
Aldo sampai dikediaman Bastian Smith,disana banyak Bodyguard yang berjaga di depan rumah.
"Katakan sama majikan kalian jika aku ingin bertemu" Ucap Aldo dingin.
"Baik,Tuan" Salah satu Bodyguard sedikit beralri menuju lantai atas.
"Silahkan Duduk Tuan Aldo" Bodyguard lainnya mempersilahkan duduk di ruang tamu
Mereka tentu saja mengenal Aldo Sanjaya,pebisnis muda yang dan dikenal dimana pun.
Tak
Tak
Tak
Suara langkah kaki menuruni anak tangga.
"Woah,sungguh kehormatan untukku Aldo Sanjaya berkunjung kerumah ku yang jelek ini" Ucap Bastian,terdengar memuji tapi juga mencibir.
"Cih,akhiri semua ini Tuan Bastian Smith !". Aldo sudah tidak ingin berbasa-basi lagi.
"He he he,kau sudah tahu rupa nya ? Ingat Aldo putraku mati karena ulah papa mertuamu ! Nyawa harus dibayar dengan nyawa !" Sarkasnya.
"Istriku tidak bersalah ! Kenapa kau melibatkannya" Aldo menuding Bastian.
"Memang ! Karena aku ingin kalian semua merasakan kehilangan orang yang kalian sayangi" Ucap Bastian menggebu. Ingatannya kembali ke beberapa tahun yang lalu,dimana putranya di bunuh oleh sahabatnya sendiri.
"Kau salah paham,Bastian" Bukan suara Aldo melainkan Ferdi yang berdiri diambang pintu bersama Sanjaya.
"Wah,si pembunuh datang".
Ferdi menatap nanar Bastian yang terlihat sangat membencinya.
"Jangan melibatkan mereka yang tidak bersalah. Bunuh saja aku jika membuatmu merasa puas !" Ferdi berkata dengan sangat tenang.
"Fer.. Pah" Ucap Sanjaya dan Aldo bersamaan. Tapi Ferdi seolah memberi isyarat untuk tetap diam.
"Ha ha ha ha,itu yang aku harapkan sejak dulu".
"Ya,mari akhiri semua ini" Ucap Ferdi sambil memejamkan mata,saat Bastian menodongkan senjata api tepat di pelipisnya.
Bastian tersenyum miring,inilah yang ia tunggu membalaskan dendamnya kepada orang yang telah membunuh putranya.
"Tunggu ! Ferdi tidak bersalah. Ini hanya salah paham !" Sanjaya sudah tidak bisa menutupi semua ini.
"Salah paham apa? Hah !".
"Ferdi tidak membunuh anakmu tapi anakmu sendiri yang menabrakan diri ke mobil Ferdi beberapa tahun yang lalu. Anakmu depresi dan itu karena ulahmu sendiri yang selalu menekannya!" Ucap Sanjaya,ia tak habis pikir dengan Ferdi yang tak pernah mengatakan sejujurnya.
"Apa ?" Bastian tergugu saat mendengar ucapan Sanjaya.
__ADS_1
"Biarkan dia tahu semuanya Fer, Biar dia tahu jika dia adalah ayah yang kejam" Sanjaya menatap tajam Ferdi,saat Ferdi memintanya untuk bungkam. Sedangkan Aldo menyimak mereka.
"Apa maksud kalian hah !".
"Ini lihat disana ada rekaman Cctv di jalan xxx dimana anak mu bunuh diri" Sanjaya menyerah kan flashdisk ke Bastian.
"Lihat dan cermati,maka kau akan tahu sebenarnya". Sanjaya menatap sengit Bastian.
Bastian menerima Flashdisk itu dan meminta slaah satu bodyguardnya untuk mengambil laptopnya di ruang kerja.
Tak berselang lama Bodyguard datang membawa laptop dan menyerahkannya kepada Bastian. Kemudian Bastian meletakan laptopnya diatas meja,ia pun duduk dan memasang Flasdisk itu. Hanya satu data yang ada di Flashdisk itu jadi membuatnya tak kesulitan mencari.
"Tidak mungkin" Bastian menutup mulutnya,ia meraba dadanya yang tiba-tiba sakit dan terasa sangat sesak,saat mengetahui kenyataan sebenarnya.
Ferdi berjalan dan menghampiri Bastian "Inilah yang tidak aku inginkan,kau mempunyai penyakit jantung yang bisa merenggutnya nyawamu kapan saja".
Ferdi masih peduli dengan Bastian yang sudah jahat kepadanya.
Salah satu Bodyguard mengambil obat dan air putih untuk Bastian.
"Obatnya di minum dulu tuan". Bastian kemudian meminum obatnya dan rasa sakit di dadanya sedikit mereda.
"Maafkan Aku Fer, maafkan aku. Aku memang ayah yang bodoh dan jahat " Aku Bastian,mengakui kesalahannya.
"Tidak apa-apa,aku sudah memafkanmu. Kita adalah teman untuk selamanya Bas" Ferdi menepuk pundak Bastian.
Sanjaya dan Aldo saling pandang dan akhirnya mereka bernafas lega karena semua ini sudah berakhir.
"Karena hati papa Ferdi itu seperti hello kity" celetuk Aldo dan mendapat tatapan tajam dari Ferdi.
"Pis,pah.Bercanda" Kemudian mereka tergelak bersama.
"Aldo,Sanjaya maafkan aku". Ucap Bastian dengan tulus.
"Kami sudah memafkanmu Om"Jawab Aldo.
"Ya benar,tapi jika kau berulah lagi,kepalamu itu akan aku tembak" Ancam Sanjaya serius.
"Sudah-sudah ini semua sudah berakhir" Ferdi menyela.
" Maaf,aku datang terlambat" Ucap Seorang pria yang baru saja tiba. Membuat semua orang yang ada disana menoleh.
"Kau !" Tuding Aldo, saat melihat Bram ada disana.
"Jadi kau juga terlibat dalam hal ini ?" Aldo tentu saja murka terhadap pria bernama Bram itu.
"Maaf,maafkan aku". Aldo mendekati Bram lalu meninju wajah Bram berulang kali.
Bugh
Bugh
__ADS_1
Bugh
Bram tidak menghindar,ia menerima pukulan itu. Ya,ia memang pantas mendapatkannya. Karena kesalahannya dulu yang pernah menculik Aldo dan hampir melenyapkan nyawanya. Tentu saja hal itu tidak akan mudah mendapatkan maaf dari Aldo.
Ferdi menarik tangan Aldo,yang masih memukuli Bram.
"Hentikan,Aldo !" Sentak Ferdi. Kemudian Ferdi menjelaskan semuanya tentang Bram bisa ada disana begitu juga Bastian yang mengatakan bahwa dirinyalah yang membebaskan Bram.
"Kalian sangat keterlaluan,apa kalian tidak ingat betapa kejinya pria bajingan ini" Aldo menuding Bram dengan nafas yang memburu,kemudian Aldo meninggalkan kediaman Bastian dengan kesal dan juga kecewa.
"Aku merasa seperti penghianat" Ucap Sanjaya,la merasa bersalah,juga menyindir kedua temannya.
"Hem,pasti Aldo sangat kecewa" lanjut Ferdi.
"Ya,pasti dia sangat kecewa dengan kita,tapi aku bersyukur karena semua dendam diantara kita sudah berakhir,tepatnya kesalah pahaman ini" Ucap Bastian.
"Bram,maafkan saya karena sudah memaksamu bertindak kejahatan dan juga mengancam keselamatan nyawa anakmu". Ucap Bastian terdengar tulus.
Bram tersenyum menanggapinya "Tidak apa-apa Tuan".
"Sekarang kau bebas Bram,pergilah dan ambilah Cek ini untuk mengembangkan usahamu,saya tidak menerima penolakan" Tegas Bastian sambil menyodorkan Cek bernilai ratusan juta itu. Bram dengan terpaksa mengambil cek tersebut.
"Terimakasih Tuan" Ungkap Bram,kemudian pergi meninggalkan kediaman Bastian. Sebelum pergi Bram menatap Ferdi dan Sanjaya seolah meminta izin dan Keduanya pun mengangguk,barulah Bram melangkahkan kakinya.
π·π·π·π·π·
Sampai rumah,Aldo langsung menuju kamarnya bahkan Mama Rosma yang memanggilnya berulangkali pun tak dihiraukan. Emosinya sudah ingin meledak dan tidak mungkin ia melampiaskan kepada Sanjaya dan Ferdi yang telah membuatnya seperti itu.
Hanya sang istrilah yang mampu meredakan emosinya itu.
"Sayang" panggil Aldo saat sudah memasuki kamarnya dan melihat Anita tengah memainkan ponselnya sambil duduk bersandar di dasboard tempat tidur.
"Ya" Anita mendongak saat suaminya memanggilnya, kemudian ia meletakan ponselnya diatas nakas.
Aldo melangkah maju kemudian menarik tengkuk Anita dan mencium bibir istrinya dengan rakus.
"Empphhhh" Anita merasa terkejut juga tak bisa bernafas saat mendapatkan serangan mendadak dari Aldo.
Anita merasa ada yang aneh dengan tingkah Aldo,kemudian ia menarik wajahnya membuat Aldo menggeram kesal.
"Aku menginginkan mu" Ucapan Aldo terdengar tegas dan tidak ingin dibantah. Dengan secepat kilat Aldo melucuti pakaian istrinya hingga tubuh itu menjadi polos.
Dan selanjutnya adegan hiya-hiya pun terjadi.
Maaf,ngegantung lanjutannya ntar malam aja yaππ
Jangan lupa like,komentar,vote dan bunga mawar merah agar author biar selalu semangat.
Mampir ke ke novel.Author yang lain
__ADS_1