
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Alya memesan taksi online. Dia berusaha menahan tangisnya. Ada apa dengannya? Kenapa dia bisa mencintai pria yang baru dia temui dua kali? Alya tak habis pikir dengan hatinya sendiri. Harusnya dia sadar diri, bahwa Rayyan takkan pernah bisa membuka hati untuknya. Terlihat sekali jika pria itu mencintai calon Kakak Iparnya.
Sampai di Mansionnya, Alya langsung turun dengan wajah ditekuk kesal. Dia mengerutu dan marah tapi entah pada siapa? Rayyan? Rasanya tidak pantas jika Rayyan marah pada Rayyan, mereka tidak memiliki hubungan apapun bahkan bertemu pun baru dua kali.
"Kamu kenapa?". Tanya Jane yang heran melihat putrinya komat-kamit tidak jelas
"Gak". Jawab Alya ketus "Kakak gak pulang malam ini. Dia lagi dirumah sakit". Ucap Alya.
Kening Jane berkerut "Ngapain Al dirumah sakit? Siapa yang sakit? Al sakit?". Cecar Jane.
"Kak Nana sakit". Sahut Alya "Asam lambungnya kambuh". Sambung Alya.
"Astaga, gimana keadaan nya? Apa Aluna baik-baik aja?". Cecar Jane.
"Gak tahu. Liat aja sendiri". Alya melenggang masuk kekamar nya.
Jane menatap Alya heran. Tak biasanya putrinya itu ketus jika membicarakan Aluna. Biasanya Alya sangat antusias jika masalah Aluna, karena dia menyukai calon Kakak iparnya itu.
.
.
.
.
"Kenapa wajah elu Yur?". Tanya Mira duduk disamping Yura sambil membawa makanan yang dia pesan.
"Tanpa Aluna tuhh hampa banget". Jawab Yura lemes "Meski sering bikin kesel, buat tensi naik dan bikin cepat tua. Tapi kalau gak ada dia bagai sayur tanpa garam. Hambar". Celetuk Yura menjelaskan hidupnya tanpa Aluna.
"Iya Yur. Elu benar, gue juga ngerasa hampa tanpa dia". Sahut Mira "Ya udah pulang dari kantor, kita jengguk aja dia. Gue kangen banget mau noyor kening tuh anak". Mira sedikit terkekeh menghibur perasaan nya yang tidur Aluna.
"Ya udah balik kerja aja. Sekalian ajak pacar kita dan Kak Ray". Mira mengangguk.
Mereka berdua makan. Sejak Aluna dirawat dirumah sakit kedua gadis berisik itu benar-benar hidup hambar. Aluna seperti cahaya untuk hidup mereka berdua. Mereka memang bersahabat sejak kecil, bahkan satu pakaian, satu makan dan satu tempat tidur. Aluna adalah gadis yang humble pada siapapun. Dia mudah bergaul apalagi sosoknya yang berisik dan lucu membuat siapapun merasa nyaman didekat nya.
Jam pulang. Setelah pekerjaan selesai. Mereka berdua segera membereskan meja kerja dan keluar dari ruangan.
"Yura. Mira".
Andre setengah berlari menghampiri kedua gadis itu.
__ADS_1
"Heh Pak Andre". Yura tersenyum manis. Andre ini memang tampan, manis karena keturunan Batak.
"Ada apa Pak?". Tanya Mira.
"Kalian mau jengguk Aluna?". Kedua gadis itu mengangguk secara bersamaan "Saya boleh ikut?".
"Ya udah ayo Pak".
Yandi dan Bayu sudah menunggu kekasih mereka dilobby perusahaan. Seragam polisi masih melekat ditubuh kekar mereka.
"Sayang". Yura bergelut manja dilengan Bayu. Bayu tersenyum simpul.
"Ayo".
Sampai dirumah sakit. Kelima orang itu langsung masuk dan berjalan sedikit cepat karena mereka ingin segera bertemu Aluna.
"Lun".
Mira dan Yura berhambur memeluk Aluna. Rindu sekali pada gadis berisik itu.
"Yur. Mir. Elu berdua mau bunuh guee". Pekik Aluna ketika kedua sahabatnya memeluknya erat hingga membuatnya sedikit susah bernafas.
"Hehe maaf Lun. Kita berdua kangen banget sama elu". Sahut Yura sendu. Bukan bohong dia benar-benar rindu Aluna.
Mira dan Yura mengendus kesal. Baru saja ingin melepas rindu, tapi sudah dibuat kesal oleh Aluna. Aluna seketika bisa buat orang naik darah tinggi.
"Gimana keadaan elu Lun?". Tanya Yandi.
"Gue mah sehat Bang". Sahut Aluna "Disini enak, tempat tidurnya mpuk. Diperhatiin. Diingatin jangan lupa makan dan minum obat. Tiap hari ketemu dokter-dokter ganteng lagi, gue mah betah-betah aja disini Bang". Celetuk Aluna.
"Ehem". Alvaro berdehem "Kamu gak usah banyak ngomong istirahat aja". Ujar Alvaro.
"Gak enak donk Pak. Masa saya tiduran pas lagi dijengguk, saya kek sakit patah aja". Tungkas Aluna kesal. Alvaro hanya terkekeh.
Andre menatap kedua orang itu dengan penuh tanda tanya. Banyak sekali yang ingin Andre tanyakan pada Aluna. Tapi dia tidak memiliki kesempatan dan keberanian.
"Ehhh Pak Andre. Makasih Pak udah datang". Ucap Aluna tersenyum ramah.
"Iya Lun". Balas Andre "Kamu cepat sembuh ya. Kantor sepi kalau gak ada kamu". Sahut Andre.
"Iya Pak, saya udah tahu kalau semua orang pasti kangen saya. Bilang mereka Pak, saya juga kangen". Celetuk Aluna.
Mereka hanya menggeleng gemes mendengar ucapan Aluna. Dia memang percaya diri tinggi. Tidak pernah merasa malu apalagi gengsi. Tapi kadang-kadang Aluna juga insecure dan merasa tidak cantik. Padahal Aluna yang paling cantik diantara mereka.
__ADS_1
"Elu cepat sehat ya Lun. Gak elu bagai sayur tanpa garam". Ucap Yura sendu sambil mengenggam tangan Aluna.
"Iya Lun. Jangan betah-betah disini, kita kangen banget makan bareng elu". Sambung Mira.
"Gue tahu itu. Makanya elu jangan sering kesel sama gue, kualat kan jadi nya pas gue kagak ada elu pada kangen gue...".
"Elu.......".
"No protes. No debat. Emang gue paling ngangenin. Gak apa-apa ngomong jujur aja, gue ngerti kok". Aluna cekikikan melihat wajah kesal kedua sahabatnya.
Setelah lama mengobrol mereka berpamitan pulang pada Aluna. Sudah cukup Yura dan Mira melepaskan rindu pada Aluna. Meski akhirnya mereka akan dibuat kesal dengan ucapan Aluna yang membuat kepala mereka sakit mendengar keberisikkan Aluna yang tiada duanya.
Benar kata pepatah orang baik mudah didapat kan dimana saja. Tapi orang yang menyenangkan akan membuat siapa saja yang berada didekatnya ingin berlama-lama.
"Udah kamu istirahat gihh gak usah ngomong malu". Ucap Alvaro menggeleng gemes. Hanya mereka berdua saja Aluna masih mengomel tidak jelas.
"Bapak gak pulang?". Tanya Aluna heran.
Sudah tiga hari dirumah sakit tapi lelaki itu tidak juga pulang-pulang kerumah.
"Selama kamu disini saya juga disini". Sahut Alvaro.
Entah kenapa jantung Aluna berdegup saat Alvaro berbicara seperti itu. Ada sesuatu yang hangat menjalar dihatinya.
"Tapi saya gak mau ngerepotin Bapak. Apalagi kita cuma pacar boongan". Ucap Aluna.
Alvaro menghela nafas pelan. Dia duduk dibibir ranjang Aluna.
"Aluna kamu masih gak ngerti juga apa yang udah saya lakuin buat kamu?".
Aluna menggeleng dengan cepat "Emang apa artinya Pak?". Tanya Aluna tak mengerti.
Tangan Alvaro memegang kedua bahu gadis itu. Dia tersenyum hangat dan simpul. Betapa cantiknya gadis ini. Gadis penyewa dan gadis yang sudah berani mengatakannya Supir Taksi Online.
"Saya suka sama kamu".
**Bersambung.....
Penasaran dengan reaksi Aluna???
Yuk ikutin terus.
Jangan lupa tanda cinta nya buat author ya**....
__ADS_1