
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Rayyan dan Alya sudah sampai di bandara. Rayyan beberapa kali menghela nafas panjang. Enam bulan sudah dia meninggalkan tanah air tercinta dan sekarang dia kembali lagi. Padahal selama di Inggris perasaan nya cukup membaik.
"Ayo sayang".
Alya masih memeluk lengan Rayyan dengan manja tanpa peduli dengan wajah tak bersahabat kekasihnya itu.
Supir pribadi Rayyan datang menjemput ke Bandara. Sebenarnya Antonio dan Erika ingin menjemput Rayyan di bandara tapi lelaki itu menolak.
Mereka berdua masuk kedalam mobil. Alya tampak tak sabar ingin segera sampai kerumah. Dia sungguh merindukan kedua orangtuanya dan sang Kakak yang dingin itu.
Sampai dirumahnya Alya langsung turun. Rayyan ikutan turun.
"Daddy. Mommy". Seru Alya.
"Alya". Jane memeluk putrinya "Kenapa gak kasih tahu Mom kalau kamu mau pulang?". Jane melepaskan pelukan putrinya.
"Hehhe kejutan". Alya cenggesan "Oh ya Dad. Mom. Kenalin ini Ray pacar Alya". Alya memperkenalkan Rayyan pada kedua orangtuanya.
"Ray Tante. Om". Rayyan mencium punggung tangan kedua pasangan paruh baya itu.
"Iya Nak Ray". Jane tersenyum simpul.
Setelah lama mengobrol dengan orangtua Alya. Rayyan berpamitan untuk pulang.
Rayyan menatap kosong keluar jendela. Kepadatan kota Jakarta tak berubah sama sekali.
"Aluna". Gumamnya.
Nama gadis itu masih saja terpatri diotaki Rayyan. Entahlah begitu sulit melupakan Aluna. Sangat sulit malah. Jujur selama di Inggris dia sudah sedikit bisa melupakan Aluna. Dan sejujurnya Rayyan tak ingin pulang tapi Alya memaksanya.
Sampai dirumahnya Rayyan langsung turun. Dia terdiam sejenak melihat kearah Rumah Aluna. Sudut bibir pria itu tertarik teringat waktu kecil dia dan Aluna sering bermain diteras depan rumah Aluna.
"Ray".
Lamunan pria itu terbuyarkan saat mendengar namanya dipanggil oleh sang Mama.
"Mama". Rayyan memeluk Erika "Ray kangen sama Mama". Ucapnya.
"Mama juga kangen sama kamu. Ayo masuk".
Mereka masuk. Koper Rayyan dibawa masuk oleh supir nya.
.
.
.
.
__ADS_1
Leon menghela nafas panjang. Setelah insiden makan mangga pedas kemarin. Leon sedikit bisa melupakan Tiara.
"Aluna. Aluna". Pria itu menggeleng mengingat kejahilan Aluna "Entah kenapa gue bisa punya adek senakal dia? Bodohnya lagi gue mau-mau aja ikutin perintah dia". Rayyan mengggeleng sendiri sambil tersenyum gemes.
"Kak Leon". Ranny masuk kedalam ruangan Leon.
"Ehhh iya Ran". Ranny tersenyum simpul
"Makan siang yuk". Ranny menunjukkan bekal ditangannya "Aku bawa bekal lebih". Ucap Ranny.
"Boleh Ran". Leon ikut duduk disoffa samping Ranny.
Ranny membuka kotak bekalnya. Dia sengaja membawa dua kotak agar diberikan pada Leon.
Leon tersimpul melihat betapa telatennya Ranny membuka kotak bekalnya. Selama melanjutkan S2 kedokteran nya di luar negeri. Dia terbiasa mandiri dan hidup sendiri di negeri orang.
"Makan Kak". Ranny menyerahkan kotak makanan nya
"Makasih Ran". Ucap Leon.
Mereka berdua makan dan sesekali diselingi obrolan hangat.
"Ran".
"Iya Kak".
Leon mengambil tissue lalu membersihkan bibir Ranny yang belepotan. Jantung Ranny berdegup kencang. Begitu juga Leon. Mereka berdua saling tatap cukup lama.
Seketika suasana canggung. Mereka makan dalam diam. Kedua orang itu menjadi salah tingkah. Entah kenapa jantung juga berdebar kuat. Sebelum nya tidak ada getaran aneh. Apalagi Ranny tahu bahwa Leon baru saja patah hati.
"Gimana keadaan perut Kakak?". Ranny menoleh kearah Leon.
"Udah lebih baik Ran".
Ranny tergelak mendengar cerita Aluna yang memaksa Leon makan mangga muda pedas. Astaga Aluna memang jahil luar biasa. Dari dulu, Aluna selalu membuat ulah. Tak ubahnya gadis itu selalu membuat Rayyan menjadi korban.
Aluna sering juga bolos sekolah. Rayyan lah yang dipanggil. Karena Aluna takut memberitahu Arya atau Santoso.
Keduanya selesai makan. Ranny membereskan bekas makanan mereka.
"Ran, nanti pulang kerja kita nonton ya. Kebetulan aku beli dua tiket. Sekalian sama Aluna dan Alvaro". Ajak Rayyan menujukkan dua tiket
"Iya Kak". Senyum Ranny "Aku balik ke ruangan ku dulu yaaaaa". Ucap Ranny
"Iya Ran". Sahut Leon tersenyum manis.
Leon menatap punggung Ranny yang menghilang dibalik pintu. Sudut bibir pria itu tertarik. Leon baru sadar jika Ranny itu cantik. Benar kata Aluna, jika Ranny itu gadis baik-baik dan juga tampil apa adanya. Leon bersyukur setidaknya Ranny tidak seperti Aluna yang akan membuat Leon pusing tujuh keliling.
.
.
__ADS_1
.
.
Aluna mengeliat. Dia merasa ada yang aneh. Kenapa serasa ada yang memeluknya.
Aluna membuka matanya perlahan. Betapa dia terkejut melihat wajah Alvaro.
"Astaga". Gadis itu menutup mulutnya "Kakak". Aluna menepuk pipi Alvaro "Lepasin Kak". Aluna risih sendiri. Dan ini lagi, kenapa mereka sangat intim sekali.
Alvaro bergerak matanya begitu berat dibuka. Mungkin pertama kalinya tidur memeluk gadis itu. Meski pun dalam posisi duduk seperti ini.
"Sayang".
Aluna segera turun dari pangkuan Alvaro. Dia menelisik pakaiannya.
Alvaro mengucek matanya. Dia menatap Aluna yang menelisik pakaiannya.
"Jangan berpikiran yang buruk-buruk sayang. Aku mencintaimu gak mungkin melakukan hal yang salah". Ketus Alvaro bangun
Aluna menghela nafas lega. Dia tahu jika kekasihnya itu tidak melakukan hal yang tidak-tidak padanya.
"Kok Kakak bisa ada disini? Kenapa gak bangunin aku?". Cecar Aluna duduk disamping Alvaro.
"Aku telponin kamu tapi gak diangkat. Aku khawatir makanya aku kesini. Gak tega juga mau bangunin kamu". Tugkas Alvaro.
"Ohhh iya Kak. Aku ada janji sama Kak Leon mau nonton bareng.. Ayo Kak". Aluna menarik tangan kekasihnya itu.
Hari sudah sore. Kelamaan tidur keduanya tidak ingat waktu. Entah bagaimana nasib Sonny yang berdiri didepan pintu ruangan Aluna
"Ayo Kak".
Aluna menyambar tasnya lalu menarik Alvaro keluar dari sana. Alvaro geleng-geleng kepala mendengar.
"Astaga".
Aluna terkejut melihat Sonny dan Emma yang sudah memasang wajah horor. Kedua asisten itu tampak kesal menunggu didepan rumah.
"Kau kenapa Sonny?". Tanya Alvaro heran "Kenapa wajahmu kesal begitu?".
"Tidak Tuan". Kilah Sonny. Padahal dalam hati sudah menyimpahi Tuan nya..
Aluna menahan tawa. Kalau yang namanya tidur, Aluna sama seperti makan tidak bisa menolak dan selalu lupa diri.
"Kak Emma. Pak Sonny. Mending kalian ikut kami aja nonton". Aluna menyerahkan dua tiket pada dua orang itu "Anggap aja buat bayar lembur kalian". Aluna cekikikan. Dia tidak bisa bayangkan betapa membosankan nya menunggu dari siang sampai sore. Yang Aluna herankan kenapa kedua orang itu betah menunggu disana.
"Makasih Bu".
Emma dan Sonny tersenyum senang. Lumayan dapat tiket gratis.
Bersambung.....
__ADS_1