
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Alvaro membuka map yang diberikan Aluna. Dalam hati bertanya apa sebenarnya isi map itu selain kertas. Sementara Aluna tersenyum simpul sambil mencomot cemilan dalam toples yang dia letakkan diatas.
Mata Alvaro membulat sempurna saat melihat isi dari map itu.
"Sayang".
"Yup, itu hasil peluncuran tiga aplikasi buatan aku. Diterima dipasaran dan pergunakan banyak orang. Mungkin enam bulan kdepan perusahaan Grandfa bisa tergeser hanya masuk sepuluh besar". Aluna tersenyum devil "Omset perusahaan ini bisa mencapai milyaran bulan ini. Itu hanya laporan pertengahan bulan belum akhir bulan".
"Sayang". Alvaro menatap Aluna dengan berkaca-kaca.
"Perusahaan yang aku pimpin juga sudah mendapat rekomendasi dibeberapa negara yang memiliki perusahaan IT. Mereka mengajukan kerjasama dengan perusahaan ini dengan nilai yang fantastis. Termasuk perusahaan Papa Anggara dan Maulana Group". Jelas Aluna.
Aluna mengambil ponselnya. Lalu menunjukkan layar ponselnya pada Alvaro.
"Ini target beberapa bulan kedepan".
Alvaro melihat layar ponsel Aluna. Lagi-lagi pria itu mengangga. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Gadis disampingnya ini membuat nya bungkam seketika.
Alvaro adalah pengusaha muda yang banyak diperhitungkan dalam dunia bisnis. Tapi dia tidak bisa menyaingi kemampuan Aluna yang mampu mengembangkan perusahaan hanya dalam waktu satu bulan lebih. Seperti kata Aluna, bisa jadi perusahaan yang dia pimpin ini menggeser perusahaan Robert dan Perusahaan yang Alvaro pimpin
"Sayang kamu hebat". Alvaro menarik Aluna dalam pelukan nya "Aku sampai gak tahu mau ngomong apa. Kamu itu benar-benar ajaib dan sesuatu". Dia mengecup ujung kepala wanita itu
Aluna melingkarkan tangannya dipinggang Alvaro dan tersenyum manja.
"Aku gak hebat sama sekali. Aku hebat karena cinta. Kamu tahu gak aku sering lho tidur meluk laptop dikamar. Ehh pas aku langsung mimpiin kamu, cepat-cepat aku bangun dan kerja lagi". Ujar Aluna "Cinta yang memotivasi aku. Kamu tahu gak, aku kerja bukan hanya siang malam. Tapi sore subuh juga aku kerja, demi mencapai target". Aluna tersenyum melihat kekasihnya yang menatapnya dengan dalam.
"Sayang". Alvaro tidak bisa berkata apa-apa lagi terlalu banyak kejutan yang Aluna berikan padanya.
Aluna menyenderkan kepalanya dengan manja didada bidang Alvaro. Dia juga sedang bahagia. Pokoknya bahagia lah. Tapi perjalanan nya masih panjang.
"Kamu bangga punya kamu". Alvaro mengecup kening Aluna "Makasih ya sayang udah mau berjuang bareng aku. Udah mau memantaskan diri sama aku. Maaf ngebuat kamu jadi gini". Ucap Alvaro menatap Aluna sendu.
__ADS_1
Aluna menggeleng "Aku justru bersyukur Grandfa dan Grandma kasih aku tantangan ini. Aku jadi bisa berkembang dan berprestasi. Gak usah minta maaf mulu, belum Idul Fitri". Aluna melepaskan pelukannya.
Alvaro mengangguk bangga. Aluna adalah nafas hidupnya. Alvaro takkan bisa hidup tanpa Aluna. Baginya Aluna adalah seluruh jiwa dan perasaan nya.
"Aku ada meeting sama karyawan. Mau ikut gak?". Tawar Aluna sambil bangkit berdiri.
"Boleh. Aku liat gimana kamu jadi pemimpin". Alvaro tersenyum menggoda.
"Ohh mau menguji saya Pak Presdir?". Aluna menatap Alvaro.
"Yup. Karena ini adalah ujian calon istri, jadi saya harus menyaksikan nya".
Mereka berdua tertawa bersama. Aluna mengambil iPad nya.
Mereka berdua keluar dari ruangan CEO menuju ruangan meeting yang sudah disiapkan oleh para karyawan.
Aluna benar-benar butuh asisten atau sekretaris yang bisa membantu pekerjaan nya.
Karyawan Aluna yang berjumlah dua puluh orang itu berdiri menyambut kedatangan kedua pasangan serasi itu.
"Silahkan duduk Pak Presdir". Ucap Aluna tersenyum pada kekasihnya.
"Terima kasih Ibu Aluna". Jawab Alvaro duduk.
Aluna menatap para karyawan nya. Seperti nya butuh karyawan baru.
"Gimana apa kalian udah siapin data yang saya minta?". Tanya Aluna. Dia menyambung kan laptop yang ada disana dengan sambungan infocus.
"Udah Bu".
Meeting dimulai. Alvaro menatap Aluna dengan senyum mengembang. Gadis yang biasanya berisik. Ternyata saat bekerja begitu serius dan cara Aluna memimpin meeting sangat baik.
Tampak Aluna menjelaskan dengan detail tujuan meeting mereka. Mulai dari program kerja. Budget. Serta pendapatan bulanan pun Aluna bahas disana.
__ADS_1
Karyawan Aluna adalah orang berkompeten yang rata-rata memiliki pendidikan ekonomi bisnis. Bahkan ada yang S2 juga disana. Gaji yang Aluna berikan untuk para karyawan nya pun adalah gaji yang cukup besar dari perusahaan lainnya termasuk perusahaan Alvaro.
"Helmi, apa kamu udah urus masalah asisten saya?". Tanya Aluna mematikan layar infocus nya.
"Udah Bu. Udah ada beberapa yang saya interview. Hanya tinggal menemui Ibu saja". Jawab Helmi.
"Baik terima kasih". Ucap Aluna "Pak Anton tolong buka lowongan pekerjaan untuk dua puluh orang lagi, tempatkan dimasing-masing divisi. Cari yang kompeten, memiliki skill dan niat untuk kerja. Masalah pendidikan itu urusan belakang. Gak masalah kalau cuma tamat SMA yang penting punya kemampuan".
"Baik Bu". Sahut Anton.
"Oke sekian dulu meeting kita hari ini. Kalian boleh kembali bekerja ditempat masing-masing. Ingat jaga kesehatan dan jangan lupa makan". Aluna menutup rapat hari ini.
"Baik Bu terima kasih".
Aluna membereskan barang-barang bekas meetingnya. Sementara Alvaro terus menatap Aluna dengan kagum dan senyum mengembang.
"Gak usah senyum-senyum sendiri Pak. Ntar kemasukkan lho. Saya gak punya rumus buat usir roh halus ditubuh Bapak". Sindir Aluna.
Alvaro malah tertawa lebar "Sayang, kita jalan yuk. Besok aja lagi selesain semuanya". Ajak Alvaro.
"Mau kemana?". Tanya Aluna
"Terserah mau kemana. Shopping atau nonton". Ujar Alvaro ikut berdiri dari duduknya
"Gimana kalau kita ke pantai aja. Sekalian ajak Kak Leon, kasihan dia lagi patah hati". Saran Aluna.
"Boleh. Ajak si Dicky juga biar sekalian kita". Alvaro merangkul bahu kekasihnya. Dia mencium pipi Aluna dengan gemes "Aku bangga punya kamu". Godanya.
"Ya ya Pak Presdir". Ketus Aluna. Alvaro tertawa lebar
Keduanya keluar dari ruangan meeting. Terus mengobrol sambil tertawa tanpa beban. Senyum itu ibadah semakin banyak kita tersenyum semakin banyak juga pahala yang kita dapatkan. Ehem, jika begitu tersenyum saja terus.
Bersambung.....
__ADS_1