
Dor...Dor...
Suara ketukan pintu begitu keras membuat Kailan yang baru selesai dengan ritualnya berdecak kesal.
"Sayang, kamu bersihkan diri dulu ya." Ucap Kailan, lalu mencabut penyatuannya.
"Iya sayang." Jawab istrinya, lalu beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi dengan keadaan polos.
"Jangan menggodaku lagi, Sayang!" Teriak Kailan, membuat Istrinya langsung lari terbirit menuju kamar mandi.
Dor...Dorr.
Suara ketukan pintu terdengar kembali, membuat Kailan berdecak kesal kemudian ia mengambil pakaiannya yang berserak di lantai lalu memakainya kembali.
Ceklek
"Sudah gue duga!" Sungut Kailan, saat membuka pintu.
"He he he, ngganggu ya?" Ken bertingkah konyol sambil menatap adiknya yang sepertinya baru selesai olah raga malam.
"Ck! Mau apa lo." Tanya Kailan, to the point.
"Tolongin gue, Kai." Mohon Ken, kemudian menjelaskan permasalahannya.
"Dasar tukang bikin ulah!! Tungguin Bini gue dulu." Kesal Kailan, kemudian ia keluar dari kamar dan menuntun Ken menuju ruang kerjanya.
"Emangnya bini lo lagi apa?" Tanya Ken, saat sudah duduk dikursi yang ada di ruang kerja Kailan.
"Ke to the Po! KEPO!" Ucap Kailan, penuh penekanan.
__ADS_1
"Cih! Enggak usah kayak gitu juga kali ngomongnya." Kesal Ken.
Setelah 15 menit menunggu Kailan menjemput istrinya dari kamar menuju ruang kerjanya.
Cih, dasar bucin!. Kesal Ken dalam hati, karena menurut Ken, adiknya itu terlalu berlebihan.
"Eh, ada bang Ken." Sapa istri Kailan kepada kakak iparnya.
"Hai, Ve." Sapa balik Ken.
"Sayang, Bang Ken meminta bantuanmu." Ucap Kailan kepada istrinya.
"Bantuan?" Beo Ve, kemudian Kailan menceritakan permasalahan kakaknya yang sengklek itu.
"Waduh, gimana ya? Ini sudah larut malam loh. Kalau aku sih bisa bantu Bang, tapi Crew aku bisa apa enggaknya, aku tidak tahu." Ucap Vea panjang lebar, mengingat hari juga hampir tengah malam.
Pasalnya Vea adalah seorang Wedding Organizer (WO) yang sudah cukup terkenal di kota itu.
"Bentar aku hubungi mereka dulu." Ve beranjak dari duduknya dan mengambil ponselnya yang ada di kamar tak berselang lama ia kembali lagi keruang kerja Kailan lalu menghubungin Crew nya di depan Kenzie.
"Mereka mau, tapi mereka mau bayarannya tiga kali lipat. Ini bukan aku lho bang yang kasih harga." Jelas Ve.
"Oke deal! Sekalian siapin cincinnya juga ya." Ucap Ken, membuat Kailan dan Istrinya mendelik kesal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"KENZIEE!!!!!!" Teriak Anita dari luar pintu kamar putranya sambil menggedor pintu berulang kali.
"Astaga! Lama-lama darah tinggiku kambuh lagi!" Gerutu Anita, karena sejak tadi ia membangunkan putranya tapi tidak kunjung bangun.
__ADS_1
"Belum bangun juga, Mah?"Tanya Aldo sambil mengancingkan lengan kemejanya.
"Belum! Dobrak saja pintunya." Kesal Anita.
"Coba sekali lagi." Ucap Aldo.
"Kamu saja, lihat nih tanganku sudah merah karena mengetuk pintu." Anita menunjukan punggung tangannya.
Aldo mengetuk pintu berulang kali tapi Putranya tidak kunjung membukakan pintu.
"Tidak biasanya dia mengunci pintu, kunci cadangannya mana?" Tanya Aldo, kepada Anita.
"Kunci kamarnya Ken dia sendiri yang pegang." Jawab Anita.
"Bagaimana ini? Mana sudah jam 7 pagi." Keluh Anita.
"Jangan-jangan Ken, pingsan lagi." Ucap Anita cemas. Membuat Aldo juga ikut cemas, kemudian Aldo mengetuk pintu sekali lagi.
Ceklek
"Ada apa sih Pa? Ma?" Tanya Ken dengan muka bantalnya sambil menggaruk perutnya yang sixpack.
"Astagfirullah! Ken apa kau tidak ingat jika hari ini akan melamar Salwa." Geram Anita.
"Hem?? Hoam." Sepertinya Nyawa Ken belum terkumpul.
"Kalau begitu acara lamarannya di batalkan saja." Ucap Aldo ikut kesal dengan tingkah putranya.
"Lamar? Lamar siapa?"
__ADS_1
"Melamar Salwa!!" Jawab Anita menggertakan giginya dengan kesal.
"Oh.. Eh Apaaaa!"