Pacarku Presdir

Pacarku Presdir
Pacarku Presdir-88


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Sayang".


"Kak Al".


Alvaro memberikan pelukan hangat pada kekasihnya ini. Jika dulu bisa bertemu kapan saja dikantor. Sekarang berbeda, Aluna sangat sibuk dengan pekerjaan dan jabatan barunya.


"Udah lapar?".


Aluna mengangguk "Selalu lapar". Sahut Aluna manja.


"Ayo. Udah ditungguin sama Mira dan Yura". Alvaro membuka pintu mobil untuk Aluna.


Sampai direstourant langganan mereka. Keduanya langsung turun. Menjadi pusat perhatian sudah biasa. Pasangan serasi itu selalu membuat orang iri dengan keduanya.


"Mimir. Yuyur".


"Aluna".


Kedua wanita hamil muda itu memeluk Aluna dengan rindu. Benar-benar rindu. Tanpa Aluna bagai motor tanpa bensin.


"Gue kangen banget sama loe Lun".


"Iya Lun, gue juga". Sambung Mira.


"Iya. Makasih udah jujur. Gue emang suka ngangenin kok". Aluna melepaskan pelukan kedua sahabatnya.


Wajah Mira dan Yura berubah kesal. Kalau dipuji Aluna memang merasa terbang ke awan-awan membuat tensi ingin naik saja.


"Loe kepedean amat sih". Cibir Mira.


"Kan loe yang bilang kangen guee". Goda Aluna menarik turunkan alisnya.


"Udah ahhh malas ngomong sama loe". Ketiganya duduk

__ADS_1


"Hai Bang Yayan. Bang Yuyu, Abang angkat gue". Sapa Aluna pada Yandi dan Bayu.


"Nama gue Yandi Lun. Bukan Yayan". Ralat Yandi "Kabar gue baik. Tapi pas ketemu loe gue perlu ke dokter buat cek tensi gue". Ketus Yandi


"Butuh konsultasi kayaknya Bang. Dikerjain ya sama kecambah Abang". Aluna tertawa. Dia mendengar cerita Mira jika Yandi ngidam berat.


Yandi mendengus kesal. Sampai sekarang dia masih ngidam. Kadang dia heran yang hamil istrinya kenapa dia yang ngidam?


Bayu terkekeh melihat wajah Yandi yang kesal. Setidaknya dia tidak menderita sendirian karena ledekkan Aluna.


"Sayang gak usah jahil. Mending kamu makan". Tegur Alvaro "Maaf ya Yan. Bay".


"Udah biasa Al. Mau kita ngomel kek rel kereta api aja gak bakal masuk sama pacar loe itu". Ketus Yandi.


Pesanan mereka datang. Seperti biasa meja makan akan penuh bahkan Aluna meminta satu meja lagi untuk menampung pesanan.


Mereka berlima hanya geleng-geleng kepala saja. Meski sudah biasa melihat Aluna banyak makan tapi tetap saja merasa salut.


Mereka semua makan. Alvaro sibuk mengelap bibir Aluna yang makan blepotan. Dia tidak nafsu makan. Melihat Aluna yang makan lahap sudah membuat perutnya kenyang seketika.


"Aku gak lapar sayang".


Seperti biasa, Bayu, Yandi, Mira dan Yura akan menjadi penonton kebucinan Alvaro dan Aluna. Mereka yang sudah menikah saja tidak sebucin itu. Tapi berbeda dengan Alvaro dan Aluna, dunia terasa milik sendiri. Yang lain hanya menumpang saja.


.


.


.


.


Setelah makan siang Alvaro mengantar Aluna kembali ke perusahaan. Waktu terasa begitu cepat berlalu.


"Sayang aku pengen liat kantor kamu. Boleh?".

__ADS_1


"Boleh lah Kak. Kan ini perusahaan Kakak aku kan cuma kelola aja. Ayo Kak masuk. Sekalian aku kenalin sama mereka".


Alvaro senang saat Aluna ingin memperkenalkan nya. Berbeda dulu saat dia ingin mengenalkan gadis itu pada karyawan selalu ditolak Aluna.


"Siang Bu Aluna". Sapa mereka serentak


"Siang semua. Ohh ya kenalin ini Presdir Al Pemilik Zein Group. Calon suami saya". Dengan bangga Aluna memperkenalkan Alvaro.


Mereka semua tercenggang mendengar nama Al. Mereka hanya tahu nama saja tapi tidak pernah melihat wajah Al secara langsung. Nama Al sedang buming diperbincangkan sebagai pengusaha muda dan sukses.


"Selamat siang Pak Al".


"Selamat siang". Balas Alvaro.


"Ya udah kalian kembali kerja. Jangan lupa siapkan semua datang yang saya minta".


"Baik Bu".


Alvaro benar-benar kagum melihat interior kantor Aluna. Perusahaan IT itu dilengkapi dengan fasilitas yang luar biasa.


Para karyawan yang bekerja disana juga tampak disiplin tinggi. Selain itu tataan barang-barang yang disana juga terlihat rapih.


"Ayo Kak masuk". Aluna mengajak Alvaro masuk kedalam ruangan nya.


Lagi-lagi Alvaro kagum dengan ruangan kerja Aluna. Ya ruangan kerja yang didominasi dengan dekorasi natural itu begitu nyaman dilihat mata.


"Duduk Kak".


Aluna mengambil berkas dalam lacinya. Lalu menghampiri Alvaro yang duduk disoffa.


"Apa ini?". Tanya Alvaro


"Buka aja".


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2