Perawan Tua Meet Brondong Tajir

Perawan Tua Meet Brondong Tajir
Extra Part (SalKen)


__ADS_3

Setelah sarapan bersama, Kenzie akan memboyong Salwa ke Ke kediaman Sanjaya.


Ya, sebelumnya mereka sudah sepakat jika setelah menikah Salwa akan tinggal di rumah mertuanya.


Tidak masalah, karena jarak rumahnya dan rumah mertuanya tidak terlalu jauh.


"Bunda nanti pasti akan kesepian sayang." Encus sejak dari tadi tidak melepaskan putri kesayangannya dari dekapannya.


"Kita nanti akan sering kesini, Bunda." Ucap Ken, pada Encus.


"Benar, ya!" Jawab Encua dengan berbinar bahagia.


"Tentu Bunda, lagian jarak dari rumah Mas Ken ke sini cuma setengah jam saja." Salwa menimpali, masih di dekapan sang Bunda.


"Sudah, lepaskan putri kita sayang, nanti kita akan mengunjunginnya." Sela Bram, sedikit mendesah kesal karena sikap istrinya berlebihan.


"Iya deh." Akhirnya Encus melepaskan dekapannya agar putrinya terbebas.


"Aduhh, anak Bunda yang paling cantik sekarang sudah ada yang punya." Ucap Encus, sambil mencubit kedua pipi Salwa dengan gemas.


"Bunda sakit." Rengek Salwa.


"He he he, habis gemes banget." Jawab Encus terkekeh, sambil melepaskan cubitannya. Sedangkan Salwa, langsung mengusap kedua pipinya dengan ekspresi wajah yang sangat menggemaskan.

__ADS_1


Kemudian Salwa dan Ken berpamitan dan mencium punggung tangan Bram dan Encus bergantian, tak lupa mereka juga saling berpelukan.


"Hati-hati dan jaga putriku dengan baik, jangan membuatnya menangis. Paham!" Kalimat Bram seperti ancaman yang terdengar sangat mengerikan di telinga Kenzie.


"Iya, Pa." Jawab Ken tersenyum.


"Jadi istri yang nurut sama suami dan mertua juga ya." Dan Encus memberikan wejangan lainnya untuk putri kesayangannya itu.


"Iya, Bunda sayang." Salwa tersenyun lalu memeluk Bundanya lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Mas."


"Hem?" Kini Ken dan Salwa sudah berada di dalam mobil.


"Kenapa sayang?" Ken bertanya tanpa menoleh karena saat ini dirinya tengah fokus menyetir. "Jangan bilang kalau kamu takut ketemu sama papa dan mama?" Tebak Ken.


"Bukan takut mas, tapi hanya gugup saja dan aku takut jika tidak bisa menjadi menantu dan istri yang baik." Jelas Salwa, membuat Ken menoleh sesaat kemudian mengulurkan tangannya dan mengusap lembut pucuk kepala Salwa yang terbalut hijab itu.


"Kamu adalah menantu idaman mama dan juga istri idaman aku, kamu tidak perlu takut karena tugasmu adalah melayaniku saja." Jawan Ken, sambil mengerling nakal.


"Mas, aku serius. Ih!"

__ADS_1


"Aku juga serius, jadi tugas istri itu apa?" Tanya Ken.


"Tugas istri adalah melayani suami." Jawab Salwa, menoleh ke arah suaminya yang terlihat fokus menyetir.


"Melayani suami baik lahir maupun batin" Ralat Ken, membuat Salwa bersemu merah.


"Iya" Lirih Salwa, kemudian memalingkan wajahnya kearah kiri sambil menahan senyumannya. Salwa mengingat cubuan panas Ken di malam pertama mereka.


Sedangkan Ken hanya mengulas senyum saja, saat melirik istrinya yang terlihat malu.


Tidak terasa kini mereka sudah sampai ke tempat tujuan dengan selamat. Di halaman depan rumah besar itu, sudah ada Anita dan Aldo yang menyambut kedatangan mereka.


"Selamat datang menantu, Mama" Anita menyambut Salwa. Kemudian Salwa mencium punggung tangan Anita dan Aldo bergantian.


"Mama, seneng banget loh, akhirnya kamu jadi mantu Mama dan Papa" Anita menggenggam tangan Salwa kemudian memeluk Salwa dengan erat.


"Iya, Papa juga seneng." Aldo menimpali.


"Terimakasih, Ma, Pa." Ucap Salwa, ia tidak menyangka jika dirinya di sambut sehangat ini.


"Ayo kita masuk kedalam, Mama sudah masakin makanan kesukaan kamu." Anita menuntun menantunya masuk kedalam rumah dan di ikuti Aldo.


"Ma, Pa! perasaan Abang ini anak kalian, loh" Protes Ken, karena merasa di abaikan.

__ADS_1


"Jangan manja, Bang." Aldo sedikit berteriak.


"Ck." Ken hanya mendengus kesal, sambil menyeret dua koper istrinya yang lumayan besar.


__ADS_2