat melihat Alvaro dan Aluna sudah duduk dengan Kakek dan Nenek nya.


"Kak Al. Kak Nana".


"Alya". Senyum Aluna. Kedua gadis itu saling memeluk erat. Sudah lama juga tak berjumpa


Suasana tiba-tiba canggung. Robert dan Maria menatap Aluna tak suka.


"Kamu kerja apa? Punya usaha apa? Sejauh mana kenal Al?". Cecar Maria g


tak suka.


Bersambung........


Apa ini akan menjadi halangan hubungan Alvaro dan Aluna???? Yuk ikutin teruss yaaa....

__ADS_1


__ADS_2