
Happy Reading...
Fira menelan ludah.
"Dari mana ibu mendapatkan pikiran itu?" tanya Dokter Fira dengan kegugupan luar biasa.
"Aku mendapatkan telpon dari sebuah toko perhiasan untuk pemberian sepasang cincin pernikahan."
Fira meremat jemarinya gugup. apalagi saat melihat wajah Cintya yang mengeras penuh amarah.
Ting!
Satu pesan masuk ke gawai Fira. membuat wanita itu tersenyum. lalu cepat-cepat ia menormalkan wajahnya kembali.
"Siapa?" tanya Cintya.
"I_itu bu, dia_"
"Pacar kamu?" todong Cintya.
"Bu_bukan bu." jawab Fira gugup. "tapi suami anda." lanjutnya dalam hati lalu tersenyum.
"Berapa lama. kalian pacaran?" pertanyaan Cintya hampir membunuh Fira karena takut dan gugup. ia sangat takut Cintya mengetahui semuanya. karena ia tahu jika istri bosnya itu adalah wanita yang sangat cerdas dan juga tak mudah di bohongi.
"Kami tidak pacaran." Fira mengedarkan pandangan. ia tak menendang wajah Cintya yang ada di sampingnya karena ia tahu jika Cintya sangat pandai membaca situasi dan perubahan air wajah.
Keheningan melingkupi ruang kecil yang berisi tiga orang dan dua bayi itu. dalam kereta besi yang hanya terdengar suara laju kendaraan itu, cintya tampak terdiam. wajahnya tak menampilkan mimik bahagia. Fira tahu ada kekecewaan di dalam hati majikannya itu. tapi Cintya sangat pandai menyembunyikannya. dalam pandangan Fira, majikannya itu adalah sosok yang luar biasa. ia sangat mengaguminya. selain cantik dan juga baik, cintya adalah istri yang sempurna. sebuah potret keluarga bahagia yang sebenarnya. Fira telah melihatnya dalam keluarga kecil itu. ada rasa kagum tersendiri yang Fira rasa kan pada sosok wanita cantik dan cerewet itu.
Drrt..
Drrt..
Drrt...
Getaran dari panggilan yang masuk ke gawai Fira sampai ke telinga Cintya. tapi si pemilik gawai sendiri seperti tak mendengarnya karena sedang melamun. hingga akhirnya ia merasakan pundaknya di sentuh oleh Cintya.
"Fir, kamu melamun? handphone kamu berbunyi itu."
Fira berjingkit. dengan cepat ia mengambil gawainya yang masih berteriak dalam tasnya.
"Ah iya, maaf bu."
Segera Fira mengangkat telpon, tapi raut keterkejutannya masih tak dapat di sembunyi kan.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Cintya.
"Bapak," jawab Fira tanpa suara. hanya mulutnya saja yang tampak bergumam mengucapkan kata itu.
"Ha_halo."
"..."
"I_iya?"
".."
"Ba_baik, akan saya sampaikan."
Lalu panggilan terakhir.
"Ada apa kakak menghubungimu?" tanya Cintya tanpa kecurigaan.
"Handphone ibu tak dapat di hubungi." jawab Fira.
Cintya lantas melihat handphon nya dan ia langsung menghembuskan nafas pendek.
"Lowbatt, ada apa kakak menghubungi mu?"
"Bapak bilang, bapak tidak bisa datang tepat waktu. beliau akan datang nanti. ada urusan pekerjaan yang harus di selesaikan dan bapak masih dalam perjalanan dari kota saat ini."
Kekecewaan di wajah Cintya tak dapat di sembunyi kan lagi.
"Lalu bagaimana dengan pestanya?" tanya Cintya dengan suara lirih. tenggorokan nya tercekat karena harus menelan kekeecewaan dari suaminya yang akhir-akhir ini sering menyulut emosinya.
Untung saja sekarang Cintya berperan sebagai istri yang baik, jika saja ia masih seperti dulu, cintya yang bar bar rusuh dan suka mengacau, mungkin saja saat ini dia akan menghancurkan Herlambang Hotel dengan tangannya. tapi ia sendiri tak bisa menjamin bahwa itu akan berlangsung lama. bisa saja sifatnya itu di butuhkan untuk sekarang ini.
Lihat saja, Dewa akan menyesal telah menyakitinya. agaknya Dewa harus di ingatkan seperti apa istrinya itu. mungkin Dewa lupa bagaimana istrinya bisa berubah dari kucing yang manis menjadi singa terluka. lebih ganas dan mematikan.
"Semuanya sudah siap."
"Baiklah kita ke sana, tapi bukan untuk menikmati pesta melainkan menghancurkannya." ucap Cintya tegas. dan aura kemarahan dari sang nyonya membuat Fira membeku. lalu ia sedikit memiringkan bibirnya tanda kemenangan.
"Yes!! semuanya lancar." sorak Fira girang dalam hati.
Mobil bergerak cepat, tapi Cintya merasa jika saat ini ia sedang menaiki odong-odong. rasa kesalnya pada Dewa harus pria itu bayar mahal. Cintya bersumpah untuk itu.
Setelah sampai di hotel, Supir menghentikan mobil tepat di depan lobi. tak menunggu Fira yang sedang yang sedang menyiapkan stroler untuk Si kembar, cintya berjalan begitu saja meninggal kan dua anaknya bersama baby Sitter yang di bantu oleh supirnya.
__ADS_1
Cintya berjalan cepat hingga suara dari hellsnya yang terbentur lantai terdengar mendominasi lobi yang kebetulan sangat lenggang.
Di sana, di dalam ballroom yang seharusnya menjadi tempat penyelenggaraan pestanya tampak sepi tanpa suara.
Apakah Dewa benar-benar membuat moment ini kacau hanya demi pekerjaan yang katanya penting itu. sekarang bukan lagi kekecewaan yang Cintya rasa kan. tapi amarah yang meletup-letup dan hampir membuat kepalanya pecah. jantungnya akan meledak mungkin karena darahnya mendidih. Dewa bahkan menomer dua kan ulang tahun pernikahan mereka. kurang ajar sekali pria itu. ia telah salah mencari musuh. harusnya Dewa belajar mengatasi kemarahan Cintya dulu sebelum ia benar-benar membuat singa betina itu marah. apa Dewa juga lupa jika dirinya sering mendapatkan hukuman dan kesusahan hanya karena kesalahan kecil. tapi kali ini Cintya benar-benar berada di titik terendah jarum pengendalian dirinya.
"Dewa Herlambang, mati saja kau jika kau berani membuatku kecewa." ocehnya yang hanya di dengar nya sendiri.
Langkah kaki Cintya terhenti kala melihat ruangan itu gelap seperti tak ada manusia di dalam sana.
Sekarang bukan hanya sedih dan kecewa, tapi Dewa sudah sangat keterlaluan hingga membatalkan pesta mereka.
Air mata Cintya melesak keluar deras membasahi pipinya yang cubi. dari kesakitan yang ia rasa kan selama sebulan ini, saat ini lah yang paling menyakitkan. Cintya terisak sendiri di tempatnya.
Satu detik..
Dua detik..
Lima Detik..
Satu menit...
Sebuah cahaya seperti kilatan melintas. di depannya yang tak jauh dari jangkauannya, ia melihat cahaya yang pelan-pelan membias membentuk sebuah siluet dalam sebuah gambar bergerak.
Cintya semakin terisak.
Satu tampilan dari layar proyektor saat ia pertama kali bertemu dengan pria yang membuatnya sangat kesal.
Kebersamaan Cintya dan Dewa di Bali menjadi penyambutan atas kedatangan sang ratu pesta.
Di sana, dalam sorotan proyektor, ia tengah berseteru dengan pria yang ia sebut sebagai pria mesum yang ia beri julukan buaya cap cicak. pria yang ia panggil dengan sebutan Om, bangkotan yang kini berstatus suaminya.
Cintya tergugu di tempatnya.
Bahkan tak ada satu gambar pun yang di sensor meski di sana Cintya hanya menggunakan handuk sebatas paha.
Apa suaminya itu berniat memamerkan kemolekan tubuhnya.
Hingga gambar bergerak itu menampilkan segala aktifitasnya bersama Dewa mulai dari kantor, saat mereka di vila. hingga acara pernikahan, lahiran si kembar bahkan saat pertengkaran-pertengkaran kecil yang membuatnya mendapatkan hukuman dari sang istri.
"Happy Aniversary, my love."
***
__ADS_1