Pacarku Presdir

Pacarku Presdir
Pacarku Presdir-72


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Alvaro menghela nafas panjang. Jantungnya berdegup kencang. Jas mahal melekat ditubuh kekarnya.


Malam ini salah malam yang dinantikan oleh Alvaro, dimana dia akan melamar Aluna. Alvaro berharap semua lancar tanpa hambatan. Alvaro berharap dia dan Aluna segera menuju kebahagiaan.


"Udah siap Son?". Zein menepuk pundak putranya.


Alvaro mengangguk "Aku gugup Dad". Sahut Alvaro berusaha menetralisir detak jantungnya.


"Itu hal biasa Son. Belum lagi nanti pas menikah, pasti lebih gugup". Zein terkekeh.


"Ck, ternyata putra Mom ini bisa gugup juga. Mana muka dinginnya Son?". Ledek Jane.


"Mom". Tegur Zein menggeleng sambil terkekeh pelan


"Biarin dong. Kan emang bener, iya kan Al?". Jane menahan tawa ketika melihat wajah cemberut putranya.


"Ayo". Ajak Zein.


"Mom bawa apa?". Tanya Alvaro ketika melihat Jane membawa paper bag.


"Ya seserahan lah". Ketus Jane "Mom mau kasih perhiasan warisan dari almarhum Nenek mu. Setiap penerusnya ikatan harus dikasih ini sebagai seserahan". Jane membuka kotak berukuran cukup besar itu yang isi nya perhiasan keturunan keluarga.


"Mom sebaiknya gak usah. Aluna gak suka perhiasan. Mending Mom bawa rendang jengkol, sambal Pete, sama rampela ati". Ujar Alvaro.


"Ihhh kamu yang bener kali Al?". Jane memukul lengan Alvaro dengan gemes nya "Masa iya seserahan nya makanan?". Protes Jane.


"Ya udah terserah Mom aja". Alvaro paling malas berdebat.


"Ayo Son".


Mereka berjalan menuju pintu keluar. Didepan mobil Sonny sudah menunggu majikannya.


Beberapa kali Alvaro menghela nafas panjang. Dia benar-benar gugup. Ahhh ini pertama kali dalam hidupnya. Pertama kali pacaran. Pertama kali juga akan melamar wanita yang dia cintai.


"Tenanglah Son".


Zein beberapa kali berbicaralah dengan Alvaro, rasanya dia ingin tertawa melihat wajah tegang putranya itu.


Sementara Jane malah terus mengejek putranya. Sungguh lucu orang yang biasanya dingin dan cuek, kini terlihat gugup padahal belum juga bertemu dengan calon istrinya. Membuat Jane terkekeh gemes. Ahhh dia tidak sabar menimang cucu.

__ADS_1


.


.


.


.


Mira dan Yura mendandani Aluna. Mereka benar-benar kagum dengan ukiran Tuhan itu. Wajar saja jika Aluna percaya diri tingkat dewa. Dia benar-benar cantik. Kebaya mewah itu melekat indah ditubuh Aluna.


"Ihhhh Mir, gerah banget sihhh". Gerutu Aluna.


Hilang sudah rasa kagum kedua wanita itu ketika mendengar gerutuan Aluna.


"Lun bisa gak sih loe gak buat gue ngomel mulu". Omel Yura "Gak usah digaruk dodol". Yura menoyor kening Aluna saat gadis itu hendak mengaruk wajahnya.


"Ihhh Yur, gatal tahu. Biasanya gue dandan gak segatal ini dehhh. Jangan-jangan tuhh cream ada sianida nya lagi". Gerutu Aluna.


"Astaga Lun, loe itu yaaa.. Ini produk asli kita dibilangan ada Sianidanya. Apa hubungannya coba?". Mira geleng-geleng kepala.


"Nihh pasang heels loe". Yura meletakkan sepasang heels didepan kaki Aluna.


"Harus pake sepatu setinggi ini? Gak cuma dirumah doang, pake sendal jepit aja dehhh". Tolak Aluna.


Meski mengerutu dan protes Aluna tetap memakai sepatu yang diberikan Yura. Dia bisa hanya saja tidak biasa. Aluna kan tomboy.


"Ayo". Yura menarik tangan aluna agar berdiri.


"Tunggu bentar". Aluna menahan tangan kedua sahabatnya.


"Apa lagi sihh Lun?". Kesal Mira.


"Gue mau pipis".


"Astaga, Tuhan". Yura ingin rasanya meremes wajah Aluna.


"Ya udah cepetan gak usah lama". Mira hanya bisa geleng-geleng kepala saja. Aluna ada-ada saja. Acara sudah mau dimulai dia malah ingin buang air kencing.


Tidak lama kemudian Aluna keluar dari kamar mandi. Karena gugup dia sampai tidak mampu menahan pipisnya.


"Udah".

__ADS_1


Aluna mengangguk dan berjalan kearah dua sahabat nya dengan terseok-seok.


"Bisa cepat dikit gak sih Lun?". Yura dan Mira benar-benar harus sabar, Aluna berjalan pelan sekali seperti orang sakit.


"Gak bisa Yur. Kan gue udah bilang, gue gak biasa pake sepatu setinggi ini". Sahut Aluna malah santai tanpa dosa. Sebenarnya dia hanya menunda waktu agar tidak bertemu Alvaro cepat, sebab dia gugup.


"Ya harus dibiasain doang Aluna. Ini baru tunangan belum lagi ntar loe nikah". Omel Yura lagi "Udah ayo cepet". Yura dan Mira menarik aluna dengan pelan.


Aluna benar-benar gugup. Jantungnya dag-dig-dug seperti sedang berdisko didalam sana. Andai saja dia bisa lari, Aluna ingin terjun keair agar jantungnya berhenti berdegup.


Diruang tamu semua sudah menunggu mereka. Tamu undangan hanya kedua keluarga besar. Sebab Aluna dan Alvaro masih merahasiakan hubungan mereka dikantor. Jadi hanya teman-teman dekat Aluna dan Alvaro saja yang hadir.


Leon dan Dicky terpesona melihat Aluna. Gadis berisik itu benar-benar cantik malam ini. Sungguh sempurna ciptaan Tuhan yang satu ini. Tak perlu diragukan lagi. Bagaimana tidak Alvaro tergila-gila pada Aluna. Gadis itu cantik luar biasa.


Santoso tersenyum hangat melihat putri bungsunya. Putri manja dan putri yang selalu membuatnya tertawa setiap hari.


Ada kesedihan tersendiri diwajah Santoso saat harus melepas Aluna. Sebagai seorang Ayah dia cukup merasa kehilangan. Tapi Santoso juga yakin jika Alvaro adalah suami terbaik untuk Aluna.


Kanti juga menatap putrinya dengan kagum. Princess kecil itu kini telah tumbuh menjadi gadis dewasa. Sebentar lagi, Aluna akan menikah dan meninggalkan nya. Pasti dia akan rindu mengomeli putri nya itu.


Berbeda dengan Antonio, Erika dan Ranny. Orangtua Rayyan. Ada tatapan kecewa diwajah mereka dari dulu, mereka menginginkan Aluna bersama Rayyan. Apalagi Aluna dan Rayyan sama-sama tumbuh. Namun sayang, jodoh tidak bisa dipaksa.


"Cantik banget putri Ayah". Ucap Santoso menatap putrinya.


"Iya Yah.. Karena Ayah lemburnya sambil nonton drama Korea, makanya pas Aluna lahir cantik kek orang Korea"


"Awww sakit Kak". Rintih aluna saat Arya mencubit lengannya dengan gemes. Berbicara asal ceplos saja "Jahat amat sihh sama adeknya". Ketus Aluna.


"Makanya kalau ngomong itu pake saring". Arya geleng-geleng kepala.


Tidak lama kemudian keluarga Alvaro datang. Alvaro menatap Aluna berkaca-kaca. Ya Tuhan inikah gadis yang dulu menyewanya sebagai pacar? Gadis yang berani mengatakannya Supir taksi online? Kenapa secantik ini?


"Ayo Pak silahkan masuk". Sahut Santoso pada Zein dan Jane "Silahkan Nak Alvaro".


"Makasih Ayah". Senyum Alvaro lembut. Tatapnya tertuju pada Aluna.


Kanti mengenggam tangan Aluna yang terasa gugup. Wajar saja jika putrinya gugup. Dia dulu juga waktu di lamar gugup bukan main.


"Jeng, ini untuk si cantik Aluna. Ini seserahan dari kami. Maaf hanya ini yang bisa kami kasih". Ujar Jane memberikan paper bag nya pada Kanti.


"Makasih ya Jeng". Kanti menyambut paper bag itu.

__ADS_1


Alvaro dan Aluna bernafas lega. Kelihatan nya kedua orangtuanya saling menerima satu sama lain. Smoga tidak ada hambatan kedepannya.


Bersambung........


__ADS_2