
Kediaman Sanjaya,tepat jam 10 malam terjadi kehebohan dimana Encus dinikahkan dengan Tuan Brewok.
Encus sudah berupaya untuk menjelaskan perihal yang terjadi.
Namun semua orang tidak ada yang berpihak kepadanya,termasuk kedua orang tuanya yang di jemput oleh orang kepercayaan Aldo.
Beruntung jarak antara kota dan kampungnya hanya membutuhkan 2 jam bolak balik. Kini dirinya hanya bisa pasrah menerima keadaanya.
SAH
SAH
SAH
Satu kata sakral tapi membuat jantung berdegup kencang,dengan mas kawin seadanya berupa uang tunai senilai 2 juta dan 1 Unit mobil Pajero berwarna hitam. Kini Encus dan Bram resmi menjadi suami Istri.
"Selamat ya untuk kalian berdua" Ucap Anita mengucapkan selamat untuk pasangan suami istri dadakan itu dan disusul Rosma dan Sanjaya untuk mengucapkan selamat.
"Aku enggak nyangka ,ternyata kau diam-diam menghanyutkan " Ucap Aldo terkesan menyindir.
"Ck,Semua enggak seperti yang istri mu dengar tapi ya sudah lah,semua sudah terjadi" Ucap Bram,dengan senyum kebahagiaanya.
"Heleh ! Kau harusnya berterimasih sama istri ku karena kalau bukan karena kesalah pahaman ini,mungkin Kau gak akan ada di posisi seperti ini" Ucap Aldo menaik turunkan alisnya .
"Ya deh iya,hadiahnya akan meluncur" Ucap Bram,sudah tahu sifat bapak satu anak itu.
Jika Bram tengah bahagia dengan pernikahan dadakanya itu berbeda dengan Encus yang terlihat menitikan air matanya.
"Pak Bu,Encus tidak pernah melakukan hal yang di benci sama allah" Encus terisak saat kedua orang tuanya menatapnya dengan penuh kekecewaan.
"Iya iya Bapak percaya" Bapak mengusap kepala sulungnya dengan penuh kasih sayang.
"Semua ini hanya salah paham" Lanjut Encus terus terisak.
Bagaimana ia menikah di usia yang masih sangat muda dan lebih parahnya lagi dirinya masih sekolah.
"Iya Nak,Ibu percaya. Tapi semua sudah terjadi dan sekarang kamu sudah menjadi seorang istri,hargai suamimu dan buka hatimu untuknya,belajarlah untuk mencintainya" Ibu menasehati.
"Iya Bu" Lirih Encus.
"Nak,Bram" panggil Ibu kepada menantu dadaknnya itu.
"Iya bu?" Bram menghampiri ibu mertuanya.
"Tolong jaga putri kami dan bimbing dia,Nak. Dia masih kecil dan pikirannya masih labil jadi mohon bersabar jika nanti dia sedikit bandel" Ucap Ibu.
"Tentu Bu,Saya akan menjaganya seperti menjaga nyawa saya sendiri" Ucap Bram.
Setelah selesai Ibu dan Bapak Encus pulang ke kampung halamannya pada malam itu juga karena Anak-anak mereka di rumah sendirian
"Mbk,lalu Baby Ken bagaimana?" Tanya Encus saat akan berpamitan kepada keluarga Sanjaya.
"Tidak perlu khawatir,baby Ken ada mbak dan Oma kan ? Udah sana sudah di tunguin suami mu tuh" Ucap Anita.
Sebelum ikut pulang Bram,Encus mengucapkan terimakasih yang sebanyak-banyak kepada kelurga Sanjaya karena sudah sangat baik terhadapnya.
__ADS_1
"Iya,nanti Aku boleh main kesini kan?" Tanya Encus dan diangguki semua orang yang ada disana.
"Pelan-pelan ya Bro,masih tersegel soalnya" Ledek Aldo.
"Jangan ngeledek terus !" Ketus Bram,sambil meninju lengan Aldo pelan.
"Tuh,istri kecilmu kesini" Bram menatap Encus yang berjalan kearahnya sambil membawa dua tas yang berisi pakaiannya dan juga buku sekolahnya.
"Tuan ". Panggil Encus.
"Kok tuan sih ? Yayang dong" Ledek Aldo sambil tertawa terbahak dan mendapat pelototan dari istrinya.
Bram menuntun Encus untuk memasuki mobilnya dan juga memasukan dua tas Encus di jok belakang,kemudian Bram melajukan mobilnya menuju rumah besarnya.
"Kamu ya,By. Enggak usah ngeledekin mereka terus" Kesal Anita terhadap suaminya setelah Mobil yang di tumpangi Bram sudah tidak terlihat.
"He he he hee,habisnya mereka lucu" Ucap Aldo tersenyum,dan mendapat cubitan dari istrinya.
"Kamu enggak kasihan sama Encus tadi? Wajahnya seperti tertekan" Ucap Rosma.
"Gadis itu masih Syok,nanti juga lama-lama terbiasa" Sanjaya menimpali dan diangguki Istrinya.
π·π·π·π·π·
Diperjalanan Antara Encus dan Bram saling canggung.
"Tuan?".
"Hem ?" Jawab Bram,masih fokus menyetir.
"Aku yatim piatu" Jawab Bram tersenyum lalu menoleh sekilas.
"Ah,maaf" Encus merasa bersalah,dan menundukan wajahnya.
"Kenapa minta maaf ? Kau berhak tahu tentang diriku dan begitu pula sebaliknya karena sekarang aku adalah suami mu dan kau adalah istriku" Ucap Bram,tanpa menoleh karena dirinya tengajmh fokus menyetir mobil.
"I iya Tuan" Jawab Encus gugup sambil meremat kedua tangannya yang berkeringat dingin.
"Bisakah jangan memanggilku dengan sebutan mengesalkan itu ?"
"Lalu aku harus memanggil tuan apa?" Tanya Encus.
"Terserah,yang penting jangan Tuan" Ucap Bram menegaskan.
"Kakak ? ".
"Menggelikan !".
"Mas,bagaimana ?". tanya Encus.
"Itu lebih baik" Bram tersenyum.
Tak terasa perjalanan mereka memakan waktu setengah jam dan kini mereka telah sampai di rumah besar Bram. Mereka di sambut oleh dua penjaga yang bertugas malam.
"Woahh.ini rumahmu ,mas ?" Tanya Encus berdecak kagum,saat melihat bangunan megah dan mewah itu.
__ADS_1
Rumah mewah itu berdesain modern,memiliki dua lantai dan bercat putih.
"Ayo,masuk. Sekarang semua ini adalah milik mu" Ucap Bram melangkahkan kakinya memasuki rumahnya.
"Eh,mana bisa begitu". Encus mengejar Bram dan menyeimbangkan langkak kakinya agar sejajar dengan pria itu.
"Tentu saja bisa,karena kau adalah istriku". Ucap Bram.
"Mas,apa rumah mu berhantu ? Sepi sekali" ucap Encus merapatkan tubuhnya.
"Mana ada rumah semegah ini ada hantu. Jelas sepi karena sudah malam" Ucap Bram,lalu menghentikan langkahnya di depan pintu kamar berwarna emas lalu memasuki kamar itu dan di ikuti Encus. Bram meletakkan dua tas Encus diatas sofa yang ada di kamar itu.
"Mas, ini kamar ku ?". Tanya Encus sambil memperhatikan setiap sudut kamar mewah itu.
"Tentu saja kamar kita" Ucap Bram tergelak.
"Ih,Mas! Saya nanya serius". Kesal Encus.
"Memang aku terlihat bercanda ?" Ucap Bram sambil mendekatkan wajahnya ke Encus,membuat gadis itu terkejut dan memundurkan wajahnya.
"Mas !". Membuat Bram tergelak,karena melihat wajah Encus sudah memerah.
"Aku mau mandi" Ucap Bram,sambil melepaskan semua pakaiannya dan hanya menyisakan boxer berwarna hitam yang menutupi aset pribadinya.
"Mas !! Kau menodai mata suci ku" pekik Encus sambil memejamkan matanya.
"Kau harus terbiasa dengan pemadangan yang indah ini" Ucap Bram terkekeh pelan.
"Siapkan bajuku" Ucap Bram,lalu berlalu menuju kamar mandi.
"Astaga Jantungku" Encus mengusap dadanya berulang kali,saat Bram sudah memasuki kamar mandi.
Encus menuju ruang ganti,untuk mengambil baju tidur untuk suami dadakannya.
"Jantungku berdegup kencang,semoga Tuan Brewok itu tidak meminta haknya sekarang" Ucap Encus sambil mendekap baju tidur milik Bram.
Encus keluar dari ruang ganti,masih mendekap baju itu.
"Lebih baik kau memeluk orangnya langsung,lebih terasa padat dan enak" Ucap Bram,mengejutkan Encus.
Bram keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.
"Mas " .
"Hem ?" Bram mendekati Encus lalu dengan cepat merengkuh gadis kecil itu dalam dekapannya.
"Ma mass !".
Yah di gantung π€£π€£π
Jangan lupa like dan hadiahnya
Mampir juga ke karya othor yang lain
__ADS_1