Pacarku Presdir

Pacarku Presdir
Pacarku Presdir-86


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Alvaro menghela nafas panjang. Dia memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Memikirkan Aluna. Dia tidak tega melihat gadis itu bekerja keras. Alvaro tak habis pikir apa yang ada dipikiran Kakek-neneknya itu.


"You okay Son?". Zein duduk disamping putranya "Mikirin Aluna?". Imbuhnya lagi.


Alvaro mengangguk "Aku kasihan sama Aluna Dad. Grandfa dan Grandma benar-benar keterlaluan". Desah Alvaro.


Zein malah tersenyum mendengar Omelan putranya.


"Kamu meragukan Aluna?".


Alvaro terdiam sejenak "Bukan meragukan Dad. Bisik nya Aluna gak disana". Sahut Alvaro.


Zein menggeleng "Kamu salah Son. Aluna itu multitalenta. Dia bisa apa aja. Daddy yakin kalau nanti perusahaan yang Aluna pegang bisa ngalahin perusahaan kamu. IT itu keahliannya. Percaya sama Daddy". Ucap Zein


"Iya Dad aku tahu. Tapi aku gak tega aja liat Aluna berjuang".


"Asal kamu selalu ada disisi nya". Ujar Zein "Dad yakin jika Grandfa dan Grandma sedang menguji Aluna. Apakah dia benar-benar sungguh-sungguh sama kamu. Atau hanya harta kamu doang. Dari sinilah kamu bisa liat Aluna itu gadis yang seperti apa? Dia nyerah gak? Dia ngeluh gak? Kalau dia menghadapinya dengan santai, kamu patut pertahankan dan perjuangkan dia".


Alvaro lagi-lagi terdiam mencerna ucapan Zein. Alvaro mengerti mengapa Kakek-neneknya melakukan ini. Selain dari keluarga kaya mereka juga terlahir dengan segudang kemampuan. Tentu saja untuk masalah pasangan hidup harus memilih orang yang berkualitas juga bukan.


"Kamu paham?".


"Iya Dad, aku paham. Aku yakin Aluna bisa". Senyum Alvaro.


"Kalau dia cinta sama kamu. Dia pasti bisa melewati ini. Jangan ragukan dia". Zein menepuk pundak anaknya.


.


.


.


.


"Dari awal Bunda udah gak setuju kalau Aluna itu sama Al. Itulah akibatnya kalau gak dengar kata orangtua". Omel Kanti. Dia geram sendiri mendengar cerita Aluna yang disuruh memimpin perusahaan.


"Udahlah Bun, gak usah ngomel mulu. Biarin aja Aluna selesaiin masalah nya sendiri". Sergah Santoso yang mulai jenggah mendengar istrinya mengomel dari tadi.

__ADS_1


"Gimana Bunda gak ngomel Yah. Aluna itu gak punya bisik pemimpin sama sekali. Lagian apa sihh yang buat Aluna mau sama Al? Kita gak butuh orang kaya Yah. Kalau emang orangtua Al gak setuju ya udah putus aja. Mending Aluna sama Ray aja". Imbuh Kanti kesal.


"Gak boleh ngomong gitu Bunda". Santoso geleng-geleng kepala "Biarkan Aluna berjuang kita bisa dukung dia sama-sama". Ucapnya lagi.


"Malam Ayah. Malam Bunda".


Aluna menghampiri orangtuanya dengan membawa setoples cemilan. Mulutnya tidak bisa berhenti mengunyah. Karena hobby makan jadi harus dikembangkan setiap hari.


"Kok muka Bunda bahagia banget?". Aluna duduk disamping Santoso


Kanti memutar bola matanya malas. Wajahnya sedang kesal. Tapi malah dibilang lagi bahagia oleh putrinya itu. Benar-benar keterlaluan.


"Kamu bisa gak sih liat muka orang bahagia sama orang lagi kesel?". Ketus Kanti


"Gak bisa Bun. Aluna kalau lagi makan suka hilang konsentrasi". Jawabnya santai.


Santoso geleng-geleng kepala saja. Ketika Aluna sedang ke Inggris, Kanti uring-uringan merindukan putrinya itu. Tapi ketika sudah bertemu malah seperti anjing dan kucing yang terus berdebat setiap hari.


"Gimana kerjaan kamu?". Kanti mengalihkan pembicaraan, dia menatap putrinya yang sedang mengunyah Snack ditoples "Kamu ya gak kenyang- kenyang padahal baru selesai makan malam?". Kanti geleng-geleng kepala


"Lancar Bun. Butik ya bentar lagi buka. Aluna jadi cari reseller buat ramein". Sahutnya "Yah ini kan cemilan yang Bunda buat sayang kalau gak dimakan". Ujarnya


"Kamu yakin sama Al?". Kanti menatap putrinya serius.


"Yakin. Emang kenapa?". Aluna meletakkan toplesnya


Kanti menghela nafas "Bukan Bunda gak setuju Lun. Tapi tantangan yang dikasih sama keluarga Al itu terlalu berat. Masa hanya dikasih waktu enam bulan. Kamu bisiknya bukan pemimpin Lun. Kamu itu bisiknya makan". Ketus Kanti.


Aluna mencibir kesal "Gak masalah kok Bun. Aluna bisa. Tenang aja". Sahut Aluna santai "Kalau Aluna berhasil, Ayah sama Bunda harus kasih hadiah buat Aluna". Dia menatap kedua orangtuanya dengan senyuman jahil.


"Hadiah apa?". Tanya Santoso dan Kanti bersamaan.


"Yahhh gak banyak sihhh, Aluna cuma pengen diajak ke pantai aja sama Ayah dan Bunda. Kan udah lama kita gak liburan bareng".


Santoso dan Kanti terdiam. Memang sejak Aluna beranjak dewasa mereka jarang menghabiskan waktu bersama lantaran kesibukan yang padat setiap harinya.


Santoso dan Kanti sibuk mengurus kedai mereka. Sementara Aluna fokus bekerja.


"Lun". Kanti memeluk anak gadisnya itu "Maafin Bunda ya yang gak ada waktu buat kamu". Ucap Kanti merasa bersalah

__ADS_1


"Syukur deh Bunda sadar".


Baru saja Kanti ingin menikmati moment kesedihan nya kembali dibuat kesal oleh ucapan Aluna.


Kanti melepaskan pelukannya lalu menatap Aluna yang santai-santai tanpa dosa.


"Bisa gak sih kamu itu_".


"Stttt. Bunda gak usah ngomel mulu. Ntar maag Aluna kambuh lho". Ketus gadis itu.


"Apa hubungannya sama penyakit maag kamu?". Kanti tampak berpikir.


"Kalau Bunda ngomel, nafsu makan Aluna berkurang karena dengarin Omelan Bunda mulu, kan bisa kambuh lagi tuh maag".


Kanti mengelleng kepala. Ada-ada saja Aluna ini. Kanti hanya menghela nafas. Ingin marah, takut darah tinggi lagi. Tahan saja dulu untuk sementara waktu.


Aluna masuk kedalam kamarnya. Gadis itu duduk dimeja kerjanya.


Aluna membuka laptop nya. Dia sedang mencari sesuatu dilaptop ini.


"Ck, Grandfa dan Grandma durhaka banget sihh sama calon cucu mantunya. Masa dikasih modal cuma segini". Protes Aluna "Gimana caranya gue bisa dapat suntikan dana?". Gadis itu tampak berpikir keras "Gak mungkin minta tolong Pacar ntar ketahuan donk". Gumamnya


"Aha, gue punya ide". Dia tersenyum licik.


Aluna mulai bekerja di perusahaan yang baru dibangun oleh Robert dan Maria. Perusahaan yang bergerak dibidang IT.


Aluna memperkerjakan dua puluh orang untuk staff awalnya. Dia akan membuat dua puluh orang itu bekerja dengan serius


Awalnya Aluna ingin merekrut Mira dan Yura, tapi kedua sahabatnya itu sedang berbadan dua, pasti repot nanti mereka malah minta jatah makan Aluna lagi, pikir gadis itu.


Butik yang Aluna bangun juga sudah dibuka. Aluna memperkerjakan tiga orang yang mengerti dunia fashion. Aluna yakin jika dia bekerja serius pasti perusahaan dan butik ini bisa berkembang pesat.


"Gue minta bantuan Papa Anggara sama Pak Dicky aja kali yaaa? Perusahaan mereka sama-sama bergerak dibidang IT. Wahhh ini kesempatan bagus. Gue bisa jalin kerjasama. Gue yakin aplikasi baru ini bakal meluncur dengan cepat". Gadis itu tersenyum sumringah.


"Kayaknya gue butuh asisten".


Aluna mengambil ponselnya. Lalu dia memasang iklan di Instagram untuk mencari asisten yang akan membantunya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2