Pacarku Presdir

Pacarku Presdir
Pacarku Presdir-36


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Rayyan masuk kedalam ruangan nya dengan langkah lesu. Dia tak bersemangat sekarang. Apalagi ketika mengingat Aluna dan Alvaro, semakin membuat pria itu merasa bahwa dunianya hancur.


Rayyan duduk dikursi nya. Dia baru saja menyelesaikan satu mata kuliah nya siang ini.


"Keadaan Aluna gimana ya? Apa aku ke rumah sakit aja?". Dia bergumam sendiri.


"Pokoknya aku harus rebut hati Aluna. Aku yakin kalau Aluna gak cinta sama Al". Rayyan melangkah berdiri "Selama janur kuning belum melengkung, aku masih berhak perjuangin Aluna". Seru Rayyan dengan semangat nya.


Rayyan mengambil tasnya lalu keluar dari ruangannya. Dia berjalan dengan sedikit tergesa dikoridor kampus.


Brakkkkkkkkkkk


"Awwwwww". Rintih seorang gadis


"Maaf. Maaf". Rayyan membantu gadis itu berpikir.


"Kamu........". Ucap mereka berdua serentak.


Secepatnya Rayyan melepaskan tangannya dari tubuh gadis itu.


"Kamu emang punya hobby nabrak orang ya?". Sindir Alya.


"Maaf gak ada waktu". Rayyan melenggang pergi.


"Ehhh enak aja main pergi-pergi". Alya menahan Rayyan.


"Ada apa?". Tanya Rayyan dingin "Saya gak punya waktu". Ketus Rayyan.


"Sama mau nebeng, tadi gak bawa mobil". Ucap Alya cenggesan.


"Emang tadi kamu kesini pake apa?". Tanya Rayyan heran.


"Taksi".


"Ya udah naik taksi aja". Ucap Rayyan.


"Ehhh enak aja. Kamu udah nabrak saya jadi tanggung jawab donk buat anterin saya". Kesal Alya.


"Kenapa saya harus tanggung jawab emang kamu hamil?". Rayyan menggeleng tak habis pikir.


"Ya udah hamilin aja saya, biar ditanggung jawabin". Alya tersenyum menggoda.


Sedangkan Rayyan hanya menggeleng kan kepalanya. Dia berjalan meninggalkan Alya. Alya mengekor dari belakang dan berusaha mengejar Rayyan.


Tujuan Alya datang ke kampus memang untuk mencari tahu tentang Rayyan.

__ADS_1


"Ehhh Tuan tunggu". Pekik Alya memanggil Rayyan.


Namun Rayyan tak menggubris wanita itu. Dia sama sekali tidak tertarik pada Alya. Bagi Rayyan hanya Aluna saja lah yang pantas menjadi pendamping hidupnya. Meski kini gadis itu akan menjadi milik orang lain.


Alya membuka high heelsnya dan mengejar Rayyan. Tak peduli dia dilihat oleh mahasiswa dan mahasiswi yang menatapnya dengan aneh.


Alya ikut masuk kedalam mobil Rayyan. Meski pria itu berwajah dingin namun Alya tak peduli. Dia sudah jatuh cinta pada dosen tampan itu.


"Kita mau kemana Tuan?". Alya memasang sealbeat nya.


Kening Rayyan berkerut "Kamu mau ngikutin saya?". Alya mengangguk cepat.


Rayyan menghembuskan nafas kasar "Kenapa kamu mau ngikutin saya? Apa tujuan kamu?". Tatap Rayyan dingin.


"Udah Tuan gak usah ngomel, mending jalankan mobilnya". Seru Alya tanpa dosa dia memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan akibat mengejar Rayyan.


Rayyan tak merespon dia langsung menjalankan mobilnya. Wanita disampingnya sama dengan Marissa, yang selalu saja mengejarnya meski sudah ditolak ribuan kali.


Entahlah Rayyan tidak suka ada wanita yang mengejarnya. Harus dia yang mengejar wanita bukan sebaliknya.


Sampai dirumah sakit Rayyan langsung memarkirkan mobilnya diparkiran rumah sakit.


"Ngapain kita disini?". Tanya Alya bingung dia ikut turun dari mobil.


Rayyan tak menjawab dia melangkah masuk kedalam tanpa peduli dengan suara keberisikkan Alya.


Alya mengendus kesal namun dia mengikuti langkah kaki Rayyan.


Mereka berdua menjadi pusat perhatian. Sebab Alya adalah model ternama, apalagi Rayyan yang tampannya tidak tertulung itu membuat para kaum hawa haus ingin mengelus wajah tampan Rayyan.


Alvaro sama sekali tidak meninggalkan Aluna. Pria itu rela bermalam dan menginap dirumah sakit demi memastikan kesehatan Aluna.


"Pak, Bapak pulang aja deh, saya jadi enak kalau Bapak nunggin saya terus". Celetuk Aluna.


"Gak enak Aluna". Ralat Alvaro tak habis pikir pada Aluna yang suka sekali berbicara kurang kalimat


"Maksud saya gitu Pak, kurang satu kata aja". Aluna cenggegesan.


"Bisa gak kamu tuh diam saja semenit, gak usah berisik dan cerewet. Saya lagi ngerjain data meeting nihh". Gerutu Alvaro sambil memangku laptopnya dan duduk disamping Aluna. Karena ranjang Aluna memang sengaja dipesan yang besar. Maklum horang kaya, jadi bisa beli apa saja.


"Saya juga gak tahu Pak, kenapa gak bisa diem. Otak saya tuhh ya pengen ngomong mulu. Saya bosan Pak".


Aluna masih saja mengoceh dengan ucapan-ucapan nya yang aneh. Alvaro saja heran, entah sebanyak apa kosa kata diotak Aluna.


"Na".


Mereka berdua langsung mengarahkan pandangan kearah pintu masuk.

__ADS_1


"Kak Ray". Aluna tersenyum sumringah. Selamat, dia tidak harus berduaan bersama Alvaro.


"Gak usah senyum sama dia. Ingat saya ini pacar kamu". Bisik Alvaro dia langsung memastikan laptopnya.


Aluna memutar bola matanya malas. Supir Taksi Online ini selalu saja Alvaro posesif bukan main padanya. Padahal mereka hanya pura-pura saja.


"Kak Al. Kak Nana".


"Alya". Alvaro dan Aluna menjawab bersamaan.


"Lho, kamu kenal Ya sama Kak Ray?". Tanya Aluna melihat kedua orang itu secara bergantian.


"Kak Nana kenal sama Rayyan?". Aluna mengangguk.


"Ciieeee Alyaaa". Goda Aluna. Aluna senang jika Rayyan benar-benar memiliki hubungan dengan Rayyan.


Wajah Alya bersemu merah. Sedangkan Rayyan biasa saja. Dia tidak merasakan apapun pada Alya.


"Gimana keadaan kamu Na?". Rayyan tersenyum lembut "Kapan boleh pulang?". Tanya Rayyan menatap Aluna dengan dalam.


"Udah sehat Kak. Belum tahu. Tergantung kata dokter". Sahut Aluna.


Alvaro mengenggam tangan Aluna yang tidak dipasang infuse.


"Kak Nana sakit apa? Kenapa gak kasih tahu Alya?". Tanya Alya panik dia menghampiri Aluna dan Alvaro.


"Gak sakit apa-apa kok Ya. Cuma laper aja hehe". Jawab Aluna cenggegesan.


"Sayang kamu istirahat ya. Biar cepat sembuh". Alvaro turun dari ranjang lalu menyelimuti gadis itu.


"Makasih sayang". Jawab Aluna asal.


Alya mengintip wajah Rayyan. Bisa Alya lihat jika Rayyan menaruh rasa pada calon kakak ipar nya itu.


Kenapa hati Alya sakit ya? Iya memang benar dia sudah jatuh cinta pada Rayyan sejak pertama bertemu sehingga dia nekat untuk mencari tahu tentang pria itu. Tapi kenapa harus Aluna? Bahkan gadis itu adalah calon Kakak iparnya.


"Ya, kamu ngapain disini?". Tanya Alvaro pada adiknya.


"Kebetulan tadi Alya ketemu Ray jadi langsung aja kesini". Sahut Alya asal.


"Ya udah kamu pulang duluan aja. Bilang Daddy sama Mommy, Kakak belum bisa pulang sampai Aluna sembuh". Ucap Alvaro.


"Iya Kak. Ya udah Alya duluan ya". Alvaro mengangguk "Kakak ipar, Alya pulang duluan ya. Kakak ipar cepat sembuh". Alya memberikan pelukkan hangat pada Aluna.


"Iya adik ipar hati-hati".


Alya melengang pergi tanpa melihat Rayyan. Kenapa dia jadi seperti ini? Apakah dia cemburu pada calon Kakak iparnya sendiri??

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2