
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Leon bolak-balik kamar mandi. Perut pria itu benar-benar terasa mulas dan sakit berdenyut-denyut. Wajah Leon sudah terlihat begitu pucat.
"Kamu kenapa Leon?". Lia panik melihat wajah adiknya
"Sakit perut Kak". Rintih Leon memegang perut nya "Aku ke kamar mandi dulu". Leon kembali ke kamar mandi.
Sementara Lia heran. Apa yang Leon makan sehingga membuat pria itu sakit perut. Leon adalah pria yang menjaga kesehatan makan saja dia tidak mau sembarangan. Tapi kenapa bisa sakit perut.
"Kenapa sayang?". Tanya Arya melihat istrinya sedikit panik.
"Leon sayang, sakit perut".
Kening Arya berkerut "Sakit perut?". Ulang Arya memastikan.
Lia mengangguk "Gak tahu dia makan apa! Biasanya dia selalu jaga pola makan". Ucap Lia.
Arya terdiam sejenak. Dia sedikit curiga ini ada hubungannya dengan Aluna. Sebab semalam dia mengintrogasi kedua putra nya yang ketahuan keluar kamar malam-malam.
Sementara Aluna santai dengan laptop dipangkuannya sambil tangannya mencomot cemilan ditoples. Tangan kanannya menekan-nekan tombol keyboard laptop. Sedangkan tangan kirinya, terus mengambil cemilan dalam toples.
Kanti berjalan dengan wajah merah padam. Dia memegang spatula dengan bercakak pinggang.
"Alunaaaaaaaaaaaaaaaa". Pekik Kanti.
Bukannya terkejut gadis itu malah memutar bola matanya malas.
"Gak usah teriak-teriak Bunda. Ini bukan dihutan". Ketus Aluna "Lagian Bunda kenapa sihh pake panggil nama Aluna segala? Mau minta jatah bulanan? Bilang aja gak usah malu". Ujar gadis itu santai.
"Kamu yang ambil mangga Bunda dikulkas?". Kanti menatap putrinya tajam "Berapa kali Bunda ingatin Aluna, gak boleh makan mangga kamu itu sakit maag, asam lambung kamu bisa kumat lagi". Omel Kanti
"Emang Aluna yang ambil, tapi bukan Aluna yang makan kok. Swear". Gadis itu mengangkat tangannya dan menunjukkan jadi V nya.
"Kalau bukan kamu yang makan siapa lagi?". Ketus Kanti "Kucing?". Dia menatap putrinya tajam
"Wajah kamu pucat banget Leon. Kakak bawa kerumah sakit ya?".
Arya dan Lia memapah Leon duduk disoffa. Wajah pria itu benar-benar pucat. Entah berapa banyak cabe yang diberikan Aluna pada mangga yang dimakan Leon.
"Gak usah Kak. Aku takut disuntik". Walau dia dokter tapi Leon sungguh takut sekali disuntik. Pasti sakit, pikir pria itu.
"Leon kenapa?". Kanti yang tadinya mengomel ikut melihat Leon "Pucat banget kamu Leon!". Ujar Kanti juga panik.
Aluna melihat kearah Leon. Gadis itu tersenyum geli. Kasihan juga Kakaknya. Tapi setidaknya Leon tidak merenggek lagi patah hati, dia lebih fokus pada sakit diperutnya.
"Kamu makan apa Leon kok bisa sampai sakit perut sih?". Tanya Kanti mengurut tangan Leon "Lia buatkan adikmu, teh hangat". Suruh Kanti.
"Iya Bunda". Lia pergi ke dapur.
"Aku makan mangga semalam Bun". Sahut Leon sambil meringgis.
__ADS_1
"Makan mangga?". Beo Arya dan Kanti
"Kok bisa makan mangga malam-malam?". Tanya Kanti tak habis pikir
"Aluna yang kasih katanya bisa hilangin patah hati".
Kanti dan Arya menatap Aluna yang tersenyum tanpa dosa. Gadis itu malah memalingkan wajahnya pada layar laptopnya.
"Aluna". Arya bercakak pinggang menatap adiknya tajam "Kenapa kamu kasih Leon mangga?". Tatap Arya
Aluna malah santai "Kan Aluna cuma lagi usaha biar Kak Leon gak nangis mulu gara-gara mikirin Tiara". Jawab Aluna.
"Iya dia emang gak nangis gara-gara Tiara. Tapi nangis gara-gara sakit perut". Ujar Arya dengan nafas memburu. Pantas saja dia sudah curiga dari semalam.
"Gak usah ngomel mulu Kak. Cepat tua ntar". Cibir Aluna
"Kamu itu yang bakal bikin Kakak cepat tua". Omel Arya
Leon terus meringgis kesakitan. Membuat Arya dan Kanti panik. Mau dibawa kerumah sakit pria itu sama sekali tidak mau.
"Leon kenapa?". Santoso meletakkan tasnya "Astaga Leon kenapa kamu bisa sepucat ini?". Kali ini Santoso yang panik.
"Semua ulah anak gadis mu Yah. Dia kasih Leon rujak mangga malam-malam katanya biar bisa hilangin sakit hati". Ujar Kanti.
Santoso melihat kearah Aluna. Gadis itu tampak serius menatap layar laptopnya.
"Sayang".
"Iya Ayah". Aluna meletakkan laptop nya.
"Beneran?". Tanya Santoso lembut. Aluna tidak boleh dikasari.
"Iya Ayah". Jawab Aluna polos "Menurut buku yang Aluna baca kalau lagi patah hati ya makan cabe banyak-banyak. Kan kalau sakit perut fokusnya ke perut bukan ke hati". Jelasnya santai.
Arya dan Kanti menggelengkan kepala mendengar ucapan Aluna. Sementara Santoso menghela nafas panjang. Lagi putrinya ini jahil luar biasa.
"Tapi kan itu bahaya buat kesehatan sayang. Aluna liat kan Kakal Leon sakit perut sampai wajahnya pucat gitu?". Ucap Santoso sabar.
Aluna mengangguk lagi "Tapi kan terbukti Kak Leon gak lagi nangisin Tiara". Masih berusaha membela diri "Iya kan Kak Leon?".
"Aku mau ke kamar mandi". Pria itu kembali ke kamar mandi.
Arya menatap adiknya. Mau bagaimana pun Aluna memang sudah begitu jadinya?
"Itu akibat ulah ka_".
"Sttttttttttt. Gak usah marah-marah Kak. Biar Aluna yang obatin".
Gadis itu melangkah kedapur. Entah apa yang akan dia lakukan. Melihat wajah Leon pucat membuatnya merasa bersalah juga.
"Kamu mau ngapain Lun?". Tanya Lia membawa segelas teh panas ditangannya.
__ADS_1
"Mau mandi Kak". Jawab Aluna asal.
Alis Lia saling bertautan "Mandi kok didapur?". Tanya Lia heran.
"Aisshhh Kakak ini sama aja kayak Kak Arya. Udah dehh Kakak kesana aja". Usir Aluna
Lia hanya menggeleng gemes sambil tersenyum simpul.
Aluna mengambil pisau. Lalu gadis itu mellengang pergi ke taman belakang untuk mengambil beberapa lembar daun jambu biji.
Kata orang tua zaman dulu jambu biji berkhasiat meredakan sakit perut.
Lalu gadis itu kembali ke dapur dan menumbuk daun jambu biji itu hingga halus. Setelahnya Aluna memasak tumbukkan daun jambu biji itu kedalam panci.
Setelah dirasa sudah matang Aluna menuangkannya ke dalam gelas, sebelum sudah dinginkan beberapa menit.
Gadis itu meniup-niup asap yajg mengempul dari gelas.
Aluna membawa air tumbukkan jambu biji itu dengan pelan takut tumpah.
"Kak Leon minumlah". Aluna menyedorkan gelasnya
"Apa itu Dek?". Tanya Arya.
"Tai kambing". Ketus Aluna "Minum Kak Leon". Ujar Aluna
Leon menggeleng "Baunya gak enak. Rasanya juga pasti gak enak". Tolak Leon.
"Dasar dokter gadungan minum obat aja gak mau". Cibir Aluna "Kak Arya buka mulutnya Kak Leon". Tintah Aluna.
"Tapi_".
"Kak Arya mau kalau Kak Leon mati sekarang?". Ancam Aluna.
"Ngomong itu yang benar dikit kali Lun?". Tegur Kanti.
"Alah cepetan".
Arya membuka paksa mulut Leon dibantu oleh Santoso. Sementara Aluna memasukkan air daun jambu biji itu kedalam mulut Leon
"Huweekkkkkkkkkk". Secepatnya Aluna menutup mulut Leon.
"Telan Kak". Seru aluna.
Glukkkkkkkkkkkkkkkkk
Mereka semua menatap kearah Leon yang menelan air jambu biji itu dengan kasihan.
Hampir tiga puluh menit perut Leon sudah mendingan. Tidak lagi mulas kuat meski masih terasa sakit.
Bersambung...
__ADS_1