Pacarku Presdir

Pacarku Presdir
Pacarku Presdir-82


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Grandma".


Aluna mengelus lengan Alvaro dan tersenyum hangat seakan menandakan bahwa tidak apa-apa dengan pertanyaan Maria.


"Saya hanya staff biasa dan penulis novel online, hobby makan, Grandma. Usaha gak ada, cuma punya kedai kecil-kecilan. Orangtua masih lengkap. Punya satu Kakak laki-laki dan udah nikah, punya dua ponakkan". Jawab Aluna memperkenalkan dirinya.


Maria mendelik ketika Aluna mengatakan hobby makan.


Sementara Alvaro dan Alya menghela nafas. Jujur mereka sangat tidak nyaman dengan keadaan ini. Maria memang begitu, selalu ingin para cucu-cucu nya menikah dengan orang yangs sederajat dengan mereka.


"Hobby makan?". Robert menaikkan alisnya.


"Ya Grandfa. Hobby makan adalah salah satu cara saya menghargai karya orang lain". Ucap Aluna tersenyum simpul.


Alvaro terkekeh gemes mendengar jawaban Aluna. Aluna bilang menghargai karya orang lain padahal memang dia nya saja yang hobby makan.


"Kalau kamu hobby makan pasti kamu juga bisa masak. Gimana kalau saya test kamu untuk memasak, masakan khas disini?". Tantang Maria menatap Aluna.


"Grandma". Tegur Alvaro dan Alya.


"Ohhh bisa Grandma. Masak apa? Kalau saya yang masih dijamin...". Aluna mengacungkan jempolnya "Rasanya gak enak". Lalu dia tertawa pelan.


Diam-diam Robert menarik sudut bibirnya. Dia tersimpul mendengar ucapan Aluna.


"Kamu mau mempermainkan saya?". Ujar Maria menatap Aluna tajam.


"Astaga Grandma. Emang saya terlihat mempermainkan Grandma, kan saya cuma jawab". Jawab Aluna setengah kesal.


Maria semakin menatap Aluna tajam. Gadis ini cukup pemberani. Selama ini tidak ada yang berani membantahnya termasuk Alvaro. Alvaro akan langsung tunduk padanya.


"Oke sekarang kita masak. Saya mau liat kamu gimana caranya masak". Ucap Maria "Al, kalau dia gak bisa masak yang Grandma minta, kamu putusin dia dan tinggalin dia".


Deg


"Grandma". Alvaro mendengar tak percaya "Apa maksud Grandma?".


"Grandma rasa kamu bukan anak kecil Al. Kamu pasti ngerti maksud Grandma. Dari dulu Grandma pengen kamu nikah sama orang yang sepadan bukan yang dibawah kita. Mau ditaruh dimana muka Grandma kalau kamu nikah sama gadis yang gak bisa apa-apa". Ungkap Maria.


Alvaro benar-benar tak percaya mendengar ucapan wanita tua itu. Padahal selama ini Grandma nya adalah wanita yang selalu memahaminya.


Alya juga merasa tidak nyaman. Apalagi ada Rayyan. Dia takut jika Rayyan menilai keluarga nya sombong.

__ADS_1


Berbeda dengan Aluna. Gadis ini santai-santai saja tanpa beban. Aluna memang memiliki kepribadian santai saat mengalami masalah.


"Gak apa-apa Kak. Ayo Grandma kita masak". Aluna berdiri dari duduknya. Bukankah orang sombong harus dilawan. Tidak boleh lemah.


Maria berdiri dan menatap tak suka. Dia menatap Aluna sinis. Apa yang Alvaro sukai dari gadis ini? Biasa saja tidak cantik, kaya juga tidak.


Padahal Maria sudah menjodohkan Alvaro dengan wanita pilihan nya tapi Alvaro selalu menolak dan tidak mau.


Alya mengikuti Aluna dan Maria. Sementara Alvaro, Robert dan Rayyan menunggu diruang tamu.


"Apa yang kamu suka dari gadis itu?". Tanya Robert menatap cucunya itu.


"Aku mencintainya. Aku gak butuh alasan, apa yang membuat aku suka sama Aluna". Jawab Alvaro


"Kalau kami gak setuju gimana?". Robert benar-benar tak habis pikir. Pria kelas tinggi seperti Alvaro bisa menyukai gadis biasa seperti Aluna.


"Aku gak peduli. Dengan atau gak adanya restu kalian, aku akan tetap nikah sama Aluna". Jawab Alvaro tegas.


Rayyan hanya mendengarkan. Dia kasihan pada Aluna. Padahal harapannya melepaskan Aluna adalah untuk kebahagiaan gadis itu. Tapi malah Kakek dan Nenek nya tidak menyukai Aluna hanya karena Aluna terlahir dari keluarga biasa saja.


.


.


.


.


Aluna memasak dengan senyum lebar. Tak ada beban diwajah gadis itu. Dia memang belum pernah memasak khas makanan disini. Dengan pengetahuan dan kemampuan nya dia memasak menggunakan naluri dan hatinya.


Aluna saja tidak tahu jenis masakkan disini. Saat Maria menyebut nama masakkan itu, Aluna sedikit bingung. Tapi otaknya yang cerdas itu langsung bisa menangkap maksud Maria.


Sekitar satu jam Aluna memasak. Dia menghidangkan masakkan itu.


"Silahkan dinikmati Grandma. Jika rasanya gak enak, maklumin aja ya. Ini orang Indonesia bukan orang Inggris". Celetuk Aluna melepaskan klemek ditubuhnya.


Maria menatap masakkan itu. Sangat mirip dengan makanan kesukaan nya. Tapi apakah rasanya juga mirip?


Maria sedikit kagum dengan kemampuan Aluna. Dia pikir tadi Aluna akan banyak tanya. Tapi ternyata gadis itu menyelesaikan masakkannya dengan baik.


Maria duduk diikuti oleh Alya. Alya juga heran kenapa masakkan Aluna sangat mirip dengan makanan kesukaan Maria?


Perlahan Maria memasukkan makanan itu kedalam mulutnya. Alya yang melihat deg-degan. Neneknya ini sangat suka menilai orang lain.

__ADS_1


Sementara Aluna santai-santai saja, sambil mencomot sedikit masakkan yang dia sisihkan untuk dirinya.


Maria tertegun ketika masakkan itu masuk kedalam mulutnya.


"Enak. Kenapa mirip sekali dengan makanan kesukaan ku?". Batin Maria.


"Gimana Grandma?". Tanya Alya hati-hati.


"Gak enak". Tapi Maria malah terus memakan


"Emang kalau jujur itu menyakitkan Grandma. Mulut sama lidah kadang gak bisa diajak kerjasama". Sindir Aluna.


Alya benar-benar salut melihat keberanian Aluna. Neneknya ini adalah wanita paling ditakuti dikeluarga mereka.


Maria membanting sendok saat mendengar sindiran Aluna.


"Astaga, Grandma. Bikin kaget aja". Aluna meniup tangannya dan menyambungkannya ke telingannya.


"Kamu berani sama saya?". Sentak Maria menahan emosi.


"Gak Grandma". Sahut Aluna santai "Gak usah marah-marah mulu Grandma, ntar cepat tua ehhh emang udah tua". Aluna menepuk mulutnya yang salah bicara


"Kamu_".


Dengan wajah kesal dan mengerutu Maria meninggalkan Aluna dan Alya.


Alya tercengang. Tidak pernah dia melihat Maria mampu menahan emosi biasanya wanita itu akan mengamuk. Sementara Aluna malah menarik piring bekas Maria lalu menyantap makanan itu.


"Kak".


"Kamu mau Ya?". Tawar Aluna


"Boleh Kak". Alya ikut makan "Kakak kren banget, aku suka banget liat wajah kesal Grandma. Baru kali ini dia mau ngalah". Ujar Alya. Mereka makan sepiring berdua.


"Bukan kren yaaa. Liat nihh tangan aku bergetar menahan takut. Tadi aku pura-pura berani aja". Sahut Aluna.


Alya terkekeh. Memang benar jika tangan Aluna sedikit bergetar. Mungkin tadi gadis itu sebenarnya takut tapi pura-pura berani saja. Kalau Aluna menampilkan wajah takutnya dipastikan Maria akan semakin mencacinya


Bersambung.......


Hai guyssss. Makasih buat yg selalu nungguin kisah Alvaro dan Aluna.


Maaf yaa guys jadi curhat. Cuma mau nyemangatin Aluna aja agar semangat untuk memantaskan diri. hehhehe.

__ADS_1


Ikutin terus yaaa...


Gbu


__ADS_2