Pacarku Presdir

Pacarku Presdir
Pacarku Presdir-97


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Tatapan Rayyan terus memandang rumah Aluna. Sejak dia pulang ke Indonesia dia belum sama sekali bertemu gadis itu. Entahlah, dia selalu ingin menghindar. Takut jika perasaan nya akan kambuh lagi saat melihat Aluna. Bagaimana pun tidak akan ada orang yang baik-baik saja saat dipertemukan dengan seseorang yang begitu pernah dia cintai di masa lalu


Rayyan hanya takut semakin dia melihat Aluna dia akan semakin sulit mencintai Alya. Rayyan tidak mau membuat Alya sedih dan sakit hati. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga gadis itu dan belajar mencintai Alya seperti dia mencintai Aluna.


"Kak".


Ranny membawa dua cangkir teh manis diatas nampan sebagai teman cerita mereka berdua


"Minum Kak". Ranny meletakkan nampan itu.


"Makasih Ran". Rayyan memaksakan senyum sambil mengangkat cangkir dari adiknya lalu menyesap isinya.


"Lagi mikirin Aluna?". Tebak Ranny.


Rayyan terdiam sambil meletakkan cangkirnya. Tidak usah dijawab Ranny pasti sudah tahu jawabannya.


"Aku paham perasaan Kakak". Ucap Ranny. Tatapannya juga terarah pada rumah Aluna. Saat ini mereka sedang berada dibalkon kamar Rayyan.


"Tapi Kakak harus ikhlas dan lepasin Aluna buat pria lain. Aku yakin kok Kak, kalau Kak Alya itu wanita yang tepat untuk Kakak. Kan cinta itu gak harus memiliki Kak. Kakak harus mulai membiasakan diri tanpa Aluna". Ucap Ranny.


"Kakak tahu Ran. Tapi sulit banget lupain Aluna. Kakak cinta sama dia sejak kecil. Sejak kita tumbuh bareng. Kakak pikir Kakak akan selalu bersama dia. Dan Kakak menyesal dulu gak pernah ungkapin perasaan Kakak ke dia. Sekarang udah terlambat dan Aluna udah jadi milik orang lain". Lirih Rayyan


Ranny menatap kasihan. Bagaimana pun Ranny tahu perasaan Rayyan pada Aluna tidak main-main.


"Kak".


"Mencintai dalam diam itu gak enak Ran. Rasanya sakit banget. Kakak gak tahu harus bilang apa. Yang pasti sakit. Sangat sakit. Melihat Aluna dan Alvaro bahagia rasanya iri. Kenapa Kakak gak bisa sebahagia itu. Alya baik, perhatian dan selalu ada buat Kakak. Tapi kenapa hati Kakak sama sekali gak ngerasa bahagia. Kakak ngerasa hampa dan kosong. Kenapa rasanya gak adil Ran?". Rayyan mengeluarkan unek-unek dihatinya


"Kakak". Ranny menatap Rayyan dengan sendu.


"Semua salah Kakak yang terlalu berharap sama hubungan ini. Padahal Kakak tahu Aluna itu hanya anggap Kakak sebagai Kakak kandungnya dan gak lebih. Kakak yang bodoh berharap lebih". Akhirnya tangis Rayyan pecah.


Ketika Aluna datang ke Inggris, pria itu puas menahan hatinya. Dia ingin menangis dan memeluk Aluna tapi dia tidak berani walau hanya sebagai seorang Kakak. Rayyan tidak berani walau hanya menatap Aluna. Pikirannya sudah baik-baik saja tapi saat bertemu Aluna lagi perasaan itu kembali lagi dan Rayyan takut dia akan menyakiti Alya. Dia tidak mau Alya sedih karena dirinya. Rayyan selalu berusaha menerima Alya dan mencintai gadis itu.


.


.


.

__ADS_1


.


"Ini Pak berkas yang Bapak minta". Mira meletakkan satu dokumen dimeja Andre.


"Thanks Mir". Andre mengambil berkas itu dan membuka isinya "Kamu udah tambahkan biayanya?".


"Udah Pak. Bapak koreksi aja disitu". Tungkas Mira.


"Baik. Makasih".


Andre, sekarang lebih banyak tugas. Sejak kepindahan Aluna dia sibuk bukan main. Selama ini Aluna lah yang banyak membantunya karena mereka berdua memang mendapat prestasi terbaik di divisi.


"Sayang".


Andre mengangkat pandangan nya. Dia tersenyum melihat sang kekasih.


"Ra". Andre menutup berkasnya "Mau makan siang?". Tanya Andre menatap Rara dengan senyum sumringah.


"Iya sayang".


"Ayo".


Hati Andre berlabuh pada Rara, salah satu staff di divisi naungannya. Pria Batak itu, merasa hatinya telah dicuri oleh gadis sederhana seperti Rara.


Hubungan keduanya terlihat bahagia. Saling menerima satu sama lain. Andre juga sudah mencintai Rara, meski hubungan mereka terbilang masih begitu baru namun benih-benih cinta sudah tumbuh memekar disana.


.


.


.


.


"Lun". Leon mengetuk kamar Aluna sambil memanggil gadis itu.


"Masuk aja Kak. Gak dikunci". Ucap Aluna dari jauh karena dia sedang sibuk dengan laptop dan berkas ditangannya.


Leon masuk kedalam kamar Aluna. Jika dulu si Aluna ini pemalas bukan main sekarang dia adalah gadis pekerja keras.


"Sibuk Lun?". Leon duduk disamping Aluna. Dia kagum melihat jari-jari gadis itu yang menekan tombol keyboard dengan begitu lihai.

__ADS_1


"Gak Kak". Ketus Aluna. Sudah tahu sibuk masih saja ditanya.


"Sensi amat". Sindir Leon terkekeh "Kapan persiapan pernikahan kamu? Katanya Grandfa dan Grandma Al udah setuju ya. Malah udah nyuruh langsung nikah?". Tanya Leon. Leon penasaran jurus apa yang Aluna pakai bisa meluluhkan hati kedua orang yang keras itu.


"Yup. Sengaja Aluna undur Kak. Tiga bulan lagi lah, kepalang tanggung kalau sekarang mah. Proses memantaskan dirinya belum kelar". Jawab Aluna tanpa melihat Leon.


Leon tersenyum "Kamu emang hebat Lun. Kreen bisa taklukin jiwa kayak Grandfa dan Grandma Al".


"Kak Leon kemana aja selama ini, baru nyadar kalau Aluna hebat". Ucap gadis itu menyombongkan diri.


Leon memutar bola matanya malas. Aluna kalau dipuji memang semakin jadi. Mending jangan dipuji nanti dia semakin merasa terbang ke udara.


Aluna mematikan laptopnya. Pekerjaan nya sudah selesai. Tak perlu waktu lama. Dia yang memang ahli IT yang hanya hitungan jam saja sudah bisa menyelesaikan banyak dokumen.


"Kesini pasti ada mau nya kan?". Sindir Aluna menghempaskan tubuhnya diranjang king size kamarnya.


Leon ikut berbaring disamping gadis itu. Sementara kaki mereka berdua mengantung.


"Tahu aja kamu". Leon menatap langit-langit kamar.


"Apa sihh yang Aluna gak tahu?". Gadis itu tertawa lebar.


Lagi-lagi Leon mencebik kesal. Aluna ini memang tidak usah dipuji lah. Nanti bisa kelimpungan dengar celotehan dia.


"Kakak mau minta saran". Leon menghela nafas panjang.


Aluna menghadap Leon. Menjadikan tangannya sebagai bantal untuk memangku kepalanya.


"Apa Kak? Ranny?". Tebak Aluna.


Leon mengangguk "Menurut kamu dia gimana?". Aluna kan paling jago jika masalah menilai orang


"Aku gak punya nilai apa-apa tentang Ranny Kak. Karena menurut aku dia sempurna seperti rokok". Aluna mengedipkan matanya jahil "Cie udah kecantol cinta dokter cantik ya Kak. Cie cie cie....". Ledek Aluna.


"Bisa gak sih kamu itu gak usah bikin Kakak kesal. Kakak itu lagi pengen minta saran kamu bukan diledekin". Omel Leon.


"Gak bisa Kak. Liat Kakak ngomel rasanya senang banget, kan ntar Kakak cepat tua. Biar gak laku sekalian". Aluna tertawa lebar.


"Kamu ini". Ketus Leon.


"Bercanda Kak. Menurut Aluna sih Kakak cocok banget sama Ranny. Sama-sama dokter". Sahut Aluna serius "Tapi ingat ya Kak jangan pernah sakitin sahabat Aluna. Awas aja kalau Kak Leon selingkuh, ntar Aluna hukum makan cabe sekebon". Ancam Aluna.

__ADS_1


Leon mendelik. Teringat pada kebodohan nya yang mau mengikuti perintah Aluna makan mangga muda pedas hingga ia berakhir bolak-balik kamar mandi.


Bersambung...


__ADS_2