Pacarku Presdir

Pacarku Presdir
Pacarku Presdir-71


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Bagaimana Dokter?". Tanya Rayyan


(Dalam bahasa Inggris ya guys pertanyaan tapi author buat bahagia Indonesia saja, takut salah, malu sendiri ntar dibaca ribuan orang wkwkwkw).


"Dia sedang mengalami Dismenore". Jawab dokter wanita itu dengan lembut.


"Penyakit apa itu dokter? Apa itu berbahaya? Apa ada obatnya? Tolong lakukan yang terbaik Dok". Ucap Rayyan panik.


Dokter itu malah terkekeh mendengar pertanyaan Rayyan. Maklum laki-laki pasti tidak tahu.


"Dismenore itu berhubungan dengan kewanitaan atau sakit di bagian pinggang akibat haid yang tidak lancar. Tidak berbahaya Tuan. Semua wanita mengalami Dismenore. Saya sudah memberikan obat anti nyeri untuknya. Disarankan agar dia istirahat saja".


"Baik Dok". Sahut Rayyan.


Rasanya Rayyan ingin menenggelamkan wajah nya kedalam lautan. Dia pikir itu penyakit mematikan yang berbahaya ditubuh Alya. Sungguh Rayyan malu sekali, untung saja tidak ada orang yang mengenalnya.


Rayyan masuk kedalam ruangan Alya. Tampak Alya masih terbaring hanya saja dia sudah sadar.


"Ya".


"Ray".


Alya tersenyum senang tak mengira jika pria ini lah yang membawanya kerumah sakit. Tadi saja pria itu tidak peduli padanya dan cuek-cuek bebek.


"Masih sakit?". Jujur Rayyan kasihan melihat wajah panik Alya.


"Dikit. Udah biasa. Tiap kali tamu bulanan pasti sakit". Jawab Alya "Makasih ya udah anterin aku kesini. Kamu gak perlu tungguin aku, ntar aku hubungin Robert buat nemanin". Ucap Alya tersenyum lembut. Dia tahu jika Rayyan tidak akan mampu berlama-lama menunggunya disini.


"Gak. Aku aja yang jagain kamu. Bilang teman kamu cancel aja datang kesini". Ujar Rayyan.


Entah kenapa Rayyan rasanya tidak rela jika ada pria lain yang menemani Alya.


"Tapi aku gak mau ngerepotin kamu Ray". Ucap Alya tak enak hati.


"Gak kok. Ntar kamu kasih aku alamat kamu tinggal, biar aku anterin sampe rumah". Ujar Rayyan.


"Iya". Alya tersenyum hangat.


Setelah dua jam kemudian, Alya sudah diperbolehkan pulang. Dia memang selalu mengalami Dismenore setiap kali ada tamu bulanan. Sudah biasa. Tapi sakitnya yang luar biasa. Hanya para wanita yang tahu.


Rayyan menjadi sangat perhatian. Melihat Alya pingsan tadi dia ketakutan bukan main. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang berbahaya pada Alya? Dia tidak akan memaafkan dirinya.


"Pelan-pelan".


Rayyan memapah Alya masuk kedalam mobilnya. Dia membantu gadis itu dengan sabar dan ikhlas. Alya merasa senang. Entah mimpi apa dia semalam bisa bersama Rayyan hari ini. Biasanya pria itu selalu dingin dan cuek padanya, jangankan perhatian menatap saja kadang Rayyan enggan.


"Kalau bilang ya Yaa". Ucap Rayyan sesekali melirik Alya.

__ADS_1


"Iya Ray".


Sampai dirumah mewah Alya. Rayyan langsung turun dan dibantu oleh pengawal yang berjaga didepan.


Alya memang lahir di Inggris, tapi sejak kecil dia pindah ke Indonesia.


"Pelan-pelan Ya". Ucap Rayyan "Ayo".


"Selamat datang Nona Muda dan Tuan Muda". Sapa para pelayan berbaris didepan.


"Alya, astaga. Kamu kenapa?". Tanya seorang wanita paruh baya panik.


"Tidak apa-apa Grandma, tadi hanya kecapean saja". Sahut Alya.


"Ya sudah ayo masuk". Wanita itu tampak panik apalagi wajah Alya yang pucat.


"Grandma perkenalkan ini Ray, dia teman sekampus ku".


"Rayyan Grandma".


"Ohh iya Nak Ray selamat datang dirumah kami". Senyum wanita itu


"Grandfa mana?". Alya tampak melirik kesana-kemari mencari Kakeknya.


"Biasa. Ada di perpustakaan baca buku". Sahut Ruth, neneknya Alya.


"Silahkan diminum Nak Ray".


Di Inggris Alya tinggal bersama Kakek dan Neneknya. Kedua orangtua dari Zein memang masih hidup diusia yang sudah rentan.


.


.


.


.


"Pagi Pak Andre". Sapa Aluna sambil masuk kedalam ruangan "Pagi semua". Sapanya juga pada keempat orang yang satu ruangan dengannya.


"Pagi Lun". Sahut mereka bersamaan.


Sejak pacaran dengan Alvaro, Aluna tidak pernah lagi terlambat. Dia datang tepat waktu, semua pekerjaan beres. Semangat nya membara. Prestasi nya juga melambung tinggi.


"Lun, kamu tolong anter ini diruang Pak Presdir ya. Ini laporan proyek kita yang kemarin. Dua bulan lagi hotel ini rencananya bakal opening jadi butuh biaya. Kamu buat proposal sesuai kesepakatan kita ya". Andre memberikan beberapa dokumen pada Aluna.


"Oke Pak. Ini aja Pak". Aluna membolak-balik dokumen itu "Ini total dana yang mau diajukkan?".


"Iya itu Lun. Kalau bisa harus lulusin ya, soalnya hotel kita bakal jadi hotel terbesar di Jakarta". Jelas Andre lagi

__ADS_1


"Oke Pak. Saya langsung kerjakan".


Aluna berjalan dengan sumringah menuju ruangan Alvaro.


"Pagi Pak Sonny".


"Pagi juga Bu Aluna". Balas Sonny tersenyum manis "Mau ketemu Bapak ya Bu?".


Aluna mengangguk "Iya Pak. Mau minta tanda tangan".


"Silahkan masuk Bu. Bapak ada didalam".


"Makasih Pak Sonny". Aluna masuk.


"Sayang". Alvaro langsung berdiri menyambut pacar langka nya itu "Ada apa hmm?". Pelukan hangat Alvaro berikan pada Aluna.


"Mau minta tanda tangan". Aluna menujukkan beberapa berkas ditangannya.


"Taro dulu situ. Kamu sini".


Alvaro mengambil berkas ditangan Aluna lalu meletakkannya di atas meja. Dia menarik gadis itu agar duduk soffa bersamanya. Setiap hari bertemu tak membuat nya bosan malah rasanya ingin terus bertemu Aluna setiap hari.


"Kenapa?". Aluna menatap Alvaro bingung.


"Gak cuma kangen aja plus mau nanya kapan kamu siap aku lamar?". Alvaro menoel hidung Aluna dengan gemes. Lama-lama dia tidak tahan melihat Aluna pengen digigit.


Aluna menghela nafas panjang. Kasihan juga Alvaro jika menunggu lama. Meski Aluna tahu jika Alvaro akan selalu menunggu nya. Dia hanya tidak mau membuat Alvaro menunggu lama.


"Aku siap kok kapan aja. Ajak Daddy sama Mommy ke rumah yaa". Senyum Aluna.


"Makasih ya sayang". Alvaro menarik gadis itu dipelukkan.


"Aku punya sesuatu". Alvaro melepaskan pelukannya. Lalu dia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya


"Ini". Alvaro membuka kotak berwarna merah.


"Pacar....".


"Please jangan ditolak yaaa. Aku pengen kamu pake ini, biar serasi sama kalungnya".


Alvaro memasangkan cincin berlian itu dijari manis Aluna. Cincin yang dia pesan jauh-jauh hari. Dia suka melihat Aluna memakai cincin, apalagi jari-jari tangan Aluna yang lentik dan berisi terlihat lucu dan menggemaskan.


"Pas banget dijari aku". Aluna menatap cincin itu "Gak mahal kan Pacar?". Tanya Aluna penasaran.


"Gak kok. Gak bakal buat aku bangkrut. Kamu tenang aja". Senyum Alvaro.


"Makasih yaaa. Tapi jangan sering-sering kasih aku perhiasan. Aku kurang suka pakenya, ini aja karena menghargai kamu. Kalau gak pasti udah aku lepas".


Wajah Alvaro langsung masam. Niat hati ingin Aluna berbunga-bunga dan memeluknya senang. Tapi gadis itu malah mengatakan jangan sering-sering. Huffffffffffft, gagal sudah rencana romantisan gara-gara si Aluna.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2