
"Oh.. Eh Apaaaa!" Pekik Ken, kemudian berlari menuju kamar mandi.
"Sial!" Umpat Ken.
Sedangkan Anita dan Aldo langsung memasuki kamar putranya untuk mempersiakan kebutuhan Ken.
"Lihat kelakuan anakmu!" Kesal Anita kepada Aldo.
"Hei! Dia anakmu juga!" Aldo tidak terima.
"Tapi, semua sifatmu menurun kepadanya." Jawab Anita kesal.
"Ya, ya ya." Jawan Aldo mengalah.
"Kenzie! Jangan terlalu lama mandinya, karena acaranya akan di mulai setengah jam lagi." Teriak Anita, sambil mengambil tuxedo dari dalam lemari putranya.
"Iya, mah." Ken sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya.
"Cepat pakai pakaianmu! Mama itu heran dengan kamu, masih saja kekanakan. Lihat dan contoh adikmu yang jauh lebih dewasa!" Anita terus medumel tiada henti.
"Iya." Jawab Ken, sedangkan Aldo terlihat cuek sambil mengambil sepatu Kenzie dari dalam rak sepatu.
"Jangan iya saja! tapi kamu itu harus bisa dewasa Ken! Kamu juga sebentar lagi akan menikah." Omel Anita lagi.
"Iya."
"Buruan di pakai pakaiannya!" Kesal Anita karena Ken, tidak kunjung memakai pakaiannya.
__ADS_1
"Bagaimana aku mau memakai pakaianku, jika mama sama papa ada disini." Ucap Ken, pada ibunya.
"Kau kan bisa memakainya di kamar mandi!" Kesal Aldo.
"Oh iya ya." Jawab Ken, lalu membawa pakaiannya menuju kamar mandi.
"Anak kamu tuh." Ucap Anita lagi kepada suaminya.
"Iya, sayang. Semua anak aku." Jawab Aldo menahan kesal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kau benar-benar keterlaluan bang!" Kesal Kailan, ketika melihat kakaknya sudah menuruni tangga bersama kedua orang tuanya.
"Sory." Ken berjalan mendekati Kailan yang tengah menggendong putrinya.
"Cih! Perasaan, gue dulu nggak selebay lo!" Sindir Kailan.
"Iya beda dong, kalau lo dulu 'kan kebobolan dulu." Sindir balik Ken, membuat Kailan mendesah kesal.
Karena Kai mengingat kisah masa lalunya yang menyembunyikan Vea dari mantan suaminya dulu.
"Sudah ayo buruan kita berangkat, nanti kita telat lagi." Ucap Anita, berjalan menuju halaman depan dimana ada tiga mobil yang sudah terjejer rapi disana.
Ya, Ken, Anita dan Aldo berada dalam satu Mobil, dan Mobil yang kedua diisi oleh Keluarga kecil Kailan, sedangkan mobil yang ketiga berisi seserahan yang di bawa oleh keluarga Sanjaya.
Perjalanan menuju rumah Bram tidak membutuhkan waktu yang lama.
__ADS_1
"Mah, aku gugup." Ucap Ken, kepada ibunya. Bahkan tangannya terasa sangat dingin, baru kali ini Ken merasakan hal seperti ini.
Anita menyarankan putranya untuk menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan. Dan Ken pun melakukannya berulang kali untuk mengusir kegugupannya.
"Aku sudah tampan kan?" Tanya Ken lagi.
"Anak mama selalu tampan dan perfect, ya 'kan pa?" Anita meminta persetujuan suaminya. Dan Aldo mengangguk setuju.
"Huh." Ken membuang nafasnya kasar lagi.
"Ayo kita keluar." Ucap Aldo, kemudian keluar dari mobil dan di ikuti anak dan istrinya.
Semua seserahan juga sudah di keluarkan dari dalam mobil dan dibawa masuk kedalam rumah Bram.
Keluaga Sanjaya di sambut hangat oleh keluarga Bram.
Acara lamaran sederhana itu sudah di mulai dan tukar cincin pun sudah dilakukan.
Kedua keluarga yang sebentar lagi akan menjadi besan itu sudah juga menentukan tanggal pernihakan putra putri mereka.
Mereka sepakat jika tanggal pernihakan diselenggarakan dua minggu lagi.
"Lebih cepat lebih baik." Ucap Bram, ia tidak ingin putrinya berlama-lama bertunangan.
"Ya, Kau benar sekali." Jawab Aldo. "Aku tidak menyangka jika kita akan bersatu menjadi besan." Ucap Aldo lagi.
"Ya, inilah yang namanya takdir." Jawab Bram tersenyum.
__ADS_1