
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Rayyan menghela nafas panjang. Sudah satu bulan dia menjadi mahasiswa di Oxford Inggris. Tapi terasa berat menjalani hari-hari disini. Apalagi tanpa ocehan dan keberisikkan Aluna, benar-benar terasa hampa.
"Boleh gabung gak?".
Rayyan mengangkat pandangan nya dan melihat Alya yang sedang tersenyum manis padanya.
"Duduk aja". Rayyan sedikit bergeser memberi Alya ruang.
"Mau". Alya memberikan sebotol minuman pada Rayyan.
"Makasih". Rayyan menyambut dan memaksakan senyum dibibir seksinya.
Rayyan menunggak minuman yang diberikan Alya padanya. Minuman itu cukup membuat tenggorokan nya yang dari tadi kering menjadi basah.
"Masih mikirin Kakak Ipar?". Tanya Alya kepo.
Rayyan tak menjawab dia malah asyik membuka buku yang sedari tadi dia baca.
Alya mencebik kesal saat Rayyan tak menjawab pertanyaan nya. Kenapa pria ini sedingin es?
"Orang nanya tuhh dijawab kek". Singgung Alya
Rayyan membereskan buku-bukunya. Dia meninggalkan Alya begitu saja. Dia sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun. Tujuannya pergi ke Inggris adalah untuk menenangkan hatinya. Bukan untuk menambah masalah.
Rayyan juga heran. Kenapa Alya terus mengikuti nya. Lagi, kenapa wanita itu bisa tahu jika dia pergi ke Inggris.
Rayyan masuk kedalam mobil dan meninggalkan kampus. Dia tinggal di Apartement milik Ayahnya.
Sampai di Apartementnya. Rayyan langsung masuk. Dia melempar begitu saja tas dan handphone nya.
"Arggghh, Aluna". Dia meremes rambutnya kasar "Kenapa sulit banget lupain kamu Na?". Rayyan mengusar wajahnya frustasi "Apa yang harus aku lakukan agar kamu hilang dipikiran aku?". Racaunya tidak jelas.
Rayyan pikir ketika dia pergi perasaannya juga akan ikut pergi. Namun dia salah, justru ketika dia pergi dia semakin merindukan gadis bernama Aluna itu.
__ADS_1
.
.
.
.
"Pagi Mimir. Pagi Yuyur". Sapa Aluna duduk didepan meja Yura.
"Cerah amat loe Lun?". Ujar Mira ikutan duduk.
"Iya donk.... Namanya juga Nona Bersinar". Aluna mengibaskan rambutnya sambil tersenyum menggoda kedua sahabatnya.
Yura dan Mira memutar bola mata malas mendengar kepedean Aluna. Sungguh Aluna ini, benar-benar gadis bar-bar.
"Nona Bersinar. Nona Bersinar dari Hongkong". Sindir Yura
"Dari Belanda Yur". Aluna mencomot kue yang di beli Yura tadi.
"Ihhh sarapan gue Lun". Yura menarik kue yang dicomot Aluna.
"Tumben loe ke ruangan gue. Biasanya juga gak sempat?". Ujar Yura
"Biasalah. Gue lagi seneng pake banget". Aluna tersenyum sumringah membayangkan wajah Alvaro.
"Senang kenapa?". Tanya Mira menyelidik
"Gue... Ahhh pokoknya gue lagi senanglah". Sahut Aluna.
"Ya udah ntar siang gue traktir loe berdua". Aluna berdiri dari duduknya "Gue cabut".
Yura dan Mira hanya menggeleng. Datang tak diundang pulang juga tak diantar begitulah Aluna.
Aluna keluar dari ruangan Yura dengan senyum sumringah. Dia selalu tersenyum setiap hari, sehingga menular pada siapa saja yang melihatnya.
__ADS_1
"Pagi semua". Sapa Aluna pada rekan seruangannya.
"Pagi juga Lun". Balas mereka kecuali Andre. Sejak Andre, tahu bahwa Alvaro dan Aluna sudah jadian, pria itu sedikit menghindar.
"Pagi Pak Andre". Sapa Aluna
"Pagi Lun". Sahut Andre singkat mencoba memaksakan senyum.
Aluna duduk dimeja kerjanya. Tangannya langsung dengan lihai menekan-nekan tombol keyboard komputer nya.
Drt drt drt drt drt
Aluna meronggoh ponselnya. Senyumnya mengembang saat melihat siapa yang menelponnya. Telpon yang selalu dia nantikan setiap pagi, siang dan malam.
"Pacar pagi.....".
"Sayang pagi..... Udah makan belum?".
"Udah".
"Udah ditempat kerja belum?".
"Udah".
Terdengar suara kekehan diseberang sana. Jawaban singkat Aluna membuatnya gemes. Tidak bertanya balik, sungguh membuatnya gemes pada kekasihnya itu.
"Kapan pulang?". Tanya Aluna.
"Minggu depan... Sabar yaa. Aku juga kangen". Belum juga Aluna mengatakan rindu, dia sudah merasakan rindu duluan.
"Hati-hati jaga diri disana". Aluna tersenyum kesem-kesem malu.
"Iya sayang. Aku tutup telponnya ya. Ntar siang aku telpon lagi. Love U".
"Love U too".
__ADS_1
Aluna tersenyum hangat. Obrolan singkat dengan Alvaro sudah lebih dari cukup. Saat ini Alvaro sedang berjalan bisnis ke Jepang hingga membuat keduanya harus terpisah jarak.
Bersambung....