Pacarku Presdir

Pacarku Presdir
Pacarku Presdir-50


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Lun".


"Ehhh Mimir, Yuyur. Ada apa?". Aluna tersenyum saat melihat kedua sahabatnya masuk kedalam ruangannya. Memang sudah jam makan siang.


"Makan siang bareng yuk. Udah ditungguin sama para cowok". Ajak Yura.


Sejenak Aluna terdiam. Ingin sekali dia menerima tawaran kedua sahabatnya itu. Tapi dia harus tegas, apalagi ada Rayyan. Aluna tidak mau semakin menyakiti hati Rayyan. Aluna ingin Rayyan bahagia.


"Gak dehh, elu berdua aja". Tolak Aluna membereskan mejanya.


Yura dan Mira heran. Tak pernah Aluna menolak jika diajak makan diluar apalagi bersama Rayyan, Bayu dan Yandi.


"Elu yakin Lun?". Tanya Mira memastikan "Ini ditraktir lho sama Bayu, yakin elu gak mau?". Imbuh Aluna.


"Iya. Udah elu berdua makan aja bareng mereka ya. Sampein salam gue sama Bang Bayu. Bilang ntar aja gue nerima traktiran dia, pas gue lagi tender". Celetuk Aluna.


"Gak kebalik Lun? Kalau tender, harusnya elu yang traktir kenapa malah sebaliknya?". Tanya Yura tak mengerti.


"Dasar oon". Mira menoyor kening Yura.


"Awwww. Mir". Renggek Yura.


"Elu kagak gak tahu Aluna aja". Cibir Mira kesal "Udah ahhh ayo pergi. Bye bye Lun. Makasih elu udah nolak traktirannya Bayu, jadi bagian elu buat gue aja". Ledek Mira sengaja. Dia yakin Aluna akan tertarik untuk ikut mereka berdua.


"Ya udah buat elu aja dehh, dari pada dibuang mubazir kan sayang". Ucap Aluna "Kalau ada sisa jangan lupa bungkusin buat gue ya?". Ujar Aluna terkekeh pelan.


Yura dan Mira berjalan keluar dari ruangan Aluna dengan wajah ditekuk kesal. Ahh tanpa Aluna benar-benar sepi seperti kuburan. Tapi Yura dan Mira juga tidak bisa memaksa Aluna, karena sudah pasti Aluna akan menemukan sejuta cara untuk menolak mereka berdua.


"Aluna benar-benar aneh, gak kek biasanya dia nolak kalau masalah makan". Ucap Mira sambil berjalan masuk kedalam lift.


"Iya gue juga heran Mir. Ada apa ya sama Aluna? Apa dia sama Kak Ray lagi marahan? Tapi mereka gak pernah berantem kok". Sahut Yura.


Mereka berjalan menuju lobby perusahaan. Disana sudah ada Yandi dan Bayu dan menunggu didepan mobil. Mereka satu mobil, karena biasanya Yandi malas membawa mobil


"Sayang".

__ADS_1


Kedua gadis itu berhambur memeluk pasangan mereka masing-masing. Benar-benar asyik punya pasangan yang sama-sama profesi nya. Karena mereka bisa kencan bersama tanpa embel-embel mencari alasan.


"Ayo". Bayu membukakan pintu untuk Yura.


Mereka berempat masuk. Bayu menyetir dan Yura duduk disampingnya. Sedangkan Mira dan Yandi duduk dibangku penumpang.


"Aluna mana? Udah sama Ray?". Tanya Bayu sambil menyetir. Seragam polisi melekat ditubuh kekarnya.


Yura menggeleng "Aluna gak ikut makan sama kita hari ini".


"Kok bisaaa?". Tanya Bayu heran.


"Iya gak biasanya Aluna nolak makan bareng kita". Sambung Yandi


Mira menghela nafas panjang "Kayaknya Aluna lagi ada masalah deh sama Kak Ray, soalnya dia kek menghindari Kak Ray gitu". Tutur Mira


"Marahan? Apa masalah nya? Bukankah selama ini mereka baik-baik aja?". Sambung Bayu heran.


"Kita gak tahu pasti sihh, ini cuma tebakkan doang. Soalnya hari ini tuhh, Aluna berubah banget gak kek biasanya". Ujar Yura.


"Berubah gimananya?". Yandi heran, apa yang berubah dari Aluna.


Lalu Yura menceritakan perubahan Aluna hari ini. Hal itu cukup membuat Bayu dan Yandi tercengang. Rasanya tidak percaya saja jika Aluna berubah seperti itu. Aluna terkenal paling pemalas dan terlambat. Tapi mendengar cerita Yura membuat mereka tidak percaya.


Alvaro keluar dari ruangannya dengan senyum mengembang.


"Ayo Sonny". Ajak Alvaro.


"Baik Tuan". Sonny mengekor Alvaro dari belakang


Hari ini Dicky tidak ikut makan bersama Alvaro karena sedang sibuk mengurus perusahaan mereka yang bermasalah.


Alvaro dan Sonny melangkah kekantin. Langsung suasana menjadi tegang. Pada karyawan memberi hormat kepada Presdir perusahaan itu.


Alvaro tersenyum sumringah saat melihat Aluna tengah duduk sendiri sambil menyantap bakso dan makanan lainnya.


"Boleh gabung?".

__ADS_1


Aluna mengangkat pandangan nya. Matanya membulat saat melihat Alvaro duduk disamping nya.


"Pak".


Aluna tidak bisa berkata apa-apa lagi. Para karyawan iri pada Aluna yang bisa duduk semeja dengan Alvaro. Mereka tidak tahu saja jika Alvaro dan Aluna berpacaran.


Sonny ikutan duduk bersama mereka.


"Bapak pesan apa?". Tanya Aluna gugup. Jangan sampai orang curiga pada nya dan Alvaro.


"Biar Sonny aja yang pesan". Ujar Alvaro "Kamu lanjut makan aja". Ucap Alvaro tersenyum hangat pada gadis itu. Dia tahu jika Aluna tengah gugup.


"Kamu makan sebanyak ini?". Tanya Alvaro menelan ludahnya. Tiga mangkuk bakso dan dua gelas es jeruk.


"Heheh laper banget Pak". Aluna cenggegesan dia lanjut makan.


Sonny benar-benar salut melihat cara makan Aluna yang tidak ada feminim-feminim nya. Bahkan didepan Presdir nya saja seolah sedang berhadapan dengan orang biasa.


"Pelan-pelan". Alvaro mengambil tissue lalu membersihkan bibir Aluna yang bersaus.


Aluna terdiam. Dia berusaha menahan nafas dan jantungnya. Setiap kali berdekatan dengan Alvaro dia merasakan jantungnya lari marathon.


Para karyawan-karyawati berbisik-bisik. Mereka histeris dan terbawa perasaan melihat cara Alvaro memperhatikan Aluna. Sungguh mereka sangat cocok dan menggemaskan.


"Makasih Pak". Aluna memfokuskan kembali pikiran nya pada makanan.


Sedangkan Sonny menatap tak percaya. Dia yakin jika kedua orang ini memiliki hubungan khusus. Terlihat dari cara Alvaro memperhatikan Aluna.


Pesanan Alvaro dan Sonny datang. Mereka ikut makan. Sesekali Alvaro melirik Aluna yang makan dsngan lahap.


Alvaro meletakkan sendoknya. Dia menyangga dagunya dengan tangannya dan memperhatikan Aluna. Rasanya Aluna ingin mendorong Alvaro ke lautan ditatap seperti itu bukan membuatnya salah tingkah yang ada akan membuat banyak orang curiga.


"Bapak gak makan?". Aluna menatap Alvaro tajam


"Nihh orang benar-benar buat bulu gue pada naik dehhh, kalau aja bukan Presdir plus pacar guee, udah gue masukkin dia dalam mangkuk gue, biar jadi bakso daging sekalian". Batin Aluna kesal


"Gak. Saya udah kenyang, liat kamu makan". Alvaro mengedipkan matanya jahil.

__ADS_1


Aluna memalingkan wajahnya. Kesal. Gemes. Geram. Ahhh kenapa dia harus terjerat dengan Presdir-nya itu dan sialnya lagi Aluna mencintai Supir Taksi Online itu. Entah sejak kapan dia jatuh cinta pada Alvaro? Aluna saja tidak tahu kapan.


Bersambung.....


__ADS_2