
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Leon dan Arya berangkat bersama ke rumah sakit. Sekalian hari ini mereka ingin menjemput Aluna pulang. Kanti dan Santoso yang dingin ikut menjemput Aluna dilarang oleh Arya, biar mereka dirumah saja dan menyambut kepulangan Aluna.
"Yon, beneran si Al itu Supir Taksi Online?". Tanya Arya duduk disamping Leon.
"Supir Taksi Online?". Arya mengangguk "Kata siapa Kak?". Tanya Leon heran.
"Yaa siapa lagi kalau bukan Aluna yang bilang".
Leon menggeleng Aluna benar-benar, ada-ada saja. Padahal Alvaro Presdir masih saja dia memanggilnya Supir Taksi Online.
"Aluna tuhh bohong Kak. Al Presdir diperusahaan Aluna kerja".
"Presdir?". Tanya Arya tak percaya.
Leon mengangguk "Al itu teman aku waktu di high school jadi kenal banget sama dia". Imbuh Leon.
Arya seketika terdiam. Dia merasa tidak bisa membiarkan Aluna dan Alvaro, mereka berbeda.
"Kenapa Kak?". Tanya Leon heran melihat Arya yang tiba-tiba terdiam.
"Gak, Kakak kek ngerasa Aluna dan Alvaro gak cocok aja".
"Gak cocok gimana nya Kak?". Tanya Leon heran "Jangan bilang karena beda derajat?". Arya mengangguk.
"Kak, keluarga Al itu bukan orang yang suka memandang rendah orang. Mereka orang-orang yang humble dan juga menyenangkan. Aku kenal banget kok sama keluarga Al". Jelas Leon.
Arya menghela nafas "Kakak sihh gak masalah Yon. Tapi kamu tahu sendiri kan Bunda itu gimana orangnya? Kakak cuma gak mau aja saat Aluna dan Alvaro benar-benar saling cinta malah gak direstuin sama Bunda". Sahut Arya.
__ADS_1
"Udah Kak gak usah dipikirin. Masalah itu biarkan mereka berdua aja yang urus. Aku yakin kok, Al bisa yakinin Bunda". Ujar Leon lagi.
Arya hanya bisa menghela nafas berat. Seumur hidup Aluna tidak pernah pacaran dan sekali dapatnya pacar seorang Presdir. Padahal Arya berharap jika Aluna menjalin hubungan dengan Rayyan. Arya menyukai sifat Rayyan dan sopan dan juga pekerja keras serta keluarga Rayyan juga baik dan menerima Aluna apa adanya.
Sedangkan keluarga Alvaro, Arya takut jika nanti Aluna malah sakit sendiri. Menjalin hubungan dengan orang yang berada pastinya memiliki banyak konflik karena perbedaan kasta dan jabatan.
.
.
.
.
Yura dan Mira bergegas membereskan mejanya. Mereka mendapat kabar bahwa Aluna pulang hari ini dan mereka berdua berniat untuk menjemput Aluna. Karena Aluna adalah sahabat yang tidak bisa diabaikan.
"Iya gak apa-apa Yur. Lagian Yandi juga sama gak bisa ikut". Sahut Mira.
Mereka berdua berjalan menuju koridor perusahaan. Tampak langkah kedua gadis itu tergesa-gesa tak sabar bertemu Aluna.
Sampai dirumah sakit keduanya langsung turun dan masuk kedalam, menuju ruangan Aluna.
Disana tampak Arya, Leon, Alvaro dan juga Aluna.
"Lun". Yura dan Mira masuk "Siang Pak Al, Kak Arya, Kak Leon". Sapa Yura ramah.
"Siang juga Yur". Balas Arya.
Yura dan Mira menghampiri Aluna yang masih diperiksa oleh dokter penyakit dalam.
__ADS_1
"Nona Aluna diharapkan anda menjaga pola makan ya, jangan makan yang pedas-pedas, asam dan yang dingin. Kalau bisa setiap pagi minum air hangat-hangat kuku. Nanti saya akan resepkan obat untuk anda". Ucap dokter.
"Makasih dokter baik". Sahut Aluna tersenyum ramah.
"Elu udah enakkan Lun? Gak ada yang sakit lagi Kak?". Tanya Yura meneliti tubuh Aluna.
"Kagak. Gue udah sehat". Sahut Aluna turun dari ranjang. Infusenya sudah terlepas.
"Kamu mau kemana?". Tanya Alvaro pada Aluna. Aluna belum berganti baju.
"Toilet. Kenapa? Bapak mau ikut?". Ketus Aluna.
Tanpa permisi Alvaro langsung mengendong Aluna dan menawan gadis itu masuk kedalam kamar mandi.
Mereka yang lain hanya melonggo tak percaya terutama Leon yang memang tahu sifat Alvaro.
Yura dan Mira memasukan barang-barang Aluna bersama Sonny. Tentu saja atas perintah Alvaro. Ruangan rawat Aluna seperti hotel bintang lima yang lengkap dengan segala fasilitas didalam kamar inap itu.
Setelah mengurus administrasi, akhirnya Aluna diperbolehkan pulang oleh dokter.
Saat pulang pun Alvaro dan Aluna sempat-sempatnya berdebat. Aluna protes saat Alvaro ingin mengendong nya, bukan apa dia malu. Yang sakit itu bagian hatinya bukan kakinya. Namun Alvaro tak mengubris dia trauma saat Aluna pingsan dan takut jika gadis itu kembali jatuh lagi seperti waktu itu.
"Udah Lun, gak apa-apa digendong aja sama Al". Ucap Leon yang mulai jenggah dengan perdebatan kedua orang itu.
"Iya dehhh".
Akhirnya Aluna mengalah dan membiarkan Alvaro mengendongnya. Sedangkan Alvaro tersenyum geli melihat wajah cemberut Aluna. Dia gemes sendiri pada gadis itu.
Bersambung....
__ADS_1