Pacarku Presdir

Pacarku Presdir
Pacarku Presdir-95


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Sonny dan Emma hanya kikuk menyaksikan kemesraan dua pasangan yang tengah kasmaran itu.


Sonny menyetir, sedangkan Emma duduk disamping kedua.


"Grandfa sama Grandma mau datang ke Indonesia. Katanya mau liat perkembangan perusahaan kamu". Ucap Alvaro.


Kening Aluna berkerut "Bukannya Grandma bilang pas tepat enam bulan?". Ujar Aluna "Gimana bisa datang bulan depan? Targetnya aja belum kelar". Protes Aluna


"Ya mereka datang kan cuma buat liat doang sayang. Bukan mau nagih janji". Alvaro geleng-geleng kepala


"Ya kali aja. Kek rentenir". Ujar Aluna.


Gadis itu tampak berpikir keras. Calon Kakek-neneknya akan datang ke Indonesia untuk melihat perkembangan butik dan Perusahaan nya. Tidak masalah. Hanya saja, Aluna ingin mencapai target lebih. Dia ingin membuktikan pada kedua orang itu bahwa dia bisa.


"Pak Sonny, putar arah ke butik saya ya". Perintah Aluna.


"Lho kok balik sayang?". Tanya Alvaro heran.


"Ada urusan bentar". Sahut Aluna.


Gadis itu mengambil ponselnya. Dia tampak sibuk mengotak-atik.


"Sayang". Alvaro mendesah "Katanya mau nonton bareng Leon. Kok kita balik ke butik?". Alvaro tak habis pikir. Apalagi yang akan Aluna lakukan dibutik nya.


"Diam Kak. Gak usah banyak tanya". Ketus Aluna.


Sonny dan Emma tersenyum simpul mendengar pertengkaran singkat kedua pasangan itu. Alvaro mana menang jika masalah bicara dengan Aluna. Kekasihnya itu makhluk ajaib yang sulit ditaklukan.


Sampai dibutik Aluna. Gadis itu langsung turun. Tampak butik sudah mulai tutup karena jam sudah menunjukkan pukul lima sore.


Aluna turun dan diikuti oleh tiba orang yang masih dalam keadaan bingung. Tadi gadis itu mengajak mereka nonton. Tapi seketika berbalik kembali ke butik.


"Selamat sore Bu. Tumben ke sini sore-sore?". Satpam yang bertugas berjaga disana bertanya pada Aluna yang tak pernah biasanya datang sore.


"Lagi mageran Kang". Sahut Aluna asal


Satpam itu terkekeh "Ibu mau masuk?". Aluna mengangguk "Selamat sore Presdir Al". Sapanya


Alvaro hanya merespon dengan anggukan. Dia masih menatap kekasihnya itu dan entah apa yang akan dilakukan oleh Aluna.


"Buka Kang".


"Baik Bu".

__ADS_1


Satpam itu membuka butik Aluna. Butik ini memang dijaga ketat. Pikiran Aluna yang paranoid itu takut jika ada yang mencolong baju-baju rancangannya.


Mereka bertiga mengikuti Aluna masuk. Ingin bertanya tapi Aluna selalu menjawab ketus.


"Ayo Kak". Aluna mengandeng tangan Alvaro.


Sementara Sonny dan Emma mencebik kesal. Tadi sudah senang bukan main diajak nonton di bioskop. Maklum, Sonny si asisten sibuk itu tidak pernah berleha-leha atau sekedar menghibur diri. Selalu disibukan dengan perintah Alvaro yang setinggi gunung itu.


"Ayo Kak duduk. Kak Emma. Pak Sonny. Silahkan duduk yaaa". Mereka menurut saja.


"Baik Bu". Sahut Sonny dan Emma.


Sementara Alvaro menghela nafas berat. Jangan sampai Aluna berbuat ulah lagi. Alvaro cukup syok mendengar cerita Leon saat Aluna memaksa nya makan mangga muda pedas dan bodohnya lagi Leon mau-mau saja.


"Sayang sebenarnya kita mau apa sihh kesini? Kamu bilang mau nonton bareng Leon dan Dicky. Tapi kenapa kita malah kesini? Ntar mereka nungguin lho disana?". Seperti nya Alvaro perlu berlatih untuk sabar menghadapi kekasih anehnya itu. Namun bagaimana pun kelakukan Aluna bukannya jengkel Alvaro malah cinta.


"Diam bentar Kak. Mereka mau kesini kok". Sahut Aluna santai "Kalian tunggu bentar yaa?". Aluna berjalan keluar


"Benar kata Pak Helmi kalau Ibu Aluna itu aneh tapi menggemaskan. Hadehhh jangan sampai aku dibuat kelimpungan nanti dengan perintah anehnya". Batin Emma sambil menghela nafas panjang


Aluna menghampiri Kang Paijo, satpam yang bertugas menjaga butiknya.


"Ada yang bisa saya bantu Bu?". Tanya Paijo sopan sambil tersenyum hangat.


"Kang tolong beliin ini yaaa". Aluna memberikan selembar kertas.


"Sebanyak ini Bu? Kayak mau pesta?". Paijo memasukan kertas itu kedalam saku bajunya.


"Iya Kang, lagi ada syukuran". Sahut Aluna asal.


"Baik Bu". Paijo membeli pesanan Aluna.


Gadis itu bersantai didepan butik sambil menunggu Leon dan Dicky. Dia sudah menghubungi kedua orang itu untuk ikut bergabung dengannya.


Tidak lama kemudian dua mobil mewah datang. Leon dan Ranny keluar dari mobil disusul oleh Dicky dan Junika.


Aluna tidak pernah lagi mengajak Mira dan Yura, lantaran status yang sudah berbeda dan kedua sahabatnya itu sedang berbadan dua.


Wajah Leon dan Dicky ditekuk kesal. Bagaimana tidak, mereka berdua sudah smali dibioskop dan membeli cemilan serta sudah duduk dibangku. Tiba-tiba Aluna menelpon jika acara nonton mereka dibatalkan. Oleh karena butiknya sedang berulang tahun.


"Akhirnya kalian datang juga". Aluna tersenyum tanpa dosa.


Leon mencebik kesal "Kamu tuh yaa aneh-aneh. Kakak udah hampir karatan nunggu disana kamu malah suruh kumpul disini. Gak habis pikir". Gerutu Leon.


"Sttttttttttt. Gak usah marah mulu Kak. Gak malu sama Ranny". Celetuk Aluna.

__ADS_1


"Apa hubungannya sama gue Lun?". Ranny terheran-heran sendiri.


"Ya kan loe gebetannya Kakak gue yang gak laku-laku itu".


Leon dan Ranny memutar bola matanya malas. Aluna suka menggoda keduanya. Dan alhasil membuat Leon dan Ranny salah tingkah dan menjadi canggung.


"Pak Dicky. Kak Junika". Aluna tersenyum ramah.


Dicky mencebik kesal "Gak usah panggil Dicky. Panggil nama aja. Gue lebih suka dipanggil nama. Lagian kita diluar pekerjaan". Ujar Dicky.


"Loe benar Bang. Gue panggil Abang aja, biar serasi sama Kak Junika". Aluna cekikikan.


"Ayo masuk".


Mereka masuk mengikuti Aluna. Leon geleng-geleng kepala gemes. Aluna pasti akan membuat ulah lagi. Lihat saja beberapa jam ke depan. Pasti dia akan naik darah oleh tingkah adiknya itu.


Disana sudah ada Alvaro, Sonny dan Emma yang menunggu.


"Kalian disini juga?". Tanya Alvaro heran.


"Yah gara-gara pacar aneh loe itu". Cibir Dicky sambil duduk "Ayo sayang". Dicky menarik tangan Junika agar duduk disampingnya.


"Nahh semuanya udah kumpul. Kalian dengarin yaaa?". Aluna mengeluarkan kertas didalam tasnya


"Kata Pacar tadi bulan depan calon Kakek-nenek bakal datang kesini. Nahh karena aku lihat, butik ini gak rapi-rapi amat jadi aku mengundang kalian secara resmi untuk membantu membersihkan butik ini". Jelas Aluna santai dan enteng.


Benarkah kata Leon bahwa sebentar lagi Aluna akan membuatnya marah.


"Ck, gak bisa gitu donk Lun". Protes Leon.


"Iya Lun. Tega amat loe nyuruh kita beres-beres, kan ada cleaning service kenapa harus kita?". Dicky juga ikutan protes


"Iya sayang. Kan ada petugas khusus". Alvaro ikut menimpali.


Sementara yang lain hanya terdiam sambil menggeleng gemes. Dipikir ada apa ternyata oh ternyata Aluna mengajak mereka gotong royong membersihkan butiknya


"Gak usah protes. Ntar gak aku kasih makan lho kalian". Celetuk Aluna menyimpan kertasnya "Tenang aja. Setelah beres-beres butik. Ntar kita lanjut nonton".


"Filmnya udah habis". Ketus Leon kesal.


"Tenang aja". Aluna mengeluarkan DVD dari tasnya "Tarrraaaaaaa". Aluna menujukkan DVD itu "Jadi mari kita beres-beres bersama".


Meski mengerutu dan kesal Leon tetap mengikuti perintah Aluna. Begitu juga Dicky dan Alvaro. Sonny dan Emma hanya bisa menggeleng saja. Junika dan Ranny juga ikut membantu.


Bayangkan Alvaro dan Dicky yang seorang Presdir perusahaan ternama harus ikut mengepel, menyapu dan menggelap kaca. Paling membuat Dicky dan Leon kesal mereka berdua mendapat tugas membersihkan toilet. Saat ingin protes Aluna sudah lebih dahulu menyela.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2