
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Mobil Leon terparkir didepan caffe yang ditunjukkan oleh Ranny.
Wajah pria itu tampak ditekuk kesal. Pasalnya dia tengah patah hati. Biasanya dalam keadaan patah hati seperti ini. Leon lebih suka menyendiri dan tiduran didalam kamar. Tapi dia juga tidak enak menolak ajakan Ranny.
Kedua dokter itu masuk kedalam. Senyum mengembang diwajah cantik Ranny. Namun tidak diwajah Leon. Dokter tampan yang satu ini tampak lemes, lesu dan tak bergairah
Mereka masuk kedalam ruang VVIP yang dipesan oleh Yandi.
"Kak Leon. Ranny. Ayo masuk. Jangan malu-malu". Ujar Aluna tersenyum ramah. Rasanya dia ingin tertawa melihat wajah kesal Leon.
"Iya Lun". Senyum Ranny, ikutan duduk
"Kak Leon kenapa dengan wajahmu? Kayak baju kusut gak disetrika aja Kak. Kalau Kak Leon mau, Aluna bisa kok pulang kerumah ambil setrikaan trus setrika wajahnya Kak Leon biar rapihhh seperti semula". Ucap Aluna sambil menampilkan rentetan gigi putihnya.
Leon memutar bola matanya malas. Kalau sudah bertemu Aluna, boro-boro dihibur yang ada dia malah diejek habis-habisan. Mereka yang lain hanya bisa menggeleng gemes.
Aluna terus mengoceh bersama Mira dan Yura. Ketiga wanita cantik itu tak bosan-bosannya berisik. Hingga membuat para lelaki menggeleng-gelengkan kepala dan heran entah dari mana kosa kata yang keluar dari bibir Mereka.
Untung saja kedua orangtua Mira sudah pulang duluan. Jika mereka masih ada sudah pasti mereka akan dibuat pusing dengan ocehan para wanita itu.
"Sayang makan tuh gak usah sambil ngomong". Tegur Alvaro sambil membersihkan makanan yang menempel dibibir kekasihnya
"Berhenti mengumbar kesemesraan didepanku Al". Sergah Leon jenggah
"Cie cie cie Kak Leon. Lagi patah hati ya Kak. Turut berdukacita yang sedalam-dalamnya ya Kak. Semoga Kakak diberikan kekesalan ehh salah maksudnya ketabahan. Semoga Kakak cepat dapat ganti.. Ehhh atau gak Kakak sama Ranny aja". Aluna mengerlingkan matanya jahil menatap Leon dan Ranny bergantian.
"Gak usah ngadi-ngadi". Ketus Leon.
Sementara Ranny wajahnya langsung merona gara-gara godaan gadis somplak seperti Aluna.
"Gak usah gengsi Kak Leon. Ntar direbut orang lagi, ntar nyesel, ntar nangis, ntar galau ntar ntar ntar dehhh". Ledek Aluna
Alvaro hanya menghela nafas sambil mengelleng. Aluna ini jago nya buat orang kesal setengah mati. Bukannya dihibur si Leon malah diledekin.
.
.
__ADS_1
.
.
Yandi mengenggam tangan Mira. Satu tangannya lagi dia gunakan untuk menyetir mobil.
"Sayang gimana sama orang tua kamu? Apa dia setuju sama hubungan kita?". Tanya Mira hati-hati sebab dia tahu jika dari dulu orangtua Yandi tidak pernah setuju dengan hubungan mereka berdua.
"Kamu tenang aja. Ini kita mau ketemu mereka". Ucap Yandi tersimpul.
"Tapi aku gugup Sayang".
Yandi mengecup punggung tangan Mira berusaha memberikan kekuatan pada calon nya ini. Menyakinkan Mira bahwa semua akan baik-baik saja.
"Kita hadapi bareng-bareng yaaaaa". Ucap Yandi yakin.
"Kita ajakkin Pak Al sama Ceguguk itu aja yuk. Kalau ada mereka seenggaknya aku gak gugup". Pinta Mira.
"Ya udah kamu hubungi aja Ceguguk itu".
Mira mengambil ponselnya lalu mengirim pesan pada Aluna. Tentu saja harus ada embel-embel makanan. Jika tidak disogok dengan makanan jangan harap Aluna akan mau mengikuti perintah Mira. Gadia itu tidak akan mempan rayuan apapun kecuali makanan. Makanan adalah kelemahannya.
"Udah sayang". Mira menyimpan kembali ponselnya "Sayang aku penasaran dehh, gimana sih kamu kok bisa ngerjain aku gitu?". Tanya Mira heran
"Ya semua ide Ceguguk itu. Aku juga awalnya gak ada niat buat ngerjain kamu cuma mau kasih surprise gitu. Ehhh malah dia bilang suka liat wajah kesel kamu ya udah aku ikutin aja alur nya Aluna". Ujar Yandi sambil terkekeh pelan.
Mira langsung kesal. Dikerjai seperti itu membuatnya ingin memakan Aluna. Sialnya lagi dia terpancing oleh kepolosan sahabat nya itu. Padahal dia sudah tahu tingkah dan kenakalan Aluna, tapi masih percaya pada gadis itu.
Yandi memarkir mobilnya didepan rumah mewahnya. Hari ini kedua orangtuanya memang kembali ke Indonesia, karena ada beberapa urusan bisnis yang akan mereka selesaikan. Yandi tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia akan meminta restu pada kedua orangtuanya.
Yandi dan Mira heran melihat Aluna dan Alvaro yang sudah ada disana. Aluna sudah bermanja-manja dilengan Alvaro seperti anak kecil yang merenggek pada Ayahnya.
"Kok loe udah ada disini Lun?". Tanya Mira heran
"Kan loe tahu kalau gue udah lapar biasanya suka cepat". Sahut Aluna menampilkan wajah polos nya
"Astaga Lun. Tadi loe baru makan lho, astaga". Mira geleng-geleng kepala.
"Makasih Al udah mau datang". Senyum Yandi.
__ADS_1
"Gak apa-apa Yan. Gue ikutan dia aja. Santai". Senyum Alvaro.
"Ya udah ayo masuk".
Keempat orang itu masuk kedalam rumah mewah Yandi. Yandi memang kaya anak kolomrat yang memiliki menjadi abdi negara. Sama seperti Bagi menjadi polisi sempat menjadi perdebatan antara dia dan kedua orangtuanya. Namun Yandi percaya dengan pilihan nya.
"Papi. Mami". Panggil Yandi.
Tampak dua orang paruh baya tengah duduk sambil menikmati kopi. Sang Ayah sibuk dengan buku ditangannya. Sementara sang Ibu sibuk dengan ponsel ditangannya.
"Yandi". Wanita paruh baya itu meletakkan ponselnya dan berhambur kearah sang putra.
"Mami kangen banget sama kamu Nak". Ucapnya memeluk putra bungsunya itu.
"Yandi juga kangen sama Mami". Ucap Yandi memeluk Ibunya.
Sementara Mira menunduk. Ini pertama kalinya dia bertemu orangtua yandi setelah tiga tahun yang lalu dia sempat diusir lantaran dirinya yang tidak memiliki orangtua utuh. Ibu Mira meninggal sejak dia kecil dan dia hanya hidup dengan Ayahnya. Setelah Ayahnya menikah, Mira memilih hidup mandiri karena tidak mau satu atap dengan Ibu tirinya.
"Papi". Yandi juga memeluk Ayahnya.
"Kamu bawa siapa?". Dewi menatap ketiga orang yang terlihat asing dimatanya.
"Hai Tante kenalin Aluna. Teman angkatnya Bang Yayan ehh salah Bang Yandi maksud nya. Ini pacar Aluna, namanya Alvaro. Nahh ini calonnya Bang Yayan, Mimir". Ucap Aluna memperkenalkan diri tak lupa dia mencium punggung tangan kedua orangtua Yandi.
Dewi dan Markus menatap Mira tak suka mereka tidak menyetujui hubungan Yandi dan Mira.
"Mi, ini Mira". Yandi merangkul bahu kekasihnya itu.
Suasana tiba-tiba canggung. Hanya Aluna yang terus mengoceh sedangkan yang lain terdiam dingin.
"Sayang gak usah ngomong mulu, kamu gak malu diliatin terus?". Bisik Alvaro.
"Aku gak malu kok. Cuma emang malu-maluin". Aluna tergelak. Alvaro hanya tersenyum gemes.
Aluna menatap kedua orangtua Yandi yang memang terlihat tidak menyukai Mira. Sementara Mira hanya menunduk sambil Yandi mengenggam tangan wanita itu.
"Bang, ayo donk ngomong. Perut gue udah lapar, loe tahu kan kalau perut gue lapar suka ngamuk plus pengen makan orang". Bisik Aluna pada Yandi
Yandi mendelik kearah gadis itu yang tersenyum tanpa dosa. Bagaimana Mira dan Yura tidak salut, dicaffe tadi Aluna makan sangat banyak dan sekarang lapar lagi, apa isi perut Aluna itu karet pikir Yandi
__ADS_1
Bersambung....