
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Kenapa tuh muka Kak?". Aluna duduk disamping Leon sambil meletakkan dua gelas teh hangat beserta toples tempat cemilan Aluna.
"Lagi galau". Ketus Leon.
"Cihhh, bisa juga Dokter kek Kakak galau?". Sindir Aluna menyesap tehnya.
"Kakak manusia Lun". Sahut Leon setengah kesal.
"Yang bilang Kakak manusia alien siapa?". Ujar Aluna.
"Udah lah ngomong sama kamu bikin stress aja". Gerutu Leon.
Aluna malah terkekeh. Yakin saja jika Leon sedang bermasalah dengan hatinya ehh maksudnya dengan hubungan asmaranya.
"Gimana hubungan kamu sama Al?". Tanya Leon ikut mencomot cemilan Aluna.
"Baik. Lancar. Seperti biasa". Jawab Aluna.
"Kakak kalau ada masalah cerita aja sama Aluna. Dijamin masalah Kakak pasti bertambah". Aluna cekikikan sendiri.
Sedangkan Leon memutar bola matanya malas. Bukannya dia dihibur malah semakin dibuat kesal oleh kelinci kecil.
"Dasar adek durhaka". Kesal Leon "Harusnya kamu tuhh hibur Kakak kek. Apa kek gitu. Malah dibuat semakin kesal". Gerutu Leon.
"Hehhe habisnya Kakak tuh galau mulu. Makanya Kak banyakin makan biar gak makan hati". Seru Aluna.
Leon hanya bisa mencebik kesal. Lama-lama bersama Aluna semakin membuatnya kesal saja.
"Gak mau cerita nihh?". Aluna melirik Leon.
Leon menghela nafas pelan "Kakak lagi ngejar cewek. Tapi susah banget, dia nya cuek dan jutek. Kakak juga baru tahu kalau dia udah dijodohin. Padahal Kakak suka sama dia". Sahut Leon lemes bestieeee
"Hahahahah.... Cie cie cie yang ditolak. Udah turun pasaran Kak. Buka harga murah aja Kak, pasti laku kok wkwkwkw". Ledek Aluna tertawa terbahak-bahak.
"Kamu ini".
Leon mengacak rambut Aluna. Bukannya dia dihibur atau dikasih saran, malah diledek habis-habisan. Pake turun pasaran lagi.
"Ihhhh Kakak". Pekik Aluna memukul lengan Leon.
__ADS_1
Drt drt drt drt drt
Aluna melihat telponnya. Dia berjingkrak senang saat melihat siapa yang menelpon.
"Kak Aluna balik kamar dulu. Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya ya Kak". Aluna menyalimi Leon sambil mengecup punggung tangan pria itu tak lupa dia menahan tawa.
Satu... Dua.. Tiga.
"Kabur".
"Alunaaaaaaaaaaaaaaaa". Nafas Leon memburu menahan kesal. Gadis itu sungguh membuatnya pusing kepala.
Aluna masuk kedalam kamarnya dengan tertawa puas. Apalagi melihat Leon yang kesal. Ahh dia jadi ingat pada pacarnya sendiri
"Selamat malam Pacar". Sapa Aluna. Tak lupa dia berbaring sambil memeluk si Jolly kesayangannya.
"Malam juga sayang. Belum tidur?". Tanya suara lembut diseberang sana.
Begitulah keduanya. Sesibuk apapun pekerjaan dan urusan mereka, selalu meluangkan waktu untuk sekedar mengobrol. Karena ketika mendengar suara satu sama lain, ada rasa tenang yang dirasa dalam hati.
.
.
.
.
"Jadi makin cinta". Alvaro menggeleng gemes.
Alvaro keluar dari kamarnya. Dia menuju ruang keluarga. Disana ada Zein dan Jane yang sedang sibuk dengan urusan masing-masing.
Zein yang tampak fokus membaca buku. Sementara istrinya sibuk dengan ponsel ditangannya.
"Dad. Mom".
"Son". Zein menutup bukunya dan menatap putranya dengan senyum "Bagaimana dengan perusahaan?". Tanyanya meletakkan buku yang dia baca.
"Seperti biasa Dad. Omset semakin bertambah". Senyum Alvaro bangga.
"Gimana hubungan kamu sama Aluna?". Jane ikut nimbrung dia meletakkan ponselnya.
__ADS_1
"Baik Mom". Sahut Alvaro.
"Kapan kamu ajak Daddy dan Mommy ketemu orang tua Aluna? Mom udah gak sabar lamar dia buat kamu". Jane tersenyum sumringah.
Alvaro tersenyum, dia senang jika Ibunya menyukai calon nya. Itu tandanya hubungan mereka direstui.
"Aluna butuh waktu Mom. Dia pengen kami saling kenal dulu". Jawab Alvaro.
"Gak usah lama-lama Al. Takut Aluna direbut orang lho. Aluna itu gadis langka, pasti banyak banget cowok yang ngejar dia".
Alvaro malah tersenyum. Dia juga tahu itu. Tapi Alvaro percaya bahwa Aluna adalah jodohnya. Meski banyak yang mengejarnya. Aluna takkan berpaling dan akan tetap setia padanya.
"Kalau jodoh gak bakal diambil orang kok Mom. Lagian apa yang Aluna bilang bener. Lebih baik kami saling kenal dulu, dan gak terburu-buru. Takut nyesal ntar".
Zein merasa senang melihat Alvaro yang sudah dewasa. Biasanya Alvaro itu adalah pria yang cemburuan dan posessif tapi semakin lama dia berpacaran dengan Aluna semakin baik juga perubahan sikapnya.
.
.
.
.
"Morning sayang". Bayu mengecup bibir Yura sekilas.
"Morning juga sayang". Balas Yura "Kamu dinas pagi kan?". Bayu mengangguk "Aku udah siapin bekal buat kamu". Yura menunjukkan bekal yang dia buat. Hidup mandiri dan sendiri, Yura terbiasa dengan hal yang berbau dapur.
"Makasih istriku cantik". Ujar Bayu.
Yura tersipu malu. Maklum pengantin baru pasti lagi hangat-hangatnya.
"Aku anterin ya kekantor. Sekalian aku berangkat dinas".
"Iya sayang".
Keduanya bersiap-siap. Setelah menikah Bayu tetap memutuskan tinggal di Apartement milik nya. Bukan dia tidak mau tinggal bersama orang tua. Karena memang seharusnya setelah menikah hidup dirumah sendiri lebih baik.
Bayu akan bekerja lebih keras lagi. Dia berencana akan membeli rumah mewah untuknya dan Yura. Bukan dia tidak mau menerima pemberian orangtuanya. Hanya saja dia tidak mau bergantung pada orang tuanya. Dia ingin berusaha dan berhasil dengan kerja kerasnya sendiri.
Meski terlahir dari keluarga kaya. Namun itu tak membuatnya sombong dan memanjakan diri dengan kemewahan. Bayu memilih jalannya sendiri. Ketika dipaksa kuliah bisnis dan melanjutkan perusahaan sang Papa. Dia lebih memilih mengambil akademik kepolisian dan menjadi abdi negara. Meski sempat ditolak keras oleh Anggara tapi Bayu berhasil membuktikan bahwa dia bisa berdiri diatas kakinya sendiri.
__ADS_1
Bersambung.......