
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Santoso, Kanti, Lia dan juga Arya serta dua bocah tampan. Tampak tergesa-gesa keluar mobil.
"Hiks hiks hiks Bunda".
"Hiks hiks hiks Bunda"..
Bryan dan Bara dari tadi terus saja menangis. Ketika mendapat kabar bahwa Bunda Aluna-nya masuk rumah sakit. Kedua bocah tampan itu panik dan merenggek ingin segera kerumah sakit.
"Aluna".
"Bunda".
Kanti berhambur memeluk putrinya. Dia panik dan takut terjadi suatu pada Aluna. Apalagi Aluna tidak pernah pingsan dan sampai masuk rumah sakit.
"Apa kamu baik-baik aja? Dimana sakit?". Cecar Kanti
"Udah Bund, kagak usah panik gitu. Aluna gak apa-apa kok". Ujar Aluna berusaha menenangkan Ibunya.
"Kamu ya bukannya jawab pertanyaan Bunda, malah ngeles". Ketus Kanti kesal "Makanya kamu tuhh jangan main hujan, udah tahu gak mampu kena hujan. Kamu juga makan gak pake aturan, semua barang dimakan. Kenapa gak makan Unta aja sekalian?". Omel Kanti kesel.
"Udahlah Bunda. Gak usah ngomel kasihan Aluna". Santoso menangahi istrinya yang tengah emosi "Sayang gimana keadaan kamu? Apa udah lebih baik?". Santoso beralih pada Aluna yang masih berbaring di ranjang rumah sakit.
"Aluna gak apa-apa kok Yah. Kan latihan mental. Kek gini mah biasa".
Arya mencubit lengan adiknya gemes "Sakit, Kak". Rintih Aluna mengelus lengannya "Suka banget deh liat adek nya menderita hiks". Aluna mengusap air matanya yang tidak jatuh sama sekali
"Kamu tuh bikin orangtua panik aja". Omel Arya juga gemes dengan sikap Aluna.
"Bunda". Bryan dan Bara berhambur memeluk Aluna.
"Hei sayang-sayang Bunda". Aluna membalas pelukkan kedua pria kecil itu.
"Bunda kenapa? Kenapa bisa sakit?". Cecar Bara segugukan.
Aluna tersenyum gemes. Dia mengelus kepala dua bocah kembar itu dengan sayang. Aluna baru tahu jika bayang yang sayang padanya.
"Bunda gak apa-apa kok sayang. Bunda tuhh lagi latihan sakit, biar ntar kalau sakit beneran udah biasa".
Kanti mencubit pipi Aluna lagi dengan gemesnya. Aluna suka bicara asal keluar saja.
"Awww, Bunda sakit". Rintih Aluna mengelus pipinya yang memerah akibat cubitan Kanti.
__ADS_1
"Kamu ya, ngomong asal keluar aja. Ngomong tuhh harus dijaga. Ingat setiap kata itu adalah doa". Omel Kanti.
"Ihhh Bunda, gak bosan apa ngomel mulu. Ntar tambah lho keriputan diwajah Bunda". Ujar Aluna menunjuk bagian wajah Kanti.
"Kamu.... Ihhhh".
Yang lain menggeleng saja. Untung saja Mira dan Yura sudah pulang. Jika kedua gadis itu masih ada, pastilah ruangan rawat Aluna akan penuh dengan suara-suara keberisikkan para gadis aneh seperti mereka. Aneh menurut Alvaro karena baru pertama kali bertemu spesies langka seperti Aluna.
"Ehem".
Alvaro berdehem dari tadi keberadaan nya seperti tak disadari oleh mereka.
"Ya ampun. Ganteng banget sihhh. Kamu siapa yaaaa?". Kanti langsung klepek-klepek melihat ketampanan Alvaro. Alvaro hanya memaksakan senyum dibibirnya.
"Perkenalkan Tante saya Al, pacarnya Aluna". Alvaro tersenyum ramah sambil mengulurkan tangannya.
"Waahhh sejak kapan Aluna punya pacar?". Kanti menyambut uluran tangan Alvaro "Gak usah panggil Tante, panggil aja Bunda. Kan calon mantu".
"Bunda". Desah Aluna.
"Diem". Hardik Kanti menatap putrinya tajam "Kamu harus sabar ya sama Aluna. Dia emang gitu suka bikin orang kesel pengen makan orang, dia juga cerewet, berisik dan buat tensi naik". Ujar Kanti. Alvaro hanya tersenyum simpul.
"Bunda". Renggek Aluna. Malu lah jika Alvaro tahu sifatnya.
"Hai Kak, Alvaro". Alvaro menyalimi Lia.
"Ohh ya kamu kerja apa?". Tanya Kanti penasaran, jika dilihat dari penampilan Alvaro dia bukan orang biasa.
"Dia kerja Supir Taksi Online Bunda". Sahut Aluna cepat.
Mereka semua memincingkan mata curiga pada Aluna. Kurang menyakinkan jika Alvaro Supir Taksi Online.
"Kamu yang bener aja Dek?". Ujar Arya "Kamu yakin Al Supir Taksi Online?". Timpal Arya tak percaya.
"Yaellah Kak. Gak percayaan amat sih sama adeknya. Jangan liat penampilan luar nya aja". Ketus Aluna.
"Udah. Udah gak usah debat. Maaf ya Nak Al". Ucap Santoso tak enak hati melihat perdebatan kedua anaknya.
"Gak apa-apa Ayah". Sahut Alvaro tersenyum.
Aluna memutar bola matanya malas. Belum saja disuruh memanggil Ayah sudah panggil Ayah duluan.
"Ohh ya Nak Al. Kamu harus jaga Aluna baik-baik ya. Soalnya kata Aluna Pak Presdir itu kejar-kejar dia lho". Aluna kikuk, sedangkan Alvaro menatap tajam Aluna "Presdir yang suka nyiksa Aluna dan bikin Aluna naik darah tiap hari. Makanya kamu jagain dia ya jangan sampai dia direbut. Bila perlu seleding saja pantatnya".
__ADS_1
Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk
Alvaro terbatuk-batuk. Sadarkah Kanti bahwa orang yang dibicarakan ada didepan matanya.
"Pak". Aluna hanya bisa menelan salivanya kasar.
"Tolong ya Al. Bunda gak mau lho ntar Aluna jatuh cinta beneran sama Pak Presdir nya itu. Soalnya kita beda jauh Al. Kalau sama kamu kan kita setara".
Alvaro langsung diam. Apa artinya jika Kanti tahu siapa dia hubungan mereka tidak akan disetujui?
"Bunda berhenti bahas itu". Seru Aluna sudah puas menahan malunya. Apalagi tatapan tajam Alvaro.
"Lah emang kenapa? Emang bener kan, kamu sama Pak Presdir itu gak selevel". Ujar Kanti "Bunda gak mau lho, kamu sampe jatuh cinta sama dia. Ingat ya Lun, kita ini cuma orang biasa. Jadi jangan ngimpi dipersunting Presdir". Ucap Kanti lagi.
"Udahlah Bunda. Gak usah bahas itu lagi. Biarkan Aluna istirahat". Ucap Santoso menangahi istrinya yang tengah mengomel.
"Ayah. Bunda. Kakak. Biar saya aja yang jagain Aluna disini". Ucap Alvaro.
"Tapi apa gak ganggu kerjaan kamu Al?". Tanya Santoso tidak nyaman
"Gak kok Yah. Nanti ditemani Leon". Sahut Alvaro.
"Lho kamu kenal sama Leon?". Tanya Lia.
"Iya Kak. Leon teman waktu di high school". Jawab Alvaro senyum.
Setelah kepulangan keluarga Aluna. Kini hanya ada Aluna dan Alvaro diruangan itu.
Seketika atmosfer diruangan Aluna menjadi dingin. Wajah Alvaro yang tadinya ramah dan lembut. Berubah dalam sekejap. Seakan pria itu mampu membekukan semua benda yang ada didalam ruang rawat Aluna.
"Pak".
Alvaro hanya diam saja. Dia tak bergeming ditempatnya. Dia hanya menatap Aluna dalam.
"Pak maaf yaaa, Bunda saya ngomong emang suka bener. Pleasee Pak jangan marah ya. Saya cuma sengaja aja kok Pak ngomongnya ehhh maksud saya gak sengaja dengan kata lain keceblosan Pak". Jelas Aluna dia mengintip wajah dingin Alvaro.
"Gak usah dibahas". Ujar Alvaro berdiri dan menaikkan selimut Aluna.
"Pak jangan marah yaa. Ntar Bapak cepat tua lho. Kalau Bapak tua, ntar gak liat saya gede donk". Celetuk Aluna.
Alvaro hanya menyembunyikan senyumnya "Bisa gak sehari aja kamu gak buat saya kesal?". Ketus Alvaro
"Gak bisa Pak". Jawab Aluna cepat.
__ADS_1
"Kamu yaa........".
Bersambung........