Pacarku Presdir

Pacarku Presdir
Pacarku Presdir-49


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Alvaro turun dari mobilnya. Hari ini ada yang berbeda yang Alvaro. Biasanya dia akan menampilkan wajah dingin, datar, tanpa ekspresi seolah tak dapat disentuh oleh siapapun.


Yang berbeda juga hari ini Sonny tidak bersamanya. Biasanya assisten nya itu bagai paku lekat dipapan dengannya. Dimana ada Alvaro pasti ada Sonny, tapi hari ini wajah Sonny tak terlihat karena dia sudah duluan.


Alvaro tersenyum sumringah. Pesona Presdir yang satu ini, membuat kaum hawa guling-guling saking terpesona nya.


"Pagi Pak". Sapa beberapa karyawan yang dilewati oleh Alvaro, termasuk Yura dan Mira.


"Pagi". Alvaro membalas dengan senyuman manis.


Para kaum hawa hampir jatuh tergelatak, melihat senyum Alvaro seperti sihir yang siap menumbangkan mereka.


Yura dan Mira tercenggang termasuk semua karyawan yang menyapa Alvaro. Tak pernah pria dingin itu mau membalas sapaan orang lain. Biasanya jangankan membalas, melihat saja dia enggan dan seperti tidak tertarik.


"Mir, elu ngerasa ada yang aneh gak?". Yura menyenggol lengan Mira saat Alvaro sudah melewati mereka berdua.


"Apa?". Tanya Mira heran dan tak mengerti.


"Gue curiga Aluna sama Pak Al jadian bener". Bisik Yura sangat pelan.


Mira mendelik kearah Yura. Yang benar saja Aluna dan Alvaro memiliki hubungan.


"Kok elu bisa mikir gitu?". Seru Mira "Elu tahu kan kalau dari dulu, Aluna tuhh punya rasa sama Kak Ray dan begitu juga Kak Ray. Gak mungkin Aluna nerima cinta pada Al". Tungkas Mira tidak percaya.


"Coba elu liat, tadi Aluna datang pagi-pagi, plus nyapa kita dan dia juga cantik hari ini. Lagi, Pak Al, gak pernah dia senyum sama kita apalagi balas sapaan kita. Coba elu pikir". Ujar Yura.


Mira tampak berpikir. Dia kembali teringat pada Aluna hari ini yang tidak seperti biasa. Gadis itu datang cepat, wajahnya juga bahagia tanpa beban serta cantik tak seperti biasanya.


"Iya juga yaaa, kok guee baru sadar yaa". Ucap Mira.


"Nahhh itu". Sahut Mira "Tapi kalau bener Aluna sama Pak Al. Gimana Kak Ray?". Gumam Mira.


"Itu juga yang guee pikirin". Ujar Yura "Udahlah. Ntar kita tanya langsung aja sama tuhh di tukang makan". Ucap Yura "Gue balik keruangan dulu".


"Iya gue juga mau balik".


Mereka masuk kedalam ruangan masing-masing. Ruangan Yura dan Mira berdampingan, jadi mereka kadang saling menyapa dari kuat


Alvaro berjalan terus. Entahlah dia ingin selalu tersenyum, ketika mengingat bahwa Aluna juga mencintainya. Tak disangka oleh Alvaro bahwa cinta nya terbalas. Rasanya Alvaro tidak sabar untuk melamar Aluna dan memiliki gadis itu seutuhnya.


Alvaro berhenti didepan ruangan Aluna. Ruangannya dan Aluna memang bersebelahan. Rasanya Alvaro ingin masuk dan menyapa Aluna, tapi pasti gadis itu akan mengoceh marah padanya.


Alvaro mengembuskan nafasnya pelan, lalu kembali melangkah masuk kedalam ruangannya.


"Pagi Tuan". Sapa Sonny berdiri dan memberi hormat pada Alvaro.

__ADS_1


"Pagi Sonny".


Sonny mendengar tak percaya saat Alvaro membalas sapaannya. Biasanya Alvaro hanya mengangguk saja. Wajah Alvaro juga tampak bahagia hari ini.


Alvaro masuk kedalam ruangannya. Dia duduk dikursi kebesaran nya sambil menyenderkan punggungnya.


Alvaro menaikkan sedikit lengan jasnya, dia melipat tangan didada. Dia menggeleng gemes ketika teringat Aluna mengecup pipinya dengan sayang.


"Ehhmm, Aluna". Dia berdehem berusaha menghilangkan rasa gugupnya ketika mengingat Aluna "Aku gak sabar ngelamar dia. Kira-kira kapan Dad dan Mom sempat melamarnya?". Gumam Alvaro.


"Tapi, Aluna bilang jangan dulu". Alvaro mengembuskan nafasnya kasar "Gadis itu benar-benar buat aku gemes". Alvaro menggeleng sambil tersenyum-senyum sendiri seperti orang tak waras.


.


.


.


.


"Lun, kamu minta tanda tangan Pak Presdir dulu yaa. Ini dokumen yang kamu buat kemarin. Saya udah acc tinggal taken Pak Presdir yang kurang". Andre meletakkan beberapa berkas dimeja Aluna.


"Ohh iya Pak". Dengan cepat Aluna berdiri "Cuma ini Pak?". Aluna mengambil.


Andre merasa aneh dengan ucapan Aluna. Biasanya gadis ini akan protes dan menolak dengan keras jika disuruh masuk kedalam ruangan Alvaro. Tapi kali ini dia justru terlihat senang dan bahagia. Ada apa sebenarnya? Apa benar Alvaro dan Aluna punya hubungan khusus? Pikir Andre.


"Gak Pun, cuma itu aja". Sahut Andre.


Andre hanya mengangguk. Bukan hanya Andre yang heran tapi juga Indah, Rara, Wawan dan Benny. Tak biasanya Aluna seceria itu saat pergi keruangan Presdir.


Aluna memeluk berkas itu dengan senyuman manis. Dia menyapa siapa saja yang berpapasan dengannya.


"Pagi Pak Sonny". Sapa Aluna pada Sonny.


"Ehhh pagi Bu Aluna. Ada yang bisa saya bantu?". Tanya Sonny dia cukup terpesona dengan penampilan Aluna hari ini.


"Saya mau minta tanda tangan Pak". Sahut Aluna tersenyum. Pokoknya dia ingin tersenyum.


"Iya Bu. Masuk saja". Sonny membukakan pintu ruangan Alvaro.


"Makasih Pak". Senyum Aluna manis.


Aluna masuk dan Sonny menutup pintu.


"Sayang".


Alvaro yang tengah asyik dengan laptop didepannya langsung berdiri saat melihat gadis yang dari tadi dia pikirkan masuk kedalam ruangannya.

__ADS_1


"Haiii Bapak Pacar". Sapa Aluna.


Alvaro berjalan kearah Aluna. Dia memberikan pelukkan hangat pada gadis itu.


"Kangen". Peluk Alvaro.


"Baru aja ketemu". Aluna menggeleng gemes. Supir Taksi Online ini bisa bucin juga padanya.


Alvaro melepaskan pelukannya dan terkekeh. Tangannya terulur mengusap kepala Aluna yang tingginya hanya sebatas dada.


"Ada apa ehmmm?". Tanya Alvaro lembut "Duduk dulu yukkk".


Mereka berdua duduk disoffa ruang kerja Alvaro. Tampak keduanya saling menatap dengan damba.


"Ohh ya Pak, ini taken dulu. Proyek pembangunan hotel kemarin. Semua datanya udah saya buat". Aluna menyerahkan dokumen pada Alvaro.


Alvaro mengambil dokumen itu dan membuka isinya "Apa kamu cantumkan ukuran nya juga?". Tanya Alvaro tangannya menyimak lembar demi lembar dokumen itu.


"Udah Pak disitu rangkup semua. Bapak bisa liat". Aluna menujuk beberapa gambar yang memang sudah dicantumkan ukurannya.


Alvaro mengangguk. Meski keduanya tengah bucin parah, tapi jika menyangkut masalah pekerjaan maka keduanya akan kompak seperti biasa.


"Bagus. Saya gak nyangka proyek ini udah hampir 50% selesai padahal belum dua bulan". Ucap Alvaro menandatangani berkas-berkas itu.


"Kan nothing impossible Pak, kalau emang dikerjain". Sahut Aluna.


"Kalau lagi berdua jangan panggil Pak. Ngerasa kek Bapak kamu aja". Protes Alvaro menutup berkasnya


Aluna terkekeh "Iya Kak Al". Sahut Aluna penuh penekanan.


"Gak bisa panggil sayang gitu?". Alvaro memutar bola matanya malas.


"Gak. Takut keceplosan entar". Sahut Aluna menyusun kembali berkas itu.


"Gak sweet banget sihhh". Sindir Alvaro.


Aluna tertawa kecil "Yang harusnya sweet itu cowok. Cewek mah menyesuaikan aja". Sahut Aluna "Ya udah saya balik keruangan dulu ya. Semangat kerjanya". Aluna berdiri diikuti oleh Alvaro.


"Iya kamu juga. Ingat jangan deket-deket Andre. Saya gak suka". Pesan Alvaro tegas.


Aluna mencebik "Iishhh Bapak gimana sihh, saya tuhh satu ruangan sama Pak Andre. Masa iya gak dekat. Yang bener itu walaupun dekat yang lain, tapi hatinya tetap disini". Aluna menunjuk dada Alvaro sambil mengedipkan mata jahil.


Alvaro tertawa melihat mata Aluna seperti itu justru membuat Aluna tambah imut.


"Yahhh itu maksud saya. Semangat kerjanya cup". Dia mengecup kening Aluna.


"Saya pamit".

__ADS_1


Alvaro membuka pintu untuk Aluna saat melihat gadis itu sedikit kesusahan membawa berkas dipelukkannya.


Bersambung.....


__ADS_2