
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Alvaro, Aluna dan Andre sampai ditempat peninjauan lokasi. Dari tadi Alvaro terus saja menempel pada Aluna. Dia tidak memberi Andre celah untuk mendekati pacarnya. Pokoknya Aluna tidak boleh dekat dengan siapapun kecuali dirinya.
Aluna mendengus kesal. Dia menatap Alvaro tajam namun Alvaro cuek-cuek saja dan tidak mau tahu.
"Pak bisa gak sihhh gak usah nempel terus?". Bisik Aluna takut Andre mendengar suaranya.
"Gak bisa. Aku takut Andre ngedekatin kamu". Ketus Alvaro juga sambil berbisik.
"Terserah". Ujar Aluna. Percuma juga berdebat dengan Supir Taksi Online itu.
"Gimana Pak?". Tanya Andre "Apa ada yang kurang menurut Bapak?". Ujar Andre lagi.
"Semuanya bagus. Saya suka konsep kalian. Saya rasa hotel ini nanti akan menjadi hotel besar dikota ini". Ucap Alvaro yakin.
"Iya Pak. Semua konsepnya dari Bu Aluna". Sahut Andre.
Alvaro menatap Aluna. Tak pernah Aluna bercerita jika dia membuat konsep seperti itu. Alvaro kagum melihat konsep hotel yang Aluna pakai. Kekasih nya ini tidak hanya cantik tapi juga cerdas dan pintar.
"Dari mana kamu dapat konsep itu?". Tanya Alvaro penasaran.
"Terinspirasi dari novel Pak. Saya masukin aja langsung ke konsep hotel ini. Ya gak tahu sihh apakah ntar pas hotel ini udah kebangun dan bisa dipakai jadi hotel termewah kek novel saya". Sahut Aluna
"Saya rasa akan mirip novel kamu". Ujar Alvaro tersenyum bangga "Saya puas dengan kerja keras kalian. Jadi kira-kira kapan hotel ini bakal terbangun utuh?". Sambung Alvaro sambil melihat lokasi hotel yang sudah terbangun sebagian besar.
"Kalau gak ada kendala dua Minggu lagi Pak". Sahut Andre
Alvaro hanya manggut-manggut paham. Aluna dan Andre memang tim solid yang patut diacungi jempol. Kinerja mereka tak perlu diremehkan lagi. Selain kompak keduanya memang memiliki kemampuan yang memadai. Tak heran jika Aluna dan Andre selalu mendapat predikat staff terbaik setiap tahunnya. Karena memang kinerja mereka begitu memukau.
Cukup lama mereka meninjau lokasi. Aluna seperti musik DJ yang tidak berhenti mengoceh. Dia menjelaskan dengan detail tentang hotel yang mereka bangun. Alvaro saja terngap-ngap mendengar celotehan Aluna. Benar-benar somplak diatas rata-rata.
"Ya udah. Kita sambil makan siang baru balik kekantor". Ucap Alvaro.
__ADS_1
"Baik Pak". Sahut Aluna dan Andre bersamaan.
.
.
.
.
"Sampai kapan elu bakal kayak gitu terus Ray?". Bayu menghela nafas panjang.
"Gue gak tahu Bay. Sulit banget buat lupain Aluna. Tiap kali mau lupain dia, gue malah makin kangen sama dia. Kangen omelannya. Kangen manjanya. Kangen cara makannya dia. Gue kangen semua tentang Aluna. Kenapa ya Bay, Aluna gak pernah bisa buka hati buat gue? Gue sayang banget sama dia. Sayang banget". Ucap Rayyan lirih.
Bayu dan Yandi saling melihat. Saat ini mereka tengah mengobrol dicaffe sambil makan siang. Kebetulan Yura dan Mira tidak makan siang bersama mereka.
"Elu harus berusaha Ray. Karena mau gimana pun Aluna udah jadi milik Al". Sahut Yandi "Gue yakin kok, nanti elu bakal dapet cewek yang benar-benar sayang sama elu". Sambung Yandi. Kasihan sekali melihat Rayyan yang frustasi.
"Kenapa elu gak buka hati aja buat Alya, adiknya Al?". Saran Bayu.
Rayyan menggeleng "Gue sama sekali gak ada rasa sama dia". Sahut Rayyan lemes "Hanya Aluna yang bisa buat gue tertarik". Imbuh Rayyan.
Bayu dan Yandi menghela nafas panjang. Memang kalau yang namanya berhubungan dengan hati akan membuat orang lupa diri.
"Ya trus, emang elu mau gini terus Ray?". Bayu geleng-geleng kepala "Didunia gak cuma Aluna yang bisa elu cintai. Masih banyak cewek diluar sana yang bakal Nerima elu apa adanya". Imbuh Bayu.
Rayyan tak menjawab. Dengan bahasa apapun orang lain menghiburnya takkan membuat dia melupakan Aluna. Aluna bagai magnet yang mampu menariknya mendekat. Dia juga tidak tahu, kenapa dia bisa segila ini pada Aluna. Padahal gadis itu sama dengan gadis pada umumnya. Mungkin yang membedakan nya cara makan Aluna saja.
.
.
.
__ADS_1
.
Alvaro dan Andre menelan saliva kasar saat melihat Aluna makan dengan lahap. Meski bukan pertama kali melihat Aluna makan seperti itu tetap saja Alvaro menggeleng salut.
"Pelan-pelan makannya sayang. Gak bakal ada yang rebut makanan kamu". Alvaro tersenyum hangat sambil mengelap sudut bibir Aluna membersihkan makanan yang menempel disana.
Jangan tanya bagaimana terkejutnya Andre mendengar panggilan sayang dari Alvaro. Apa Alvaro dan Aluna sudah jadian?
"Aku lapar banget". Sahut Aluna "Pacar gak makan?". Tanya balik Aluna. Dia tidak sadar jika Andre sedang bersamanya.
Andre semakin terkejut. Pacar? Apa maksudnya pacar? Benarkah Alvaro dan Aluna pacaran? Batin Andre.
Alvaro tersenyum hangat "Aku masih kenyang. Gak doyan makan yang beginian, pengennya makan, masakkan kamu". Goda Alvaro tersenyum jahil.
Aluna terkekeh "Besok aku masakkin lagi ya. mau menu apa?". Ucap Aluna sambil mengunyah makanan.
"Habiskan dulu makannya sayang. Jangan ngomong sambil makan". Tegur Alvaro. Aluna mengangguk paham dan melanjutkan makannya.
"Pak Andre".
"I-iya Pak?". Sahut Andre gegelapan. Dia masih belum sadar dari keterkejutan nya.
"Saya dan Aluna berpacaran Pak. Jadi Bapak gak usah heran liat kita".
Andre mendengar tak percaya. Benar dugaannya bahwa Aluna dan Alvaro berpacaran
"Iya Pak Andre. Pak jangan bilang siapa-siapa dulu yaa. Saya belum siap jadi artis dadakan. Cukup Bapak aja yang tahu, karena udah ngeliat kita". Sambung Aluna sambil mengelap mulutnya dengan tissue. Dia sudah menyelesaikan makanan nya.
"I-iya Lun". Sahut Andre gugup
Pupus sudah harapan nya mendekati Aluna. Saingannya bukan orang biasa. Andre pikir Rayyan yang akan mendapatkan hati Aluna. Tapi ternyata Presdir-nya sendiri.
Bersambung....
__ADS_1