
Salwa menjalani hari-hari dengan penuh bahagia, mempunyai Mertua yang sangat baik juga menyayanginya dan mempunyai suami yang sangat mencintainya, bahkan Salwa di perlakukan seperti Tuan putri, membuat Salwa terkadang merasa tidak enak.
Aku tidak ingin mengingat masalalu ku, aku sudah bahagia dengannya. Batin Salwa. Ia tidak ingin mengingat atau mencari tahu tentang masa lalunya.
Baginya masa lalu itu tidak penting, yang terpenting adalah masa depannya sekarang bersama Kenzie, suaminya.
Dan tidak terasa dirinya kini telah tinggal di kediaman Sanjaya sudah satu minggu lebih dan si merah juga sudah pergi dua hari yang lalu, tapi sepertinya Kenzie belum mengetahuinya, mungkin karena kesibukannya di kantor membuat suaminya melupakan hal itu. Tapi, Salwa bersyukur juga karena ia masih merasa aman dari serangan harimau.
"Ma, hari ini Salwa sudah mulai praktek di rumah sakit." Ucap Salwa, kepada Anita yang sedang membaca majalah di ruang tamu.
Anita yang sedang membaca majalah pun mendongak dan menatap menantunya dengan penuh keheranan.
"Loh, bukannya minggu depan? Terus Abang sudah tahu belum?" Tanya Anita, sambil menutup majalahnya dan meletakkannya diatas meja.
"Iya tadinya gitu, tapi baru saja dapat Telpon dari pihak rumah sakit kalau jadwal praktekku di majukan hari ini." Jelas Salwa, dengan berat hati. Karena profesinya menjadi seorang Dokter, ia harus siap di panggil kapan saja oleh pihak rumah sakit. Apalagi ini adalah hari pertama Salwa praktek di rumah sakit tersebut.
"Dan Abang belum tahu." Lanjut Salwa.
"Ya, sudah telpon abang dulu ya, kamu tahu sendiri sifat abang seperti apa." Ucap Anita dan diangguki Salwa, kemudian Salwa menghubungi suaminya dan sekaligus meminta ijin akan berangkat kerumah sakit satu jam lagi. Dan Kenzie pun mengijinkan tapi dengan syarat yaitu di antarkan sang Mama.
"Abang posesif sekali, jadi ngerepotin Mama, kan." Salwa merasa tidak enak hati dengan ibu mertuanya.
"Itu tandanya Abang Cinta mati sama kamu. Mama malah seneng antar kamu, jadi jangan sungkan, ya." Jelas Anita sambil terkekeh.
"Sudah sana siap-siap." Ucap Anita dan diangguki Salwa.
Setelah selesai bersiap, Salwa berangkat kerumah sakit di antar oleh Anita.
"Makasih ya ma." Ucap Salwa, saat sudah sampai tempat tujuan dengan selamat tak lupa Salwa mencium punggung tangan Anita dan juga cipika-cipiki.
"Iya sayang, mama langsung pulang ya" Pamit Anita. "Duh, kok mama jadi takut ya ninggalin kamu." Ucap Anita tiba-tiba, membuat Salwa heran.
"Kenapa Ma?" Salwa yang akan membuka pintu mobil pun mengurungkan niatnya.
"Mama takut kalau kamu di ambil orang, cantik banget begini sih, mana solehah lagi." Puji Anita sambil mengusap kepala Salwa yang terbalut hijab pasminah.
"Mama ada-ada saja." Salwa terkekeh, kemudian ia segera keluar dari mobil Anita.
"Bye Ma." Salwa melambaikan tangannya, begitu pula dengan Anita.
Setelah Mobil Anita tidak terlihat, barulah Salwa melangkah masuk kedalam gedung bercat putih itu.
Baru satu hari bekerja di rumah sakit tersebut, Dokter Salwa sudah banyak mencuri perhatian para kaum adam yang ada di rumah sakit tersebut, bahkan para anak-anak yang berobat dengannya pun sangat suka dengan Salwa. Selain parasnya yang cantik dan menenangkan, Salwa adalah wanita yang ramah, baik dan sopan.
"Hai, Dokter cantik mau pulang ya?" Tanya Dokter muda dan tampan, saat melihat Salwa melangkah menuju pintu keluar rumah sakit itu.
"Iya." Jawab Salwa singkat, tanpa menatap Dokter itu yang berusaha mensejajarkan langkah kakinya.
"Bareng yuk!" Ajaknya dengan percaya diri.
"Maaf." Ucap Salwa sambil menunjukan cincin pernikahannya yang melingkar di jari manisnya. Setelah mengatakan hal tersebut, Salwa segera berjalan cepat meninggalkan Dokter itu yang terlihat masih syok. Salwa berjalan cepat karena beberapa saat yang lalu Kenzie menelpon dan akan datang menjemputnya.
"Sudah ada yang punya ternyata." Ucap Dokter itu dengan lesu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mas." Seru Salwa saat melihat Kenzie sudah ada di depan rumah sakit itu.
Kenzie yang tengah memainkan ponselnya sambil menyenderkan punggungnya di badan mobil pun langsung menyambut istrinya. Tapi, sebelum itu ia menyimpan ponselnya terlebih dahulu kedalam kantong celananya.
"Sayang." Kenzie merentangkan kedua tangannya berharap Salwa berhambur memeluknya.
Brug
__ADS_1
Tanpa di sangka Salwa langsung menghambur memeluk dirinya, dan Salwa tidak memperdulikan orang-orang sekitarnya yang menatap sambil menggelengkan kepala.
"Uh, kangen banget aku sama kamu." Kenzie, membalas pelukan Salwa dengan erat lalu mengecup kening Salwa sekilas.
"He'em sama." Jawab Salwa sambil terkekeh, lalu mengurai pelukannya.
Ken menundukan badannya lalu berbisik di dekat telinga Salwa. "Yuk, pulang. Aku pengen buka segel."
Mata Salwa membola sempurna dan juga tubuhnya langsung menegang seketika saat mendengar bisikan itu.
"Mas a ku—" Salwa tergugup.
"Aku sudah memberimu waktu dua hari, jadi malam ini aku tidak akan melepaskanmu." Potong Ken, sambil mengulas senyum mesumnya.
"I iya." Jawab Salwa lagi, sambil memalingkan wajahnya yang bersemu merah.
Aku pikir dia melupakannya. Batin Salwa.
Kenzie terkekeh, lalu membuka pintu mobil untuk istrinya dan Salwa pun langsung masuk kedalam mobil tak lupa memakai seatbeltnya.
"Mau langsung pulang atau mau cari makan di luar dulu nih?" Tanya Ken, saat sudah duduk di balik stir mobil.
"Pulang aja mas." Jawab Salwa.
"Cie,, yang sudah nggak sabar di buka segelnya." Ledek Ken, sambil menjawil dagu Salwa.
"Ih, apaan sih. Bukan begitu, mama pasti sudah masak. Kan mubazir." Ucap Salwa, sambil mengusap dagunya dan menatap Ken dengan kesal.
"Hem, alasan." Balas Kenzie, sambil menstater mobilnya.
"Tau ah!"
"Ngambek nih?"
"Masa? Tuh buktinya mukanya jelek." Ucap Ken, sambil menatap wajah istrinya yang bersemu merah.
"Bodo amat!" Jawab Salwa sewot, sedangkan Kenzie tergelak saat melihat istrinya marah. Kemudian Kenzie memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, menuju rumah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat ini Kenzie dan Salwa sudah sampai di rumah, dan Salwa pun segera memasuki kamarnya untuk segera membersihkan dirinya karena badannya sudah terasa sangat lengket. Berbeda dengan Kenzie yang menuju dapur, untuk meminta Pelayan membawakan makan malamnya kedalam kamar.
Pokoknya malam ini harus berhasil bobol gawang. Batin Ken, sambil menaiki anak tangga.
Kenzie sudah berada di dalam kamarnya, lalu melepaskan kemejanya dan juga celana panjangnya, menyisakan Boxer berwarna hitam yang menutupi asetnya berharganya, yang sebentar lagi akan bertemu pasangannya.
Ceklek
Salwa keluar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan jubah mandi saja. Kenzie menoleh dan menatap kagum istrinya.
"Mandi Mas." Titah Salwa lembut, tapi Ken masih diam terpaku sambil menatapnya tak berkedip.
"Mass!!" Seru Salwa, lalu menuju meja rias dan mengambil hairdrayer dari laci meja rias.
"Eh iya." Ken tersadar lalu menghampiri Salwa yang sedang mengeringkan rambutnya dengan hair drayer.
"Mas!!" Pekik Salwa, saat kedua tangan suaminya melingkar di perutnya.
"Enggak usah di keringkan rambutnya, nanti juga basah lagi." Bisik Ken, lalu mengecup bahu mulus Salwa, dan tangan kanannya mengambil hair drayer dari tangan istrinya lalu mematikan hair drayer tersebut dan meletakkannya di meja rias.
"Mas." Salwa menggigit bibirnya, saat mendapat serangan mendadak itu.
"Mas mandi."
__ADS_1
"Tadi sudah mandi di kantor." Ucap Ken, dan terus mengecupi bahu Salwa.
"Sekarang ya." Ajak Ken, sambil meremat kedua benda kenyal milik Salwa dari belakang.
Salwa mengangguk saja, karena dirinya juga sudah terbakar gairah. Malam ini dirinya akan menjadi milik suaminya seutuhnya.
Tak perlu menunggu waktu lama, Ken menggendong tubuh istrinya menuju ranjang panas yang sebentar lagi akan menjadi saksi bisu penyatuan mereka.
Kenzie meletakkan Salwa dengan perlahan dan hati-hati. "Kamu cantik banget sayang." Puji Ken, sambil membelai pipi mulus Salwa dengan jari-jarinya.
Salwa hanya tersenyum malu saat mendapat pujian itu. Dadanya berdetak tak karuan saat ini dan juga ia sedikit takut, karena yang pertama itu rasanya sangat menyakitkan.
Kenzie tersenyum lalu membuka Jubah mandi yang menempel di tubuh Salwa, kemudian melemparkannya kesembarang arah.
"Mas." Salwa sangat malu saat ini apalagi dirinya sudah polos tanpa sehelai benang.
"Jangan malu, biar adil aku juga buka boxerku ya." Ucap Ken, lalu membuka boxernya sendiri dan menyembulah benda sakti yang terlihat sangat besar dan kekar.
"Mas, kenapa besar sekali." Ucap Salwa saat melihat senjata Ken, yang akan membobol selaput darahnya.
"Dia akan memuaskanmu." Bisik Ken, kemudian ia segera menindih Salwa dan mencium bibir manis itu dengan sangat lembut. Ciuman yang lembut itu semakin lama semakin menuntut lebih.
Salwa mengeluh dan mendesaah saat Kenzie melakukan Fore•play, ia merasakan sesuatu yang belum ia rasakan sebelumnya. Kenzie begitu lihai saat mempermainkan tubuhnya.
"Uhh masss." Salwa mengerang, saat tangan Kenzie mengusap-usap daging kecil yang tumbuh di bagian intinya dan bibir Kenzie menyedot buah ceri yang tumbuh di puncak gunung kembar itu bergantian.
"Sudah basah sayang, aku masukin ya." Bisik Ken sensual dan Salwa mengangguk bertanda jika dirinya setuju.
"Tahan ya." Ucap Kenzie saat sudah memposisikan dirinya sambil menuntun benda pusakannya ke bagian inti istrinya.
"Sakit." Rintih Salwa ketika ada sesuatu yang menerobos bagian intinya dengan paksa.
"Sedikit lagi, sabar ya." Salwa mengangguk sambil menahan rasa pedih yang teramat di bagian intinya.
Kenzie mengecup kedua mata Salwa yang terlihat basah. "Maafin aku, sakit banget ya?" Kenzie bertanya sambil menghentikan gerakannya.
"Tidak apa-apa, Mas. Lanjutkan saja, nanggung." Ucap Salwa, membuat Kenzie tersenyum lalu melumaat bibir manis itu dengan lembut, sedangkan di bawah sana Kenzie menghentakan pinggulnya perlahan-lahan hingga akhirnya ia berhasil membobol gawang milik istrinya.
"Eughhhh." Salwa memekik tertahan ketika gawangnya sudah berhasil di bobol oleh suaminya.
"Aku mencintaimu." Ucap Kenzie sambil menggerakan pinggulnya perlahan.
"Aku juga sangat mencintaimu, Mas." Balas Salwa, lalu mencium bibir suaminya dengan lembut.
Kenzie mengecupi seluruh wajah Salwa dengan rasa bahagia dan juga bangga karena dirinya lah orang pertama untuk istrinya. Begitu juga pula dengan Salwa, ia menangis haru karena telah memberikan kesuciannya untuk kekasih halalnya.
Perasaan cinta, kasih sayang, dan gairah kini melebur menjadi satu dalam penyatuan halal itu.
Penantian Kenzie dan perjuangan cintanya selama ini akhirnya berbuah manis. Ia berhasil mendapatkan cinta sejatinya yaitu Salwa Saida.
**The End**
Terimakasih buat para pembaca setiaku yang sudah setia mendukungku hingga sampai ke titik ini. Tanpa kalian karyaku bukanlah apa-apa, love kalian semua.😘
Kalian yang terbaik dan terus dukung karya othor yang masih ongoing.❤❤
~Cinta tulus sang casanova
~My sexii old man
__ADS_1