Perawan Tua Meet Brondong Tajir

Perawan Tua Meet Brondong Tajir
Diantara dua pilihan


__ADS_3

"Kau begitu lamban ,Bram. Mereka sudah kembali ke Indonesia dan aku ingin kau menculik salah satu putrinya " Umpat Pria paruh baya itu. " Nyawa harus dibayar dengan nyawa ! Kau hancurkan lah putri sambungnya itu,Bram !."


"Maksudmu Anita? Mana mungkin aku menghancurkan orang yang aku cintai". Ucap Bram tegas.


"Bod*oh,Cinta membuatmu lemah !. Bukan kah kau sudah dicampakan ? Maka ini adalah saat yang tepat untuk membalaskan dendam mu !".


"Mau kau memaksaku seperti apa pun,aku tidak akan pernah melakukakannya. Cih,kau sungguh menjijikan !". Umpat Bram,membuat Pria paruh baya didepannya kini menggeram kesal.


"Lakukan perintah ku ! Apa kau lupa jika akulah yang membebaskan mu dan kau pikir itu mudah ? Mengingat kejahatan mu sudah level tertinggi ! " Ucap nya tenang namun penuh dengan penekanan.


"Jika aku bisa memilih,lebih baik aku membusuk dipenjara,dari pada aku harus melukai orang yang tidak bersalah" Balas Bram.


"Ha ha ha ha,kau sudah bertobat rupanya ? Tapi ini belum saatnya ! Aku memberi mu pilihan lakukan perintah ku atau Nyawa Anakmu yang akan di pertaruhkan " Ancam nya,dengan melemparkan sebuah foto seorang wanita cantik yang tengah berdiri didepan rumah minimalis dengan menggendong bayi mungil.


Nafas Bram tercekat saat mendengar penuturan Pria baya itu,tangannya bergetar saat ia mengambil sebuah foto tersebut.


"Anak ku" Lirih nya,seraya mengulas foto tersebut perlahan. Ia melihat Siska tersenyum begitu manis dan cantik ketika menggendong bayi tersebut. Ada setitik rasa bahagia didalam hatinya ,jika Siska dan bayinya baik-baik saja.


"Bagaimana? Kau mempunyai dua pilihan Bram" Ucapnya.


Bram mendongak,kini hatinya dilema ia bingung harus memilih yang mana. Tapi yang pasti,ia tidak ingin Anaknya terluka.


"Baiklah,aku memilih pilihan yang pertama" Ucap Bram,seraya memejamkan mata dan air matanya luruh seketika.


Anita,maafkan aku. Aku tidak mempunyai pilihan lain. Batin Bram teriris perih.


"Good,pilihan yang tepat" Ucapnya kemudian menepuk bahu Bram pelan kemudian pergi meninggalkan Bram yang termenung di dalam ruang kerjanya.


"Lemah,kau lemah Bram" Umpatnya pada dirinya sendiri. Ia benar-benar Frustasi saat ini,jika dilihat dari caranya ia mengusap wajahnya dengan kasar.


Tok tok tok


"Permisi,Tuan. Ini ada beberapa berkas yang harus Anda tanda tangani" Ucap Sekretaris Bram.


"Tak bisakah ,nanti saja Roy ? Aku sangat lelah" Ucapnya.


"Maaf,Tuan. Ini adalah berkas penting" Ucap Roy,tertunduk.

__ADS_1


"Baiklah. Bawa sini " Kemudian Roy memberikan berkas tersebut.


Setelah selesai menadatangani ,Roy pun hendak keluar dari ruangan bosnya itu.


"Roy" Panggil Bram. Roy menoleh saat akan membuka pintu.


"Jika kau diberikan pilihan Antara anak dengan yang lain,kau pilih yang mana? " Pertanyaan Bram terdengar Ambigu.


"Aku akan memilih Anak Tuan,karena anak adalah segala-galanya" Jawab Roy.


"Walaupun harus melukai orang lain?" Tanya Bram,membuat Roy mengernyit kan keningnya.


"Sebagai orang tua,kita seharusnya punya cara tersendiri untuk melindungi Anak kita tanpa menyakiti orang lain,bukan?" Ucap Roy,meskipun sedikit bingung dengan Bosnya yang tiba-tiba membahas Anak.


"Iya,tapi bagaimana caranya?" Tanya Bram.


"Kalau itu tanya disini" Menunjuk dada sebelah kirinya dan juga kepalanya. "Seorang ayah pasti tau apa yang harus dilakukannya".


Bram masih tidak paham dengan ucapan sekretarisnya tersebut.


"Saya permisi,Tuan" Pamit Roy dan di balas anggukan oleh Bram.


"Brengsek benar-benar brengsek,otakku buntu" Kemudian Ia beranjak dan mengambil kunci mobilnya kemudian meninggalkan kantornya dan menuju suatu tempat.


Kini Bram berada di depan sebuah rumah minimalis,Bram memperhatikan rumah dari jauh.


Tak berselang lama keluar lah penghuni rumah tersebut,seorang pria muda berseragam TNI beserta Siska dan juga bayi di gendongannya.


"Ayah,berangkat dulu,Ibra dirumah sama Bunda. Jangan rewel yang sayang" Pamit Reza,yang akan pergi bertugas keluar kota selama satu minggu.


"Baik,ayah. Jaga kesehatan ya Yah" Pesan Siska kemudian mengambil tangan Reza dan menciumnya.


"Aku berangkat,ya sayang. Kamu hati-hati dirumah" Reza mengecup kening dan bibir Siska singkat kemudian beralih menciumi seluruh wajah Ibra dengan gemas..


"Ibra jadi nama anakku Ibra? Dan apakah itu suaminya? Mereka sangat bahagia dan kamu memang pantas untuk mendapatkan kebahagiaan,Siska. Maaf selama bersamaku yang kamu dapatkan hanyalah luka". Gumam Bram,dipenuhi rasa penyesalan.


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


Siska merasa heran,perasaanya Reza baru berangkat kenapa kembali lagi? Dengan langkah terburu-buru Siska membuka pintu tanpa melihat siapa yang datang.


"Sayang,apa ada yang terting-" .Mata Siska membulat sempurna saat melihat siapa yang ada di hadapannya. Dengan cepat ia menutup pintu tapi sial ! Bram berhasil menahan pintu tersebut.


"Ka kau ? Bagaimana bisa ?" Ucap Siska terbata sekaligus terkejut.


"Ya ini aku" Jawab Bram,masih diambang pintu.


"Mau apa kau kesini ?"


"Mau apa ? Yang jelas aku ingin melihat anakku !" Ucap Bram tegas,membuat wajah Siska memucat.


"Please,pergi dari sini ! Kita sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi" Ucap Siska memundurkan langkahnya karena Bram semakin maju dan mengikis jarak.


"Dengarkan aku Siska,aku tidak peduli jika kamu menikah dengan pria lain tapi satu hal yang harus kamu pahami Ibra adalah Anak ku,darah dagingku dan kamu tidak berhak melarangku untuk bertemu dengannya" Ucap Bram tegas, tepat dihadapan Siska.


Bagaimana bisa? Bram mengetahui segala tentang dirinya dan juga nama anaknya ?. Oh iya, dia lupa siapa Bram,jika hanya untuk mencari informasi itu sangat mudah untuknya.


"Aku mohon jangan sekarang,ku mohon pergilah" Mohon Siska,karena wanita tersebut sangat takut jika Bram mengambil anaknya.


"Sudah aku katakan bukan? Jika kau tidak berhak melarangku" Bram semakin maju dan Siska semakin menahan Bram agar pria itu tidak menemui putranya.


Ya tuhan ,bagaimana ini. Mas Reza aku harap kau kembali,aku sangat takut. Batin Siska menangis,tapi Siska berusaha setenang mungkin.


"Kau memang ayah Biologisnya ! Tapi kamu tidak berhak atas dirinya,hanya mas Reza lah ayahnya,ayah kandung nya" Tegas Siska,mengeluarkan keberanianya.


Memang benarkan ? Siska tidak berbohong karena di Akte kelahiran Ibra tercatat Nama Reza sebagai Ayah kandungnya.


Saat mereka berdebat terdengar suara tangisan bayi dari dalam kamar rumah tersebut.


Pandangan Bram teralihkan kemudian menatap salah satu kamar yang diyakini jika itu adalah kamar putranya.


Dengan secepat kilat Bram menuju kamar tersebut.


"Bram,kau mau kemana? Stop Bram,aku bilang Stop !" teriak Siska berlari mengejar,tapi Bram tidak mendengarkan Siska, ia tetap fokus pada tujuannnya.


"Putra ku " Lirih Bram,saat melihat bayi mungil yang sangat tampan ada diatas tempat tidur sedang menggerakan tangan dan kakinya di udara,sedangkan bibirnya mengecap seolah ia sedang kehausan.

__ADS_1


Pemandangan itu membuathatinya menghangat dan juga sedikit sakit,sakit karena dulu pernah menyi-nyiakannya.


"Bram aku bil-".


__ADS_2