
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Aluna berjalan mengendap-endap kedapur. Dia mengintip orang rumah takut ada yang melihat aksinya.
Dengan pelan gadis itu membuka pintu kulkas. Lalu mengambil beberapa mangga muda Kanti. Mangga itu biasa Kanti gunakan sebagai asinan dikedainya.
Sebenarnya Kanti tidak pelit pada Aluna. Hanya saja anak gadisnya itu sedang menderita sakit maag sangat tidak boleh makan yang asam-asam.
Aluna mengupas mangga itu dengan kecepatan kilat. Tak lupa dia memblender beberapa butir cabe rawit.
Entah apa yang dikerjakan oleh gadis itu.
"Bunda ini mangkuknya". Ucap Bara.
"Makasih sayang". Bisik Aluna pelan "Jangan keras-keras ntar ada yang dengar lagi". Kedua bocah itu mengangguk patuh pada perintah Aluna
Mereka bekerjasama. Bara membantu Aluna mengupas mangga dengan pelan. Sementara Brayn memantau sambil melihat-lihat sekeliling takut orang rumah terbangun.
Rujak mangga muda Aluna sudah jadi. Gadis itu meringgis melihat banyaknya capek dipiringnya.
"Makasih ya sayang. Kalian boleh balik ke kamar. Ingat pelan-pelan jangan sampai ada yang curiga". Pesan Aluna.
"Iya Bunda". Kedua bocah itu mencium pipi Aluna lalu kembali kedalam kamar mereka.
Aluna berjalan pelan seperti maling takut ketahuan sambil membawa nampan ditangannya.
Aluna menuju balkon. Disana sudah ada Leon yang duduk dikursi balkon. Wajahnya ditekuk kesal.
"Kamu kemana aja sihhh lama banget?". Protes Leon "Apa itu?". Kening Leon berkerut.
"Rujak mangga pedas". Aluna tersenyum devil sambil menaik turunkan alisnya "Kamu mau makan rujak malam-malam? Ingat ya Lun, kamu gak boleh makan pedas dan asam". Oceh Leon.
"Nahh karena Aluna gak boleh, Kak Leon gantiin Aluna ya".
Leon mendelik kearah gadis itu. Melihat cabe yang sudah berwarna merah itu saja membuatnya ngeri.
"Kamu mau suruh Kakak makan rujak?".
__ADS_1
Aluna mengangguk "Kak menurut buku yang Aluna baca, biasanya orang yang patah hati itu cocok nya makan yang pedas-pedas. Dijamin Kak pasti.....". Aluna tersenyum devil "Sakit perut". Lalu gadis itu tertawa melihat wajah kesal Leon.
"Kamu ini ya... Kakak gak mau". Tolak Leon.
"Ya udah kalau gak mau. Aluna aja yang makan dari pada dibuang sayang mubazir". Ucap Aluna tak lupa ekor matanya menatap Leon.
Leon menghela nafas panjang. Jika Aluna yang makan nanti maag gadis itu kambuh lagi bagaimana? Bisa diteror terus dia sama Alvaro.
"Ya udah sini Kakak yang makan". Ucap Leon ketus. Dia mengambil piring dari tangan Aluna.
"Kak pas lagi makannya ingat-ingat aja muka si Tiara. Trus Kakak anggap aja dia itu cabe kalau dimakan pedes tapi mau". Aluna cekikikan.
Leon mendelik kearah Aluna "Kamu sengaja ngerjain Kakak?".
Aluna mengangguk cepat "Aluna cuma mau bantuin Kakak move on aja". Sahut gadis itu memasang wajah sendu nya.
"Dengan buat Kakak sakit perut??". Leon menatap Aluna dengan mata elangnya.
Lagi-lagi Aluna mengangguk "Kan kalau Kakak sakit perut. Fokusnya diperut Kakak bukan ke Tiara. Semakin perut Kakak sakit semakin Kakak bisa lupain Tiara".
Dan dengan bodohnya Leon mengikuti kata Aluna. Pria itu memasukkan mangga yang sudah dicampuri dengan garam dan cabe itu kedalam mulutnya.
Dengan isak tangis Leon memakan mangga itu. Benar kata Aluna rasa mangga yang pedas bisa membuat hatinya sedikit membaik. Tiara adalah cinta pertamanya saat SMA. Wanita itu rebutan waktu mereka sekolah dulu. Sampai sekarang Leon masih berharap pada Tiara. Walau dulu dia sudah memiliki kekasih. Sampai akhirnya dia satu kenyataan bahwa Tiara bukan wanita yang baik.
"Minum Kak".
Bibir Leon sudah memerah. Entah berapa banyak cabe yang Aluna masukkan kedalam mangga itu. Dia percaya-percaya saja filosofi Aluna yang mengatakan kalau patah hati makan mangga muda pedas saja.
"Hiks hiks Lun. Kakak itu cinta mati banget sama Tiara". Seperti orang mabuk Leon terus berceloteh.
"Kakak ikhlasin aja yaaa. Masih banyak kok cewek diluar sana yang bisa cinta sama Kakak. Ranny juga cantik kok Kak".
Aluna Kasihan sendiri melihat Leon yang kepedasan begitu. Dia juga tidak tahu dapat filosofi dari mana. Aluna ngarang-ngarang sendiri.
.
.
__ADS_1
.
.
Mira menarik nafas dalam. Hamil muda itu ternyata menyiksa.
"Sakit sayang?". Yandi Kasihan melihat istrinya. Padahal dia juga mengidam
"Iya sayang". Mira menghela nafas panjang.
Sejak menikah, Yandi memutuskan untuk membawa Mira tinggal dirumah dinas nya. Disana lebih nyaman dari pada tinggal bersama kedua orangtuanya. Yandi takut jika Ibu nya masih belum bisa menerima Mira. Maklum Ibunya itu pernah tidak suka pada istrinya. Takut jika itu masih lagi.
"Aku bantu yaaa".
Usia kehamilan Mira baru memasuki bulan ketiga. Dia masih mengidam berat. Begitu juga dengan Yandi yang masih mengidam berat.
.
.
.
.
Rayyan dan Alya sedang bersiap-siap untuk kembali ke Indonesia. Mereka liburan semester jadi bisa digunakan untuk pulang dan bertemu keluarga.
"Sayang".
Alya menggandeng tangan Rayyan dengan posesif. Meski pria ini belum mencintai nya tapi Alya akan berjuang agar Rayyan mencintainya.
"Iya".
Rayyan memaksakan senyum dibibir nya. Mereka menuju Bandara.
**Bersambung....
Hai guys kalau kalian mau praktekin filosofi Aluna boleh ya kwkwwk.
__ADS_1
yang lagi patah hati makan aja cabe banyak-banyak yaaa. Dijamin pasti sakit perut .. Wkwkwkwkwwwkwkwkwkwkwk**