Pacarku Presdir

Pacarku Presdir
Pacarku Presdir-83


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Robert, Alvaro dan Rayyan bingung melihat Maria yang mengomel tidak jelas. Wanita berumur itu tampak kesal dengan bibir komat-kamit seperti dukun baca mantra.


Pasalnya wanita ini adalah wanita yang dingin tegas dan cuek. Jika marah dia hanya diam. Tidak akan bicara. Tapi kali ini sungguh mengherankan.


Entah apa yang sudah Aluna lakukan sehingga membuat wanita tua itu tampak kesal.


"Kenapa Hon?". Tanya Robert pada istrinya.


Bukannya menjawab Maria malah memutar bola matanya malas. Ingin rasanya dia menenggelamkan Aluna ke dasar laut terdalam.


Aluna dan Alya keluar dengan membawa nampan ditangan mereka. Kedua gadis itu tampan tersenyum sumringah.


"Sayang".


Alvaro langsung menghampiri kekasihnya itu. Dia takut jika Maria melakukan sesuatu yang akan membahayakan Aluna. Sebab Alvaro tahu siapa Nenek nya. Wanita itu terkenal paling kejam.


"Kamu baik-baik aja kan?". Alvaro meneliti tubuh Aluna.


"Aku gak apa-apa Kak. Minggir aku mau simpan nampannya". Aluna meletakkan nampan berisi makanan dipiringnya "Grandfa silahkan dimakan. Ini masakkan Aluna. Tadi Grandma udah makan nya dan dia bilang rasanya enak". Seru Aluna tak lupa dia tersenyum jahil.


Maria menatap Aluna tajam. Sejak kapan dia mengatakan masakkan Aluna enak, memang enak sih tapi Maria tidak mengatakan secara langsung.


"Iya Grandfa ayo dimakan. Enak banget lho, Grandma aja sampe ketagihan". Alya ikut menimpali. Dia suka melihat wajah Neneknya yang marah.


Alvaro menatap makanan yang diatas meja. Memang mirip seperti makanan kesukaan keluarga mereka. Tapi siapa yang memasak? Apakah Aluna? Dari mana gadis itu belajar.


Robert mengambil piring itu, dengan ragu pria berusia itu memasukkan makanan kedalam mulutnya.


Dia tertegun saat merasakan masakkan itu. Sangat pas dilidahnya. Rasanya gurih. Rasa manis bercampur dengan rasa asin ditambah ada rasa cream didalamnya.


"Siapa yang masak?". Tanya Robert.


"Aluna Grandfa". Sahut Alya mewakili.


Segera Robert meletakkan piring itu. Dia mengambil gelas berisi air minum yang dibawa Alya lalu meneguknya hingga tandas.


"Kenapa Grandfa?". Tanya Alya heran

__ADS_1


"Gak enak". Kilah Robert dingin. Dia menatap istrinya yang juga kesal. Apa mereka berdua sedang kompak untuk menolak Aluna?


"Gak enak ya Grandfa?". Aluna memasang wajah sedihnya "Ya udah buat Aluna aja dehh, sayang kalau dibuang mubazir". Gadis itu mengambil makanan bekas Robert tanpa rasa jijik.


"Sayang".


Aluna malah menyantap makanan sisa itu. Tak lupa ekor matanya mengintip Robert dan Maria yang tampak menelan ludahnya saat Aluna memakan makanan itu.


Padahal dalam hati mereka mengakui masakkan Aluna enak, hanya saja gengsi yang setinggi matahari itu membuat keduanya berbohong dan sedikit menyesal ketika Aluna menghabiskannya.


Rayyan menyembunyikan senyumnya. Aluna selalu bisa membuat orang terheran-heran dengan sikapnya. Tadi Rayyan pikir Aluna akan tertindas ternyata gadis itu yang malah menindas.


"Kamu benaran habisin?". Tanya Maria setengah tidak percaya.


"Iya Grandma. Kenapa?". Aluna tersenyum tanpa dosa. Padahal dalam hati sudah tertawa puas bisa membalas kedua orang itu.


"Gak". Ketus Maria "Saya mau nantang kamu buat desain gaun pengantin. Kalau kamu bisa buatnya maka kami akan merestui hubungan kalian. Tapi jika gak bisa tinggalkan Alvaro. Karena diluar sana masih banyak gadis yang sepadan sama dia".


"Grandma". Tegur Alvaro dan Alya.


"Gaun pengantin? Buat apa? Grandma mau nikah lagi?".


Robert menatap tak percaya mendengar pertanyaan Aluna. Sementara Maria mendengus kesal. Dan Alvaro terkekeh pelan.


"Kamu hina saya?". Rasanya emosi Maria sudah ke ubun-ubun.


"Emang Aluna bilang hina Grandma?". Gadis itu tampak berpikir heran "Apa yang salah sama pertanyaan Aluna?". Ujar gadis itu lagi tetap santai.


"Kamu_". Ahhh rasanya Maria ingin memasukkan Aluna ke kandang buaya "Kamu harus buat gaun pengantin". Tegas Maria


"Astaga Grandma, kira-kira kali. Aluna ini keahliannya makan sama nulis. Bukan buat gambar desain itu, yaaa jelas lah Aluna gak bisa...". Sahutnya memutar bola matanya malas.


"Berarti kamu gak pantas buat Al". Ejek Maria "Al itu harus bersanding sama wanita yang bisa segalanya". Imbuhnya lagi.


"Grandma".


"Kenapa Al? Kamu keberatan? Emang benar kok, kamu itu harus bersanding sama wanita yang multitalenta. Bukan yang cuma jago makan". Sindir Maria


Aluna terdiam sejenak. Membuat desain? Apa dia bisa? Sebenarnya Aluna ingin menikah tapi kenapa serasa ujian seni? Apa harus tahu seni dulu baru bisa menikah? Gadis menggeleng gemes dengan pikiran nya sendiri.

__ADS_1


"Grandma mau yang desainnya gimana?". Tanya Aluna santai tanpa beban.


"Yang belum pernah dirancang oleh desainer". Sebagai desainer ternama tentu saja Maria tahu desain-desain yang bagus.


"Oke.. Tapi kalau gak lulus gimana Grandma? Apa ada ujian ulang?". Tanyanya polos.


"Prufffttttt". Alvaro, Rayyan dan Alya menutup mulut mereka menahan tawa


"Gak ada. Kalau kamu gak lulus, pulang ke Indonesia sana. Gak usah temui Al lagi". Ancam Maria.


"Grandma". Lagi-lagi Alvaro mendesah melihat Maria yang terlalu perfeksionis terhadap Aluna.


Aluna berpikir sejenak. Kira-kira desain apa yang akan dibuat gadis itu? Dia tidak terlalu ahli dalam hal menggambar. Apalagi dia tidak pernah menekuni bidang itu.


"Oke". Aluna mengiyakan. Padahal dia saja tidak tahu.


"Sayang, gak usah diikutin kata Grandma. Dengan atau gak adanya restu mereka kita akan tetap nikah". Ucap Alvaro.


Aluna mencebik kesal "Ck, gak bisa gitu Kak. Gimana pun restu mereka itu penting. Emang Kakak mau kita disumpahin jadi cucu durhaka gara-gara mereka gak hadir di pernikahan kita, kan mereka rugi sendiri gak makan gratis?". Ucap Aluna.


Robert dan Maria mendelik mendengar ucapan Aluna yang terkesan blak-blakkan. Kedua pasangan itu merasa begitu heran.


"Saya juga punya tantangan". Robert menatap Aluna "Saya mau tantang kamu main catur. Kalau kamu bisa kalahin saya, saya bakal restuin hubungan kamu sama Al. Tapi jika kamu kalah jangan harap bisa ketemu Al lagi". Tandas Robert.


"Grandfa ini sebenarnya kontes seni atau ujian calon cucu mantu?". Tanya Aluna "Serasa anak SMA aja". Celetuk gadis itu.


"Kamu gak berani". Robert menatap Aluna sinis"Ya saya tahu gadis kayak kamu gak bakal tahu main catur". Ucap Robert merendahkan Aluna.


"Grandfa. Tolong jangan hina Aluna. Lagian apaan sihh pake acara main catur segala?". Sergah Alvaro "Aluna itu kesini mau foto prewedding bukan ikut kontes kalian". Ujar Alvaro.


"Kamu diam Al. Kemampuan dia akan menemukan masa depan kamu". Potong Robert.


Rayyan dan Alya hanya diam saja menyaksikan perdebatan mereka. Kedua orang itu bingung harus memberi tanggapan apa. Benar kata Aluna seperti ujian kontes saja.


Aluna gadis itu tampak diam sejenak padahal dia sedang mengatur strategi. Kedua orang itu belum tahu saja siapa dia. Jika Aluna tega bisa jadi dia meretas semua data perusahaan milik Robert hingga membuat pria tua itu bangkrut dalam hitungan detik.


Tapi ya Aluna tidak mungkin melakukan itu. Kasihan juga nanti jika Robert sampai bangkrut apalagi dia sudah tua pasti butuh banyak uang untuk dia berobat kerumah sakit karena kolesterol tinggi.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2