
"Mas,apa itu akan muat ?" Tanya Encus dengan polosnya.
"Muat,sayang" Jawab Bram,mulai memposisikan dirinya.
"Tahan ya,awalnya memang sakit tapi cuma sebentar kok," Encus mengangguk pelan.
Encus meringis saat merasakan tombak sakti itu perlahan memasuki intinya.
"Sakit," Rintih Encus,sambil mencengkram lengan Bram.
"Tahan sayang,sedikit lagi," karena sudah masuk setengah jadi tidak mungkin untuk mundur.
Jleb
Akhirnya tombak sakti itu masuk sepenuhnya.
"Maaf,sakit banget ya ?," Encus mengangguk sambil meringis kesakitan,lalu Bram mencium kedua mata Encus yang berkaca-kaca.
Bram mendiamkan tombak saktinya sesaat,barulah dirinya bergerak perlahan.
"Ughh,sayang," racau Bram,saat merasakan kenikmatan itu,begitu pula Encus yang awalnya merasakan sakit kini ia mulai merasakan kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Bram terus memompa hingga membuat Encus tak berhenti mendessah.
__ADS_1
"Eummm," bibir Encus dibungkam oleh Bram sambil terus berpacu diatas tubuh istri kecilnya itu,hingga keduanya sampai puncak bersama-sama.
"Arghhhh," dessah keduanya,Bram dengan cepat mencabut tombak saktinya dan menumpahkan lahar panasnya di atas perut sang istri. Ia sadar jika istrinya masih sekolah jadi ia tidak ingin membuat istrinya hamil kecuali jika istrinya menginginkannya.
"Terimakasih sayang," Bram mengecup bibir Encus yang terlihat pucat dan juga sedikit bengkak.
"Sama-sama Mas,"jawab Encus,masih terengah-engah. "Mas,ini apa ?," tanya Encus saat ada cairan kental diatas perutnya.
"Ayo bersihkan diri dulu," Bram menggendong Encus menuju kamar mandi,tanpa menjawab pertanyaan Encus.
"Mas,aku bisa sendiri," Encus merasa malu saat Bram akan membersihkan area sensitive nya.
"Apa sakit banget ya?," tanya Bram,saat melihat Encus membasuh area sensitivenya itu sambil meringis kesakitan.
"Pakai nanya lagi ! Mas enggak sadar 'itu' nya mas gede banget," kesal Encus.
Bisa-bisanya suami nya bertanya seperti itu . Batin Encus kesal.
"Ya kan,aku cuma tanya sayang," ucap Bram.
Setelah membersihkan diri Bram menggendong Encus dan mendudukannya di sofa yang ada di kamar itu.
"Kamu tunggu disini ! Jangan banyak gerak," Encus mengangguk patuh.
__ADS_1
Bram mengganti sprei yang ada bercak darah suci istrinya,lalu memasukan sprei yang kotor itu kedalam lemari.
"Mas,kenapa spreinya di masukin ke lemari ?,"
"Sprei itu enggak akan aku cuci," jawab Bram.
"Ih,mas jorok. Lagian itu sprei kan kotor ?,". Encus tak habis pikir dengan suaminya itu.
"Sprei itu ada bercak darah suci kamu,Yank. Jadi mau aku laundry aja," jawab,Bram.
"Iya Mas," jawab Encus tersipu malu karena mengingat percintaannya beberapa saat yang lalu.
"Ayo kita tidur,sudah malam. Besok kamu libur dulu sekolah nya," Bram menggendong tubuh istrinya yang masih polos,sedangkan dirinya hanya memakai boxer saja.
"Tapi--
"Nurut sama suami,aku yakin besok kamu enggak bisa jalan," ucap Bram sambil terkekeh,lalu menyelimuti tubuh kedua dengan selimut tebal.
"Mas,aku mau pakai baju dulu,enggak nyaman kalau tidur begini," Encus benar-benar merasa tidak nyaman,apalagi kulitnya bersentuhan langsung dengan kulit suaminya.
"Enggak boleh ! Gini aja enak."
"Iya sih,tapi tangannya jangan disini," Encus menyingkirkan tangan Bram yang bermain di puncak bukit kembarnya,tapi tangan Bram bermain disana lagi walaupun Encus sudah berulang kali menyingkirkannya,dan akhirnya Encus lelah sendiri dan membiarkan suaminya dengan mainan barunya.
__ADS_1
Berasa ser ser gimana gituπ π
Jangan lupa like,komentar dan hadiahnya πππΉπΉ