
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Kak Ray".
Aluna baru saja sampai dirumah dia heran melihat Rayyan yang berdiri didepan rumahnya.
"Ada apa Kak?". Tanya Aluna heran. Penampilan Rayyan begitu berantakkan "Kakak baik-baik aja?". Tanya Aluna sedikit panik, apalagi Rayyan hanya diam.
"Na". Lidah Rayyan terasa kelu.
"Kenapa Kak?". Tanya Aluna.
Rayyan menghela nafas panjang "Kakak mau pamit". Sahut Rayyan sendu.
Kening Aluna berkerut "Emang Kakak mau kemana? Kok pake acara pamitan segala?". Cecar Aluna.
"Kakak mau ambil gelar Professor di Oxford Inggris". Ucap Rayyan sakit sebenarnya mengatakan kata pamit. Tapi ini adalah cara satu-satunya agar dia bisa melupakan Aluna.
"Kakak yakin?". Tanya Aluna sekali lagi.
Sudah lama Rayyan mendapatkan beasiswa mengambil gelar Professor disana. Tapi pria itu selalu menolak karena tidak bisa jauh dari Aluna. Tapi sekarang apalagi yang perlu dia harapkan. Aluna sudah menjadi milik orang lain.
"Iya Na. Kakak yakin". Sahut Rayyan tersenyum kecut. Bahkan Aluna tak ada niat untuk menahan nya.
Aluna menghela nafas. Aluna tahu kepergian Rayyan adalah karena dirinya. Ada rasa iba, tapi Aluna tidak bisa menyalahkan hatinya sendiri. Dulu dia memang menyanyangi Rayyan lebih dari seorang Kakak. Tapi sejak pertemuannya dengan Alvaro, membuat nya lupa akan rasanya itu.
"Ya udah Kakak jaga diri baik-baik yaaa.. Kalau udah selesai study nya jangan lupa balik ke Indonesia". Tangan Aluna terulur mengusap lengan Rayyan.
"Na".
Rasanya Rayyan tak mampu berucap. Seandainya Aluna menahannya dia akan bertahan dan mengurungkan niatnya pergi ke Inggris. Tapi Aluna sama sekali tak berniat menahannya disini. Jadi untuk apa Rayyan tetap berada disini?
Rayyan mengangguk
"Aluna".
Aluna menoleh kearah suara yang memanggilnya
"Ranny". Gumam Aluna.
Ranny berhambur memeluk Aluna. Ranny adalah adik kandung Rayyan. Yang baru menyesaikan S2 kedokteran di Amerika.
"Ya ampun Ranny. Kapan elu balik?". Aluna melepaskan pelukkan
"Baru aja guee balik. Ehhh Kak, kok Kakak ada disini?". Tanya Ranny heran
Rayyan hanya memaksa kan senyum. Dia sedang patah dan tidak ingin berbicara dengan siapapun kecuali Aluna.
"Lun ke rumah gue yuk. Gue oleh-oleh buat elu. Sekalian makan malem, Mama udah masakkin masakkan kesukaan elu". Ajak Ranny.
__ADS_1
"Wahhh boleh banget tuhh. Tapi temanin gue mandi plus ganti baju. Gak lama kok".
"Ya udah yuk". Ranny mengandeng tangan Aluna.
"Kak aku duluan yaaaa..".
Rayyan hanya mengangguk sambil memaksakan senyum dibibirnya. Senyum getir. Senyum kalah. Dia kalah oleh cintanya. Cinta yang berakhir luka. Rayyan pikir Aluna adalah gadis yang akan menjadi teman hidupnya. Nyatanya gadis itu hanya akan selalu menjadi teman nya sampai nanti.
Rayyan menatap punggung Aluna dan Ranny yang menjauh darinya. Dia tersenyum kecut. Cintanya berakhir dengan luka.
"Semoga kamu bahagia Na. Pergi adalah cara terbaik untuk mengindari luka. Maaf gak bisa jagain kamu lagi. Kakak harap Al cowok yang bakal jagain kamu sampai nanti".
Setelah berucap Rayyan melengang masuk kedalam ruamahnya. Rumahnya dan Aluna memang bersebelahan. Mereka tetanggaan sejak kecil.
.
.
.
.
"Banyak banget piala elu Lun? Masih suka nulis?". Tanya Ranny melihat begitu banyak piala dikamar Aluna.
"Ya biasalah. Elu tahu kan nulis itu nafas hidup guee". Ucap Aluna sambil mengeringkan rambutnya.
"Gimana hubungan elu sama Kak Ray?". Tanya Ranny penasaran.
"Ya hubungan elu. Kak Ray nembak elu gak. Dia udah lama banget lho suka sama elu". Ujar Ranny tak sabar mendengar jawaban Aluna.
Aluna menghela nafas panjang "Gue gak ada hubungan apa-apa sama Kak Ray. Gue udah punya pacar".
"Serius elu? Bukan Kak Ray?". Ujar Ranny.
Aluna menggeleng "Gue sama Kak Ray cuma teman doang kok Ran. Elu jangan salah paham". Sahut Aluna "Udah yuk, gue udah laper". Ajak Aluna.
Kedua gadis itu menuju rumah Rayyan. Aluna sudah pamitan pada orang rumah bahwa dia akan makan dirumah tetangga sebelah.
"Malam Ma. Malam Pa". Sapa Aluna.
"Ehhh Lun. Malam juga, ayo duduk Nak". Erika menyambut Aluna dengan hangat.
"Malam juga Lun". Sahut Antoni
"Makasih Ma. Makasih Pa". Aluna duduk dikursi samping Rayyan.
"Wahhh enak nihh kek nya". Aluna menghirup aroma masakkan Erika.
Ranny menggeleng kepala. Aluna tak pernah berubah. Dia pikir Aluna akan berubah feminim nyatanya gadis itu masih seperti yang dulu.
__ADS_1
.
.
.
.
Alya menatap langit-langit kamarnya. Gadis itu seperti tengah berpikir keras.
"Apa guee harus ke Inggris juga ya biar bisa bareng Rayyan?". Gumam Alya.
Alya tidak menyerah mengejar cinta Rayyan. Apalagi dia tahu jika Aluna sudah jadian dengan Kakaknya jadi dia memiliki banyak kesempatan untuk mendapatkan cinta Rayyan.
"Gue gak boleh nyerah. Gue harus dapetin hati Ray. Dia harus jadi milik guee". Ujar Alya.
Alya bangkit dari kasurnya. Gadis itu mellengang keluar dari kamarnya.
"Mom. Dad".
"Kenapa Ya?". Tanya Jane heran melihat putrinya
"Alya mau balik ke Inggris Mom". Ucap Alya.
"Mau ngapain disana?". Jane memincingkan matanya curiga
"Mau lanjutin S2". Sahut Alya tersenyum sambil menampilkan rentetan gigi putihnya.
"Yakin kamu?". Zein untuk menyambung.
"Iyalah Dad". Sahut Alya ketus "Kakak mana?". Alya dari tadi tidak melihat Kakaknya itu.
"Paling dikamarnya". Sahut Jane.
Alya melangkah kekamar sang Kakak. Dia tahu Kakaknya itu penderita OCD tapi Alya tidak peduli.
"Kakak".
"Astaga Alya". Pekik Alvaro terkejut. Dia sedang mengerjakan data-data "Kalau masuk tuhh ketuk pintu dulu". Gerutu Alvaro "Ngapain kamu kesini?". Tanya Alvaro curiga. Pasti Alya ada maunya. Alya tidak beda dengan Aluna. Hanya yang membedakan mereka cara makan saja.
"Gimana hubungan Kakaka sama Kak Nana?". Tanya Aluna.
"Baik". Sahut Alvaro singkat.
"Kak, Alya mau balik k Inggris. Mau lanjutin S2".
"Yakin? Gak ada maksud lain kan?". Alvaro menatap adiknya penuh selidik
"Yaellah Kak, gak usah berpikiran lain kali ke Alya Kak". Ketus Alya "Udah ahhh, Alya balik kamar dulu. Mau siap-siap besok berangkat".
__ADS_1
Alvaro hanya menggeleng saja melihat adiknya
Bersambung....