Pacarku Presdir

Pacarku Presdir
Pacarku Presdir-70


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Alvaro menghela nafas panjang. Pria itu tampak sedang berpikir.


"Sampai kapan loe akan bingung?". Sindir Dicky yang mulai jenggah.


"Iya Al. Kamu mau ngomong apa sih sebenarnya?". Leon ikut menyambung. Dia sampai rela meninggalkan dinas malamnya demi menemui Alvaro.


"Gue pengen ngelamar Aluna. Masalahnya gue belum pernah buat acara romantisan gitu. Makanya gue minta tolong loe berdua". Jelas Alvaro


"Kalau urusan begituan gue jago nya". Ucap Dicky menyombongkan diri.


"Saranku sihh sebaiknya gak usah buat yang romantis-romantisan. Kamu tahu sendiri kan Al, Aluna orangnya gimana? Yang ada kamu bakal naik darah kalau ajakkin Aluna yang romantisan gitu". Ujar Leon.


Alvaro tampak berpikir. Ada benarnya yang diucapkan Leon. Aluna itu wanita yang sulit ditebak.


"Ya trus harus gimana?". Alvaro mendesah pelan. Ini lah akibat nya punya pacar langka, jadi susah sendiri.


"Ehem. Mending kamu ajak dia jalan dipantai aja, kalau gak ajak makan. Tapi jangan ajak dia belanja, tuh cewek benar-benar gak suka belanja". Sahut Leon.


"Serius Aluna tuh gak suka belanja?".


Leon mengangguk karena memang benar. Bahkan untuk belanja kebutuhan nya saja kadang Aluna meminta bantuan Mira dan Yura, karena dia risih belanja dan setelah belanja dia selalu stress memikirkan saldo ATM nya.


Ketiga pria itu terdiam sejenak. Tampak sibuk dengan pikiran masing-masing. Alvaro sengaja memanggil kedua sahabatnya disini, karena kedua orang ini sudah pengalaman jika masalah percintaan. Jika Aluna itu seperti gadis pada umumnya mungkin Alvaro tidak sepusing ini. Tinggal ajak belanja, jalan-jalan atau liburan. Tapi Aluna berbeda, gadis ini hanya hobby makan saja. Menonton itu pun harus film kesukaan nya jika bukan jangan mimpi Aluna mau diajak.


"Ya udah gini aja Al. Kamu siapin dinner romantis plus makanan kesukaan Aluna. Aku yakin dia bakal senang kalau diajak makan. Trus jangan lupa porsi nya lebihin". Ucap Leon.


"Bussyyeeeet. Serakus itu Aluna?". Tanya Dicky tak percaya padahal dia pernah dibuat tercenggang oleh gadis itu.


"Bukan rakus. Dia cuma hobby makan". Bela Alvaro tak rela jika kekasih unik nya itu dibilang rakus makan.


"Leon kamu bantuin aku yaaa?". Pinta Alvaro


"Iya Al. Sebisa ku". Senyum Leon.

__ADS_1


.


.


.


.


"Loe lagi ngapain Lun?". Tanya Mira saat ini mereka sedang berada di Apartement Bayu dan Yura


"Lagi mikirin nerima lamaran Pak Al". Sahut Aluna mengotak-atik ponsel nya.


"Serius loe dilamar Pak Al?". Mira dan Yura langsung mencecar Aluna


"Bercanda. Ya serius lah". Ketus Aluna "Masalahnya Bunda lagi ngambang". Aluna merebahkan kepalanya diatas meja.


"Lah bukannya loe bilang, Bunda udah setuju. Tinggal bawa orangtua Pak Al. Kenapa jadi bingung sekarang?". Tanya Yura heran. Suaminya dinas malam jadi Mira dan Aluna diminta untuk menemani Yura malam ini.


"Gak gitu juga dodol". Ketus Aluna "You know my Mom don't like my boyfriend because he is Presdir". Sahut Aluna lemes.


"Loe kan tahu pacar gue bule?". Ujar Aluna tanpa rasa bersalah.


"Lagian kenapa Bunda gak suka sama Pak Al, apa yang salah sama Presdir? Bukan nya harusnya bangga yaa punya menantu Presdir?". Ucap Mira bingung


"Konteksnya beda Mimir". Sahut Aluna "Bunda tuh trauma masa lalu. Pacarnya direbut cewek lain, pacar nya itu juga orang kaya seorang pemimpin perusahaan yang tega menghianati nya. Makanya sampe sekarang Bunda masih keingat mulu. Andai gue punya sihir gue buat Bunda lupa ingatan". Ucap Aluna. Ucapannya sudah mulai menyeleneh.


"Mau jadi anak durhaka loe?". Mira geleng-geleng kepala


"Mau jadi anak berbaktilah biar masuk surga". Jawab Aluna kesal.


"Udah gak usah mikirin mulu, dikulkas gue punya brownies loe berdua mau gak?". Tawar Yura


"Mau Yur. Agak banyakin yaa". Aluna langsung semangat kembali. Jika makan dia tidak akan bisa menolak.


Mira dan Yura geleng-geleng kepala. Tadinya Aluna galau tapi ketika mendengar nama makanan gadis itu ceria kembali.

__ADS_1


.


.


.


.


"Ya bangun, Ya bangun". Rayyan menepuk-nepuk pipi Alya "Jangan bercanda Ya. Aku mohon buka mata kamu". Namun Alya tak bergeming sama sekali.


Wajah Alya tampak pucat. Dari tadi wanita itu mengeluh sakit pada Rayyan. Tapi Rayyan malah tidak peduli. Dia pikir Alya bercanda, karena biasanya wanita itu akan melakukan berbagai cara agar menarik perhatian nya.


Tapi kali ini Alya terlihat kesakitan. Wajah gadis itu pucat sekali tanpa darah.


Rayyan mengendong Alya menuju mobilnya. Dia panik. Apalagi tinggal dinegeri orang. Tidak ada orang Indonesia selain mereka berdua. Ada pun tapi berbeda fakultas.


"Yaa bangun Ya bangun. Buka mata kamu yaaa". Rayyan masih belum puas. Dia tetap membangunkan Alya.


Rayyan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan kampus. Dia panik bukan main. Tidak pernah dia melihat Alya sepucat itu. Biasanya gadis ini selalu menampilkan wajah ceria nya.


Sampai dirumah sakit Rayyan langsung memanggil para perawat membawakan brangkar untuk Alya. Bagaimana pun Alya tanggung jawab nya. Bukan Rayyan tidak tahu jika Alya mengambil kuliah S2 di Inggris itu karena diri nya. Jika sampai terjadi sesuatu pada Alya tentu dia yang akan merasa bersalah.


"Silahkan anda menunggu Tuan". Ucap salah satu perawat menahan Rayyan ketika lelaki itu hendak masuk.


Rayyan menunggu didepan ruangan Alya. Pria itu mondar-mandir tidak jelas. Takut terjadi sesuatu pada Alya dan Rayyan akan sangat merasa bersalah. Apalagi dia sempat mengabaikan Alya.


"Yaa kamu harus baik-baik aja. Kumohon jangan aneh-aneh. Maafin aku yang gak peduli sama kamu selama ini". Gumam Rayyan mengusar wajahnya kasar.


Untung saja Nenek Lampir Marissa tidak lagi mengejarnya. Jika Marissa juga mengejarnya maka Rayyan akan dibuat pusing lagi oleh tingkah wanita yang satu itu.


Rayyan berdiri duduk berdiri duduk. Kenapa dokter lama sekali? Tidak. Tidak. Alya pasti baik-baik saja. Gadis itu pasti hanya kelelahan saja. Ya kelelahan, ujar Rayyan.


Bersambung....


Cie cie Rayyan panik pas Alya pingsan. Jangan-jangan Babang Rayyan udah kecantol cinta Alya yaaa, cie

__ADS_1


__ADS_2