Pacarku Presdir

Pacarku Presdir
Pacarku Presdir-43


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Alvaro mencerna ucapan Dicky. Entah lah, apa dia harus menyerah atau terus melangkah maju untuk mendapatkan hati Aluna? Jika dia maju, apakah Aluna akan jatuh cinta pada nya? Jika dia menyerah, Alvaro takut dia akan menyesal setelah Aluna jatuh ke pelukan pria lain.


Alvaro dan Dicky berjalan menuju kantin perusahaan. Mereka disambut hangat oleh para karyawan.


"Itu Aluna, ayo kita kesana".


Mereka berdua menghampiri tiga orang gadis dan satu pria tampan yang tengah asyik makan.


"Selamat siang Pak Presdir dan Pak Dicky". Sapa mereka berempat kompak.


"Bapak mau ikut makan sama kita?". Tanya Yura.


"Iya".


Alvaro duduk disamping Aluna. Sedangkan Dicky duduk disamping Andre. Entah kenapa ketika mendengar ucapan Dicky tadi, Alvaro sedikit terganggu dengan hatinya. Ada apa dengan hatinya ini?


"Makan Pak". Ucap Aluna memaksakan senyum. Dia tahu jika Alvaro sedang berpikir sesuatu "Mari makan Pak Dicky". Seru Aluna juga pada Dicky.


"Iya Lun".


Mereka berenam makan. Jika yang lain fokus pada makanan. Maka Aluna, terus mengoceh sambil makan.


Jika saja tidak ada Alvaro dan Dicky, sudah pasti Mira dan Yura menyumpal mulut Aluna yang tidak bisa diam itu.


Dicky salut melihat cara makan Aluna. Dia melirik Yura dan Mira yang makan dengan kalem dan juga feminim. Sementara Aluna makan seperti dirumah sendiri.


.


.


.


.


Rayyan menyenderkan punggungnya. Dia menatap kosong kearah jendela. Dia masih berada dikampus dan baru saja menyelesaikan beberapa mata kuliah dijam pertama.


"Aluna". Gumamnya terlihat lemas

__ADS_1


Rayyan mengambil ponselnya dan melihat foto-foto mereka berdua. Dia memang salah, harusnya dia lebih berani pada perasaannya terhadap Aluna dan mengungkapkan apa yang dia rasakan.


Sekarang terlambat Aluna sudah menjadi milik orang lain. Dia hanya pria yang patah hati secara diam-diam. Bahkan sejak Aluna keluar dari rumah sakit, Rayyan tidak pernah lagi bertemu Aluna. Dia terkesan menghindari gadis itu.


Tok tok tok tok tok


"Masuk".


"Selamat siang dosen ganteng".


Alya masuk dengan membawa rantang nasi ditangannya.


"Udah makan siang belum?". Tanya Alya dengan senyum sumringah. Dia akan mendapatkan hati Rayyan.


"Ngapain kamu disini?". Tanya Rayyan dingin.


"Mau ngajakkin kamu makan siang". Alya mengeluarkan isi rantangnya "Ayo kamu pasti lapar kan?". Seru Alya. Rayyan semakin hari semakin tampan saja.


"Saya masih kenyang". Sahut Rayyan dingin.


"Sayang".


Rayyan menghela nafas panjang. Kenapa dia selalu dikejar oleh dua wanita yang sama sekali tidak disukai olehnya?


"Heii pelakor ngapain elu disini?". Marissa menatap Alya tajam.


"Enak aja pelakor, pelakor. Elu yang pelakor".


Alhasil mereka berdua berdebat dan saling beradu mulut. Rayyan memijit pelipisnya yang terasa berdenyut sakit.


Tanpa permisi pria itu melengang meninggalkan ruangannya dan membiarkan kedua wanita yang memperebutkan dirinya.


"Elu yang pelakor. Elu mau rebut Rayyan dari gue kan. Ohh gak bakal gue biarin". Ujar Marissa menatap Alya tajam. Dia sudah berhasil menyingkirkan Aluna, kenapa masuk lagi pelakor baru seperti Alya..


Alya tertawa mengejek "Hello elu itu bukan siapa-siapa nya Rayyan. Rayyan itu milk gue. Elu gak kenal siapa gue?".


"Alah gue gak peduli elu mau siapa. Gue cuma mau elu jauhin Rayyan". Marissa menatap Alya tajam.


"Enak aja jauhin pangeran guee. Yang harus jauhin Rayyan itu elu, bukan gue".

__ADS_1


.


.


.


.


Rayyan masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobilnya meninggalkan kampus. Setiap hari dia selalu dibuat pusing oleh kelakukan dua wanita itu.


"Cuma Aluna yang bisa buat gue tertarik bukan menarik". Gumam Rayyan.


Rayyan menepikan mobilny disebuah restorant. Dia turun dari mobil dan masuk kedalam restorant.


Disana ada Bayu dan Yandi yang menunggunya. Dia baru saja diberitagu agar menyusul mereka makan siang direstourant.


"Sorry nunggu lama". Rayyan duduk dikursi samping Yandi.


"Elu baik-baik aja kan?". Tanya Yandi melihat wajah kusut Rayyan.


Rayyan menggeleng "Gue pusing ngadepin dua cewek kegenitan itu". Rayyan menghembuskan nafasnya kasar


"Alya dan Marissa?". Tebak Yandi dan Bayu bersamaan.


Rayyan hanya mengangguk. Sambil menunggu pesanan datang, mereka bertiga mengobrol asyik.


"Elu gak coba buat lupain Aluna? Elu gak bisa gini terus Ray". Ujar Bayu.


"Gue cinta banget sama Aluna. Cuma dia cewek yang bikin gue tertarik". Sahut Rayyan.


Yandi dan Bayu saling melihat satu sama lain. Bingung mau memberi saran apa lagi.


"Atau elu ungkapin aja perasaan elu ke Aluna". Saran Yandi "Seengaknya setelah dia tahu perasaan elu, elu bisa sedikit tenang". Ucap Yandi


"Tapi Aluna udah pacaran sama Al, masa iya pacar orang gue embat juga". Rayyan menggeleng.


"Ya dari pada elu kepikiran terus". Sahut Yandi.


Pesanan mereka bertiga datang. Mereka makan dalam diam. Tidak ada yang mengobrol hany suara dentingan sendok yang menandakan bahwa mereka sedang makan.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2