Pacarku Presdir

Pacarku Presdir
Pacarku Presdir-93


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Selamat siang Bu Aluna". Helmi masuk kedalam ruangan Aluna bersama seorang gadis.


"Siang Helmi". Aluna menyambut dengan senyum.


"Ini asisten baru yang Ibu minta. Saya sudah mencari sesuai dengan yang Ibu mau". Ujar Helmi


"Selamat siang Bu. Perkenalkan saya Emma". Gadis itu memberi hormat pada Aluna.


"Ohh iya Kak Emma. Selamat datang dan selamat bergabung bersama Aluna Group. Semoga bisa bekerjasama dengan baik". Aluna menjabat tangan Emma.


"Terima kasih Bu sudah menerima saya". Balas Emma tersenyum manis.


Emma gadis berambut sebahu dengan potongan polwan. Tubuhnya tinggi dan body nya bak gitar spanyol. Selain cantik, dia juga lulusan luar negeri yang mengerti bidang IT. Sesuai dengan keinginan Aluna agar asistennya selalu serba bisa.


Emma juga jago bela diri dan sopan dengan senyum manisnya. Gadis berusia 28 tahun itu, memiliki tekad yang kuat bekerjasama dengan Aluna.


Sebelumnya Aluna memang mencari file aissten seperti Emma. Bukan hanya cantik tapi juga cerdas. Punya niat untuk bekerja.


"Kalau begitu saya permisi Bu". Helmi mellengang pergi dari ruangan Aluna.


"Kak Emma, ini agenda dan kegiatan saya sehari-hari. Mohon Kakak pelajari. Jika bingung, Kakak boleh tanya dan meja Kakak ada didepan ruangan saya". Jelas Aluna.


"Baik Bu". Emma mengambil map dari tangan Aluna.


"Ohh ya Kakak asal mana. Blasteran?". Tanya Aluna yang memang melihat wajah Emma seperti bukan Indonesia asli.


"Iya Bu. Ayah saya orang Belanda dan Ibu orang Padang". Sahut Emma tersenyum. Benar kata Helmi kalau Aluna ini tipe Boss yang cerewet.


"Ohhh iya Kak. Ya udah Kakak balik ke meja Kakak aja. Jangan lupa buat siapin data meeting ya Kak. Di map itu udah lengkap semuanya". Ucap Aluna.


"Baik Bu. Saya permisi".


Alun kembali melanjutkan pekerjaannya. Gadis itu tampak serius jika bekerja.


Aluna kembali meluncurkan beberapa aplikasi buatannya. Aluna yakin jika dalam waktu enam bulan ini dia bisa menjadi jawara dari pertandingan ini. Lihat saja nanti dia akan menggeser posisi Robert.


Dua bulan berlalu perusahaan dan butik yang Aluna pegang berkembang pesat. Anggara dan Dicky ikut bergabung bersama perusahaan Aluna. Karena perubahan mereka juga sama-sama bergerak dibidang IT.


Omset yang Aluna dapatkan dari kedua usaha itu mencapai milyaran selama dua bulan berjalan. Tentu saja semua tak lepas dari kerja keras Aluna serta semua karyawan nya yang bekerja kompenten dan profesional.

__ADS_1


Aluna juga membuat beberapa aplikasi games yang juga buming dalam beberapa minggu ini. Zaman sekarang banyak sekali pencinta games jadi akan banyak anak-anak muda yang menggunakan aplikasi itu.


"Hoammmmmmmm". Siang-siang Aluna sudah mengantuk "Ngantuk banget". Setiap malam dia akan bergadang.


Gadis itu merebahkan kepalanya diatas meja. Lalu menjadikan tangannya sebagai bantal. Tidak lama kemudian dia terlelap dan terdengar dengkuran dari mulut gadis cantik itu.


.


.


.


.


Sonny membuka pintu mobil agar Alvaro keluar dari sana.


Alvaro keluar. Wajah pria itu tampak datar tak berekspresi. Dia mendengus kesal saat Aluna tidak menjawab telponnya padahal tadi pagi mereka sudah janjian akan makan siang berdua.


Alvaro masuk kedalam gedung perusahaan Aluna. Sementara Sonny mengekor dari belakang.


"Selamat siang Presdir Al". Sapa semua karyawan sambil memberi hormat pada Alvaro.


"Ibu ada didalam ruangan nya Pak". Sahut Helmi.


Alvaro berjalan menghampiri ruangan Aluna. Disana sudah ada Emma yang sedang serius dengan berkas ditangannya.


Sonny maju duluan. Alvaro paling tidak suka berbicara dengan wanita lain selain Aluna dan Ibu nya.


"Permisi".


Emma yang sedang serius dengan berkas ditangannya mengangkat pandangan. Gadis itu membeku melihat wajah tampan Sonny.


"Astaga, siapa cowok ganteng ini?". Batin gadis itu menatap Sonny tak berkedip.


"Nona". Sonny melambaikan tangan diwajah Emma.


"Ehhh iyaaaa". Emma langsung tersadar. Gadis itu berdiri "Ada apa Pak?". Emma berusaha biasa saja padahal dia sudah melompat kegirangan karena diberikan kesempatan untuk melihat pria tampan seperti Sonny.


"Apa Ibu Aluna ada?".


Kening Emma berkerut. Dia tidak kenal pria ini. Lalu Emma melirik kearah Alvaro yang memasang wajah datar.

__ADS_1


"Ohh iya Pak Alvaro ya. Silahkan masuk Pak. Ibu ada didalam". Ucap Emma baru sadar. Sebelumnya Helmi sudah menjelaskan pada Emma bahwa Alvaro adalah kekasih Aluna.


"Baik terima kasih".


Sonny membuka pintu ruangan Aluna


"Silahkan Tuan".


Alvaro masuk tanpa mengucapkan kata terima kasih pada Sonny. Sedangkan Sonny kembali menutup pintu dan menunggu diluar.


"Sayang".


Alvaro mengembuskan nafasnya kasar. Pantas saja Aluna tidak menjawab telponnya ternyata gadis itu tertidur dengan posisi tangannya sebagai bantal.


Alvaro berjalan pelan menghampiri meja Aluna. Dia berjongkok menatap wajah kekasihnya itu. Alvaro menyingkirkan anak rambut Aluna lalu menyelipkannya ke telinga gadis itu.


Alvaro tersenyum simpul. Wajah tidur Aluna sungguh sangat menggemaskan. Imut. Lucu. Andai saja Aluna setuju, Alvaro pasti sudah mengajak Aluna kawin lari tanpa restu dari Kakek-nenek nya. Tapi ya seperti yang sudah Alvaro katakan jika Aluna itu spesies langka yang harus dilestarikan.


Alvaro mengangkat tubuh gadis itu lalu memindahkannya disoffa. Ruangan Aluna tidak memiliki kamar istirahat seperti ruangan Alvaro. Maklum perusahaan baru.


Alvaro memangku gadis itu seperti anak kecil. Untung saja Aluna tidak memakai rok, hanya celana tissue yang melekat dibagian kaki gadis itu.


Alvaro mengelus kepala Aluna dan menyandarkan kepala gadis itu didada bidangnya. Seperti seorang Ayah yang menidurkan putrinya.


"Maafin aku sayang. Kamu harus kerja sekeras ini demi aku". Lirih Alvaro "Aku janji sayang, aku akan selalu ada disamping kamu. Aku akan berjuang bareng kamu".


Saking kelelahan nya Aluna sama sekali tidak ingat jika dia tidur dipangkuan kekasihnya itu. Aluna memang kerja keras untuk mencapai targetnya. Dia ingin membuktikan pada Robert dan Maria bahwa sekalipun dia orang miskin dan hanya mampu menyelesaikan pendidikan strata satu, tapi dia memiliki keahlian dan kemampuan untuk mencapai cita-cita nya.


Elusan tangan Alvaro dikepala Aluna perlahan semakin pelan. Hingga akhirnya pria itu ikut tertidur dengan bersandar disoffa sambil memangku Aluna yang bersandar didada bidangnya. Keduanya tertidur begitu lelap dan melewatkan jam makan siang mereka.


.


.


.


.


Sonny berdiri seperti manekin didepan ruangan Aluna. Sementara Emma curi-curi pandang. Asisten berkacamata tebal itu sungguh sangat tampan. Terlihat sekali bahwa pria itu blasteran.


"Hai kita belum kenalan. Saya Emma". Emma mengulurkan tangannya ksa

__ADS_1


__ADS_2