Perawan Tua Meet Brondong Tajir

Perawan Tua Meet Brondong Tajir
Izinkan aku membawanya pergi


__ADS_3

Pemandangan itu membuat hatinya menghangat dan juga sedikit sakit,sakit karena dulu pernah menyi-nyiakannya.


"Bram aku bil-". Siska tak mampu melanjutkan kata-katanya, Siska tertegun saat melihat Bram menggendong putranya. Ibra yang tadinya menangis kini diam di gendongan Bram,bahkan bayi mungil itu tersenyum dan jari mungil itu mengusap rahang tegas itu yang di tumbuhi bulu halus.


Air mata Bram mengembun saat merasakan jari mungil itu mengusap wajahnya,ia merasakan perasaan yang begitu sulit di ungkap kan.


Drtt Drtt


Ponsel Siska yang terletak di meja rias bergetar menandakan jika ada panggilan masuk.


"Hallo,mas" Siska mengangkat telponnya dan agak menjauh dari Bram.


"Sayang,apa kamu baik-baik saja ? Entah kenapa perasaanku tiba-tiba tidak enak" Jawab Reza di seberang sana.


"Mas,bisakah pulang ? Dia datang" Lirih Siska,yang hampir menangis.


"Apa ?"


"Ya mas,dia datang aku takut jika dia membawa Ibra" Ucap Siska mulai terisak. Tanpa menunggu lama Reza segera mematikan ponselnya dan memutar balik arah mobilnya.


Reza datang memasuki rumah dengan tergesa-gesa,ia takut jika terjadi sesuatu kepada anak dan istrinya.


"Mas" Seru Siska,saat melihat Reza datang kemudian memeluknya.


"Dimana dia?" Tanya Reza,rahangnya sudah mengeras.


"Dia dikamar".


"Kenapa kau begitu ceroboh ? Membiarkannya masuk begitu saja Sis ?" Hardik Reza,melepaskan pelukannya. Bahkan ia tidak memanggil istrinya dengan sebutan sayang atau bunda.


"Maaf,kejadiannya terlalu cepat,bahkan aku sudah melarang nya,mas. Percayalah" Ucap Siska penuh dengan sesal.


Reza tidak mendengarkan ucapan Siska dan berlalu begitu saja menuju kamar mereka.


"Letakkan anak ku " Seru Reza saat sudah berada di dalam kamar dan melihat Bram tengah menggendong Ibra ,membuat darahnya mendidih.


Siska berdoa dalam hati,semoga tidak ada pertumpahan darah.


Bram terlihat santai dan meletakan bayi itu perlaham di atas tempat tidur kemudian mencium pipi bayi itu sebelum menghampiri Reza.


"Hai,Terimakasih sudah merawat anak ku dengan baik" Ucap Bram sangat santai,bahkan ia tersenyum kecil.


"Anak mu? Ibra adalah anakku! " Seru Reza,tidak terima dengan pengakuan Bram, walau kenyataanya Bram adalah ayah biologis bayi itu.


"Aku tidak ingin basa-basi lagi,Tuan Reza. Aku akan membawa bayi itu" Ucap Bram,masih terlihat sangat santai.


"Percaya diri sekali kau !".


Karena suara kedua pria tersebut agak keras,membuat bayi Ibra terkejut dan menangis.

__ADS_1


"Keluar lah kalian,semua" Seru Siska.


Setelah kedua pria itu keluar,Siska segera menyusui Bayi Ibra.


"Aku mempunyai alasan,untuk membawa Ibra" Ucap Bram,saat mereka duduk di ruang tamu.


"Mari kita bicarakan,baik-baik. Tuan Reza" Ucap Bram lagi.


Reza mendengus kesal dan menatap tajam pria yang ada di hadapannya itu. Bagaimana bisa? Berbicara baik-baik jika ini menyangkut perasaan istrinya dan juga anak nya.


"Ibra nyawanya terancam" Ucap Bram,to the point.


"Apa maksud mu? " seru Reza. Ia tidak akan percaya begitu saja pada pria bajingan itu.


"Ya, ini semua karena kesalahan ku dimasa lalu" Ucap Bram,kemudian menjelaskan pokok permasalahannya.


Reza mengerti tapi ia tidak akan melepas Anaknya begitu saja.


"Ternyata kau sudah tobat? Tapi mohon maaf Tuan Bram,sampai titik darah penghabisan, aku tidak akan pernah memberikan anakku kepadamu"Ucap Reza tegas dan keras.


"Anak mu? Dia adalah anakku ! Darah daging ku !"


"Benar dia adalah anak mu" Ucap Reza,membuat Bram tersenyum tapi senyum itu tak bertahan lama.


"Dia memang anak mu tapi yang tidak pernah kau harap kan !" Membuat Bram mengeraskan rahang nya.


"Kau hanyalah seorang pecundang,Tuan Bram !! Kau tidak pernah mengakui keberadaan Siska saat masih mengandung Ibra,hingga kau membuatnya terluka terlalu dalam" Ucap Reza. "Lalu dengan enteng nya kau datang secara tiba- tiba dan ingin membawa Ibra? Dimana hati nurani mu ? Dengan cara mu seperti ini,kau akan semakin menyakiti banyak orang !" Ucap Reza panjang lebar dan membuat Bram bungkam.


Perkataan Reza sama persis dengan yang di ucapkan Roy sekretarisnya. Membuat Bram bertanya-tanya,apakah dirinya salah? Dia hanya ingin melindungi putranya dari ancaman.


"Sekarang,aku mohon dengan sangat keluarlah dari rumahku,sebelum kesabaran ku habis".


"Aku mohon ijinkan aku membawanya pergi" Mohon Bram,masih tak beranjak dari posisinya.


"Dalam mimpi mu,Tuan Bram !" Geram Reza.


Bugh


Bugh


Reza yang sudah habis kesabarannya membari bogem mentah di wajah Bram,hingga hidung pria itu mengeluarkan darah.


"Aku sudah sangat bersabar menghadapi mu !" Menarik Kerah Bram kuat,Bram diam dan tidak melawan.


Dari dalam kamar,Siska mendengar suara keributan dari luar,dengan cepat ia meletakkan Ibra diatas tempat tidur perlahan karena bayi itu sudah tertidur pulas.


"Mas,sudah lepas" Menarik tangan Reza.


"Kau membelanya ? "Geram Reza. Siska menggeleng "Tidak mas,aku hanya tidak ingin kau terluka" Ucap Siska.

__ADS_1


"Keluarlah sekarang,sebelum aku menghabisimu !" Seru Reza pada Bram.


Sebelum Bram beranjak dari posisinya,ia menatap Siska.


"Maafkan kesalahanku dimasa lalu,Siska" Ucap Bram singkat dan terdengar sangat tulus. Kemudian pergi meninggalkan rumah itu,ia tidak akan menyerah.


"Mari berkemas,kita akan pindah" Ucap Reza,tanpa menatap Siska.


"Pindah? Pindah kemana mas?".


"Jangan banyak tanya,Siska !" Bentak Reza.


"Mas" Lirih Siska,sudah berkaca-kaca. Baru kali ini Reza membentaknya,tapi ini juga karena kesalahannya dan ia sadar itu.


Huffff


Reza menengadahkan kepalanya menatap langit-langit rumahnya seraya menghembuskan nafasnya kasar dan kedua tangannya ia letakan di pinggangnya.


"Maafkan,aku. Bunda" Ucap Reza mulai lembut kemudian ia merengkuh tubuh sang istri.


"Aku salah,aku tidak akan mengulanginya lagi" Janji Siska.


"Hem,memang seharusnya begitu,Bun" ucap Reza mengecup pucuk kepala Siska.


"Ayo,kita harus cepat berkemas" Ucap Reza.


"Kita akan pindah kemana,mas?"


"Ketempat dimana tak ada seorang pun yang mengenali kita"Jawab Reza,membuat ibu satu anak itu semakin penasaran.


"Sudah,jangan banyak berfikir. Nanti kau akan tahu" Ucap Reza seraya menarik tangan Siska.


Tanpa banyak tanya lagi,Siska mengemas pakaian mereka dan memasukannya kedalam koper.


"Mas,kalau kita pindah lalu pekerjaan mu bagaimana?" Tanya Siska. Wanita itu tahu posisi Reza sangatlah sulit karena suaminya itu adalah seorang abdi negara.


"Itu urusan nanti,yang terpenting kita pindah dulu dari sini" Ucap Reza.


"Terimakasih mas" Ucap Siska.


"Sudah kewajibanku untuk melindungi kalian karena kalian berdua adalah orang yang paling terpenting dalam hidup ku" Jawab Reza,membuat Siska terharu dan menghambur kepelukan Reza.


Jangankan kalian,rakyat di negara ini saja aku lindungi" Ucap Reza dengan nada sombong.


"Cih,Sombong" Ucap Siska mencebikkan bibirnya kesal. Membuat Reza tergelak dan mengeratkan pelukannya.


Author sedih, kenapa ya ? Likenya semakin dikit padahal pembacanya sangatlah banyak sekali.๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ.


Author gak minta vote atau pun hadiah,author hanya minta likenya aja dari para readers kesayangan ku. Please kasih like setelah membaca,karena satu like dari kalian itu sangatlah berarti untukku.

__ADS_1


Terimakasih lop yuh semua๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2