Pacarku Presdir

Pacarku Presdir
Pacarku Presdir-76


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Sayang, Will you merry me?".


Yandi berjongkok sambil menyedorkan kotak beludru yang didalamnya terdapat cincin permata.


Mira menutup mulut tak percaya. Dia tak menyangka jika kekasihnya selama ini benar-benar memperjuangkan nya. Selama tiga tahun menjalin hubungan keduanya harus melewati berbagai tantangan. Terutama masalah agama, karena orangtua Yandi menetap di China dan menganut agama Tionghoa, Budha. Sedangkan Mira, beragama Kristen. Perbedaan yang cukup jauh. Nilai-nilai etik yang tak sama. Cara sudut pandang dalam melihat suatu peristiwa juga jauh berbeda.


Namun keduanya bertahan dan menegosiasi kan siapa yang akan mengalah. Yandi akhirnya mengalah dan mengikuti agama Mira.


"Sayang".


"Terima... Terima... Terima... Terima".


Aluna lah yang paling heboh. Gadis itu bertepuk tangan sambil berteriak terima. Semua yang melihat Aluna hanya bisa menggeleng gemes.


Mira tak dapat berkata apa-apa. Dia mengangguk, karena lidahnya terasa kaku saking bahagianya.


Yandi berdiri dan memasangkan cincin itu dijari manis Yura.


"Makasih sayang". Keduanya berpelukan satu sama lain.


Utomo tersenyum bahagia. Dia memang sempat tidak merestui hubungan Mira dan Yandi. Selain agama yang berbeda. Ada beberapa hal juga yang tidak bisa disatukan.


Namun, Yandi berhasil membuktika bahwa dia akan menjadi yang terbaik untuk Mira.

__ADS_1


Acara makan-makan yang diadakan oleh Yandi. Dia sengaja meminta ruang VVIP khusus untuk memberi Mira kejutan.


"Lun, hiks hiks hiks". Mira berhambur memeluk Aluna.


"Ck, Mir loe kalau mau bunuh gue ntar aja gue belum nikah". Gerutu Aluna saat Mira memeluk nya erat hingga membuatnya sulit bernafas.


"Hiks hiks loe kenapa sih suka banget buat gue kesel?". Mira melepaskan pelukkannya sambil menyeka air matanya.


"Karena gue suka". Aluna tertawa cekikikan "Bdw selamat Mimir. Bang Yayan. Selamat ulang tahun juga Mimir. Maaf ngerjain. Sengaja". Aluna menampilkan senyum polosnya.


"Loe_". Mira kembali memeluk Aluna sambil terisak bahagia.


"Mas, makasih ya udah bantuin aku". Ucap Yandi.


"Sama-sama Yan. Makasih nya buat Aluna aja". Senyum Wendy melirik Aluna.


"Makasih banyak ya Lun. Udh bantuin Abang. Meski loe suka bikin kesel, tapi kalau masalah buat kejutan loe selalu bisa diandelin". Yandi terkekeh melihat Aluna komat-kamit.


"Bikin kesel. Bikin kesel". Gerutu Aluna tak lupa mulutnya yang tak berhenti komat-kamit.


"Ehem, uang jalannya mana?". Aluna menengadahkan tangannya "Ingat ya Bang, kagak ada makan siang yang gratis harus bayar". Imbuhnya tersenyum smirk sambil


"Sayang". Tegur Alvaro menggeleng.


"Loe mau apa? Bilang aja. Makan?". Aluna mengangguk dengan cepat.

__ADS_1


"Astaga Lun. Loe barusan selesai makan?". Mira geleng-geleng kepala.


"Lapar bestieee". Sahut Aluna memeluk lengan Alvaro dengan manja.


Ruang VVIP yang dipesan Yandi terdengar suara gelak tawa yang menggema. Celotehan dan cerita Aluna membuat mereka salut. Gemes. Pengen gigit.


.


.


.


.


Leon menghela nafas pelan. Penampilan pria itu kacau. Beberapa hari ini dia mengejar cinta seorang gadis. Namun malah tidak ditanggapi sama sekali.


"Kak Leon".


Pria itu menoleh dan memaksakan senyum dibibirnya.


"Iya Ran". Senyum Leon.


"Makan siang bareng yuk. Kebetulan Aluna telpon aja makan sama-sama. Katanya ada sahabat nya yang lagi ulang tahun jadi kita ditraktir". Jelas Ranny.


"Ohhh boleh".

__ADS_1


Leon dan Ranny berjalan menuju lobby rumah sakit. Segera Leon menjalankan mobilnya meninggalkan rumah sakit


Bersambung.....


__ADS_2