Pacarku Presdir

Pacarku Presdir
Pacarku Presdir-73


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Alvaro menatap Aluna dengan penuh cinta. Jarinya menuntun nya untuk memasukkan cincin berlian itu dijari manis Aluna. Seiring cincin dipasang di jari Aluna, begitu juga jantung Alvaro yang berdisko dibawah sana.


Aluna melakukan hal yang sama. Gadis itu benar-benar gugup. Biasanya dia memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi. Tapi tidak tahu kenapa, malam ini dia rasanya lemes sekali? Mungkin karena lamaran Alvaro kali.


Alvaro mengecup kening aluna dengan sayang. Meresapi kecupan nyaman dikening gadis itu.


"Boleh cium dibibir gak?". Goda Alvaro setengah berbisik.


"Boleh aja, kalau mau buat mulut kamu kayak ikan koki". Tatap Aluna tajam.


Alvaro menelan salivanya. Calon istrinya ini gadis bar-bar jadi harus waspada. Pokok nya Alvaro harus segera menikahi Aluna, biar tidak penasaran bagaimana rasanya kenikmatan itu.


"Selamat putri Bunda. Bentar lagi jadi bini orang. Ingat bangun tidur gak boleh kesiangan. Layani suaminya dengan baik". Pesan Kanti memeluk putrinya.


"Ck, ini hanya tunangan Bunda bukan menikah". Ketus Aluna.


"Sama aja. Bentar lagi kan nikah, ya udah sekalian aja". Sahut Kanti.


Jadilah Ibu dan anak itu saling berdebat satu sama lain, hanya memperdebatkan masalah tunangan dan menikah.


"Udah Bun. Gak usah debat mulu, malu ahh didengar tamu". Bisik Santoso pada istrinya


Kanti mencebik kesal. Aluna adalah copyan dirinya. Bawel. Berisik. Sompak. Bar-bar dan suka bikin kesal.


Alvaro dan Aluna terlihat bahagia. Pasangan serasi itu tengah berbunga-bunga. Senyum mengembang seakan takkan memudar oleh apapun. Kedua nya tampak cocok.


Acara digelar mewah hanya saja yang hadir hanya dua keluarga besar dan teman-teman Aluna dan Alvaro.


Karyawan kantor belum ada yang tahu hubungan mereka kecuali Andre. Andre yang diundang oleh Alvaro tidak berani hadir. Dia ingin memulihkan hatinya.


.


.


.


.


Rayyan menghela nafas panjang. Dia menatap Alya dengan tersenyum. Sejak Alya pingsan kemarin, keduanya menjadi dekat.

__ADS_1


"Jadi Al dan Aluna udah tunangan?". Tanya Rayyan sekali lagi untuk memastikan bahwa pendengarannya tidak salah


"Iya Ray". Senyum Alya "Masih suka sama Kak Nana?". Alya menatap bola mat Ray. Dia sangat menganggumi pria tampan yang satu ini.


Rayyan tak menjawab dia mengalihkan tatapannya kedepan. Jika ditanya suka, tentu saja dia suka. Selalu suka. Akan begitu. Karena dia memang menyukai Aluna sejak mereka kecil.


"Rasa suka itu masih ada. Akan tetapi ada. Tapi_". Rayyan menghela nafas panjang "Aku mencoba melepas Aluna. Kebahagiaan lebih penting dari pada perasaan ku. Aku menyukai sejak kami anak-anak. Kami tumbuh bersama. Kami berbagi cerita. Dia orang pertama yang tahu masalah ku. Aku orang pertama yang menjadi tempatnya bersandar. Gak ada yang nyangka kalau kami gak berjodoh". Rayyan tersenyum kecut "Semua orang menganggap kami pasangan. Aku juga begitu. Tapi gak dengan Aluna, dia hanya menganggapku sebagai Kakak".


Alya terdiam mendengar ucapan Rayyan. Tangannya terulur mengusap bahu pria tampan itu.


"Ikhlasin Kak Al sama Kak Nana. Aku yakin kok kamu pasti dapat cewek yang bakal nerima kamu apa adanya".


Rayyan menatap Alya. Jika dilihat-lihat Alya ini memang cantik. Gadis keturunan Indonesia-Inggris itu memiliki paras yang cantik.


Sudut bibir Rayyan tersenyum. Dulu dia selalu risih jika Alya mengejarnya. Tapis sekarang, entah kenapa dia merasa nyaman dan aman. Berbeda melihat Marissa, dia biasa saja dan wanita itu cenderung membosankan.


"Kenapa kamu senyum-senyum?". Alya jadi salah tingkah melihat senyum Rayyan.


"Makasih ya". Ujar Rayyan.


"Makasih buat apa?". Kening Alya berkerut.


Hati Alya langsung meleleh melihat senyum Rayyan. Apalagi suaranya yang lembut seperti salju membuat bunga-bunga bertebaran dihati Alya.


Alya mengangguk senang. Senang sekali. Ahhh seandainya Alya berada dikamar atau tempat lain. Gadis itu akan melompat kesenangan. Bahagia tentunya.


"Gak apa-apa Ray". Ujar Alya tersenyum hangat sambil menampilkan rentetan gigi putihnya.


"Jalan yuk".


Rayyan berdiri sambil mengulurkan tangannya agar Alya menyambut nya.


Sejenak Alya tertegun. Namun dia menyambut uluran tangan Rayyan dengan senyum mengembang. Wajahnya terlihat begitu bahagia.


.


.


.


.

__ADS_1


Mira menghela nafas panjang. Dia teringat dengan pembicaraan Ayahnya tadi malam yang mendesaknya untuk menikah. Jika menikah dengan Yandi mungkin Mira bahagia, tapi Mira disuruh menikah dengan lelaki pilihan orangtuanya. Itu semua pasti bujukkan si Nenek Sihir, kata Aluna.


"Loe sakit Mir?". Aluna menempelkan punggung tangannya dikening Mira, lalu menempelkan juga dipantatnya "Gak panas". Gumam gadis itu.


Mira semakin kesal. Bukannya dihibur sama Aluna malah diledek.


"Bisa gak sih Lun, loe gak buka tensi gue naik dulu". Gerutu Mira "Gue lagi galau". Gadis itu merebahkan kepalanya diatas meja.


Hari ini Yura tidak masuk. Dia sedang mengalami ngidam berat, jadi tidak mampu beraktivitas dan terlalu lelah.


"Gak bisa Mir. Itu hobby gue". Aluna duduk dan meletakkan nampan yang berisi tiga mangkuk bakso "Gak asyik gak ada Yuyur. Gak ada yang bisa gue ledekin. Gue suka banget liat muke juteknya". Aluna tertawa cekikikan.


Sementara Mira menggeleng kepala. Jika ada Yura sudah pasti mereka berdua akan berdebat habis-habisan.


"Sttttttttttt. Lun loe sadar gak kalau dari tadi semua karyawan merhatiin loe?". Bisik Mira.


Aluna melirik sekitarnya. Memang benar jika mereka jadi pusat perhatian. Tapi Aluna santai-santai saja tohh dia tidak dikasih makan oleh mereka kan.


"Maklum orang cantik emang suka dilirik". Celetuk Aluna.


Mira mendengus kesal "Tingkat kepercayaan diri loe terlalu tinggi Lun". Sindir.


"Bukankah kita memang harus punya tingkat kepercayaan yang tinggi". Aluna terkekeh melihat wajah kesal Mira "Mir kalau loe punya masalah cerita aja ke gue. Kagak usah malu. Palingan masalah loe makin berat". Aluna tertawa lebar suka sekali menggoda sahabatnya itu.


Mira memutar bola matanya malas. Meski begitu Aluna selalu punya solusi untuk setiap masalahnya.


Mira menghela nafas panjang "Semalam Bokap sama Nenek Sihir datang ke apartement gue dan mereka desak gue biar cepat nikah_".


"Ya udah nikah aja. Kalau loe butuh modal kan bisa ngutang dulu, duit amplop undangan bisa buat bayarnya ntar". Potong Aluna sambil menguap baksonya.


"Dodol. Dengarin dulu". Tangan jari telunjuk Mira mendorong kening Aluna.


"Ihhhh kebiasaan dehh loe Mir". Kesal Aluna.


Mira kembali menghela nafas "Gue disuruh nikah sama cowok pilihan mereka. Ya gue gak bisa donk, gue cinta mati sama Yandi".


Aluna malah cuek dan tidak mendengar curahan hati sahabatnya itu. Dia makan dengan lahap tanpa peduli pada ocehan Mira.


Sementara Mira menggeleng saja. Sudah biasa jika dia curhat diabaikan oleh Aluna. Aluna akan merespon curhatan hatinya setelah perutnya kenyang.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2