
Happy Reading 🌹🌹 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Leon keluar dari ruangan nya. Baru saja dia menerima pesan bahwa Alvaro dan Aluna mengajaknya jalan-jalan ke pantai menikmati sunset sore. Mau menolak tidak nyaman, pasti dia akan jadi korban kebucinan Aluna dan Alvaro lagi.
"Dokter Ranny".
"Iya Dokter Leon?". Balas Ranny tersenyum simpul
"Mau pulang?". Rumah mereka bertentangga
"Iya Dok". Balas Ranny tersenyum.
"Mau ikut saya? Aluna ngajak jalan ke pantai sore". Tawar Leon.
Ranny tampak berpikir. Sebenarnya dia tidak suka Aluna dan Alvaro. Dia masih berharap hati Aluna berlabuh pada Kakaknya. Tapi ya namanya juga cinta tidak bisa dipaksakan.
"Boleh Dok".
"Ayo".
Keduanya berjalan beriringan sambil mengobrol hanya. Ranny setelah melanjutkan S2 spesialis jantung, dia memutuskan bekerja dirumah sakit yang sama dengan Leon.
Leon menjalankan mobilnya. Dia juga sudah menghubungi Dicky untuk ikut bersama mereka.
Alvaro dan Aluna selalu seperti itu. Untuk menghindari nafsu, mereka mengajak teman-teman untuk hangout dan tidak mau berdua saja.
Seperti kata Aluna sesuci apapun seseorang jika terus menempel dan berduaan setan mana yang tidak akan masuk?
Awalnya Alvaro sempat keberatan dengan keputusan Aluna. Tapi ketika dia mengenal Aluna lebih dalam akhirnya dia paham maksud dari kekasihnya itu.
"Ranny. Kak Leon". Aluna melambaikan tangannya.
"Lun". Ranny tersenyum sumringah melihat sahabatnya itu "Kalian udah lama nunggu?". Tanya Ranny ikut duduk dikursi dekat Aluna
"Udah mau jemuran malah". Ketus Aluna "Pak Dicky mana Kak?". Tanya Aluna.
"Bentar lagi datang". Sahut Leon singkat.
Leon masih dalam mode patah hati.
"Kak Leon minum dulu. Patah hati itu biasa nya butuh yang dingin-dingin biar gak panas". Sindir Aluna. Sambil menyedorkan es kelapa pada Leon
Leon mencebik kesal tapi tetap mengambil es kelapa dari Aluna.
Tidak lama kemudian Dicky datang bersama seorang wanita cantik. Dipastikan itu pacar baru Dicky. Laki-laki itu selalu bergonta-ganti pacar setiap bulannya, dia playboy yang memiliki 12 musim dalam setahun.
Dalam setahun Dicky bisa memacari dua belas wanita sekaligus.
"Kakak".
"Dek".
"Wahhh Kakak MUA. Pacarnya Pak Dicky?". Aluna menatap tak percaya.
"Kamu kenal sayang?". Alvaro menimpali.
"Iya Kak. Ini lho Kakak MUA yang aku ceritain waktu acara nikahan Bang Yuyu sama Yuyur". Sahut Aluna.
__ADS_1
Sementara Dicky menelan salivanya kasar. Kenapa Aluna bisa kenal pacarnya yang ini?
"Hai Kak. Masih ingat nama aku?". Aluna mengulurkan tangannya "Kemarin aku tunggu Kakak ditoko buku lho kok gak datang-datang Kak?". Cecar Aluna.
"Iya Dek. Kemarin Kakak sibuk. Maaf ya lain kali kita atur waktu". Wanita itu tersenyum.
"Ohh ya nama Kakak siapa?". Tanya Aluna.
"Junika". Senyum Junika manis sekali
Mereka semua menikmati sunset. Leon mencebik kesal karena hanya dia yang tidak memiliki pasangan.
Sementara Aluna dan Alvaro seperti melupakan dirinya yang malah asyik saling sandar-sandaran berdua. Begitu juga dengan Dicky dan Junika.
.
.
.
.
Aluna melangkah masuk kedalam ruamahnya. Tangannya melingkar dilengan kekar Leon. Dia suka sekali bermanja-manja pada Leon.
Leon hanya menghela nafas panjang. Dihibur seperti apapun dia tetaplah pria yang tengah patah hati hebat jadi tidak masuk sama sekali hiburan si Aluna.
"Kak Leon".
"Ehem".
"Apa?". Ketus Alvaro.
"Mau ngajak Kakak ngerampok Bank, biar kita dipenjara berdua". Aluna cekikikan
"Kamu ini mau ngajak Kakak melakukan kejahatan?". Leon menatap tajam
"Lagian Kakak tuh nanya mulu. Turutin aja ngapa? Gak usah tanya-tanya". Ketus Aluna.
"Kalian udah datang?". Sapa Lia.
"Iya Kak". Keduanya menyalimi Lia.
"Bara sama Brayn mana Kak?". Aluna celingak-celinguk mencari putra angkatnya itu.
"Dikamarnya".
"Ya udah dehh Aluna ke kamar mereka dulu". Tangan Aluna terlepas dari lengan Leon.
"Mandi dulu Aluna". Tegur Leon menggeleng
"Ntar aja".
Aluna masuk kedalam kamar dua bocah tampan itu.
"Malam putra-putra Bunda".
"Bunda".
__ADS_1
Keduanya berhambur memeluk Aluna. Sejak Aluna memimpin perusahaan dia jarang sekali memiliki waktu bersama kedua putra angkatnya itu dan lebih sibuk dengan urusannya sendiri.
"Lagi ngapain?".
"Belajar Bunda". Sahut Brayn.
"Ohh ya Bunda punya misi buat kalian berdua". Aluna tersenyum devil
"Apa Bunda? Apa Bunda mau ajak kita nyolong kue Oma?". Tanya Bara polos.
Bukan apa, Aluna sering mengajak kedua putra angkatnya itu untuk mencuri kue buatan Kanti di kulkas. Jadilah Bara dan Brayn yang diomeli Kanti sementara Aluna pura-pura membela. Padahal dia yang menyuruh. Kanti tidak akan marah berlebihan pada cucunya. Kalau sama Aluna kan pasti mengomel terus seperti rel kereta api.
Aluna mencebik kesal "Bukan". Ketus gadis itu "Ayah Leon lagi patah hati. Nah rencananya, Bunda pengen bikin rujak mangga muda pedas".
"Apa hubungannya Bunda?". Tanya Brayn bingung.
"Filosofi mengatakan kalau lagi patah hati itu makan cabe aja banyak-banyak pasti bikin.....". Ucapan Aluna terpotong saat Arya masuk kedalam kamar putranya
"Kamu lagi ngapain Dek?". Tanya Arya curiga "Kamu belum mandi?". Dia melihat Aluna yang masih mengenakan pakaian kantor nya
"Lagi bantuin Bara dan Brayn belajar Kak". Sahut Aluna asal. Tak lupa dia mengedipkan matanya pada kedua putra angkatnya itu. Agar mengiyakan ucapannya.
Dengan wajah polosnya Bara dan Brayn mengangguk.
Arya memincingkan matanya curiga. Aluna kalau sudah masuk kedalam kamar kedua anaknya pasti sedang merencanakan sesuatu. Adik somplak nya itu selalu membuat ulah dan berbuat aneh-aneh.
"Kamu lagi gak ngerencanain buat nyolong kue Bunda lagi kan?". Tuding Arya
"Astaga Kak, jahat amat sihh. Suhuzon terus sama adeknya. Durhaka lho Kak nuduh sembarangan". Ketus Aluna. Padahal dia memang mengajak Bara dan Brayn mengambil mangga Kanti didalam kulkas.
"Kan kamu emang suka bikin Kakak curiga". Ujar Arya "Balik gih ke kamar kamu. Jangan lupa mandi Aluna. Kamu bau keringat". Arya menutup hidungnya. Sebagai seorang dokter dia memiliki tingkat kebersihan yang tinggi.
Kadang Arya heran, kenapa Alvaro bisa tahan memiliki pacar seperti Aluna. Sudahlah ceroboh kuat makan lagi. Arya geleng-geleng kepala.
"Yaellah Kak. Jahat amat sihh. Aluna tuhh masih pengen ngajarin mereka". Memasang muka sedih.
"Ntar aja mandi dulu". Usir Arya "Anak-anak Bunda gak ngajak yang aneh-aneh kan?". Arya mengintrogasi kedua anaknya.
Aluna komat-kamit agar kedua bocah itu tak mengatakan yang sejujurnya.
"Gak kok Pi".
Aluna tersenyum memang partner in crime itu selalu bisa di andalkan. Wajah polos mereka tidak akan terlihat berbohong.
"Syukurlah". Arya bernafas lega "Dek kamu balik lagi ke kamar kamu. Bara sama Brayn mau istirahat". Ujar Arya
"Iya Kak. Gak perlu diusir". Ketus Aluna "Sayang Bunda. Bunda ke kamar dulu ya. Jangan lupa misi kita".
Aluna bertos dengan kedua putra angkatnya itu.
"Iya Bunda".
Arya hanya geleng-geleng kepala salut. Yang menjadi suami Aluna harus punya stok kebesaran yang tinggi. Tingkah jahilnya membuat orang ingin memakannya hidup-hidup.
Arya yakin jika Aluna sedang merencanakan sesuatu bersama kedua putranya. Lihat saja nanti, sebentar lagi akan terjadi perang dunia kelima.
Bersambung...
__ADS_1