
Happy Reading...
Setelah semua selesai, Dewa benar-benar menjalankan apa yang di ucapkan nya. membawa keluarga kecilnya jalan-jalan.
"Dewa," mendengar namanya di panggil, Dewa menoleh mendapati teman masa kuliahnya.
"Hai Josh, apa kabar?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Dewa, pria itu justru menatap Cintya. sedangkan Cintya sendiri tampak cuek.
"Dia istri lo?" tanya Josh, Dewa mengangguk.
"Sialan! kalah cepet gue sama lo!"
Dewa mengernyit tak mengerti, "maksud lo?"
Tentu Dewa bertanya seperti itu karena ia tahu jika Josh adalah pria seperti dirinya yang tak akan memikirkan pernikahan. tapi jika ia mengatakan hal itu apalagi setelah melihat Cintya, tentu saja itu mengejutkan.
"Kita sama-sama tahu diri kita masing-masing, gue kira lo bakal bertahan dengan prinsip lo yang tak akan repot dengan pernikahan." ucap.Josh yang mendaulatkan respon hembusan nafas pendek dari Dewa.
"Dia yang membuat gue berprinsip seperti itu dan dia juga yang mematahkan prinsip itu." jawab Dewa dengan melemparkan pandangan penuh kasih pada Cintya.
Cintya menanggapi dengan senyum manis ucapan Dewa. dan itu berhasil memaku pandangan Josh terhadap dirinya.
Josh memandang Cintya penuh makna. ia tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini. yang jelas ada rona kecewa di wajahnya.
"Lalu gimana dengan lo sendiri?" lanjut Dewa bertanya,membuyarkan keterpaduan Josh pada Cintya.
"Gue lebih brengsek dari lo, tapi gue gak pernah berjanji untuk tidak terlibat perasaan dengan wanita jika kita memang cocok. dan sekarang malah lo yang membelok." Josh tertawa mengingat masa mudanya yang tak kalah seru dengan Dewa. mereka selalu beradu ketampanan dan ketenaran di kampus.
"Anggap gue kemakan omongan gue, nyatanya gue bertekuk lutut sama dia." tutur Dewa jujur. "dan ternyata pernikahan tak se-menakut kan yang gue bayangin. gue bahagia sekarang. Gimana dengan lo."
__ADS_1
"Seperti yang gue bilang tadi, gue kalah cepat dari lo." Dewa masih tak mengerti arah pembicaraan Josh. dan ia pun tak menegaskan lagi maksud dari omongan temannya itu.
"Berapa anak lo?" tanya Josh.
"Lo gak tanya berapa aset gue?" canda Dewa.
"Untuk masalah itu, gue gak perlu tanya. gue masih bisa hitung tanpa bertanya." Josh membalas candaan Dewa dengan tawa ringan.
"Baru dua, dan sekarang udah mau ada lagi." Dewa memeluk pundak Cintya. membawanya ke dekat dadanya.
"Baru dua?"Josh mengernyit bingung. "Emang betapa target anak lo?"
"Enam, gue mau anak enam." Dewa berucap yakin. yang di sambut tawa renyah oleh Josh.
Cintya yang sejak tadi menyimak hanya menimpali dengan senyum. Josh bahkan sampai terkesima karena itu.
Andai gue datang lebih cepat, mungkin Leo bisa bantu gue. jika pada akhirnya gadis secantik lo jatuh ke tangan yang tak beda jauh dari gue. gue terlalu takut buat nyatain perasaan gue sama lo dulu karena gue sadar se-brengsek apa hidup gue.
Betapa nyeri hatinya saat ini. ia berada jauh di luar negeri untuk melupakan gadis yang diam-diam ia cintai. dan saat kembali, semuanya sudah terlambat. ia merutuki kebodohannya. Josh masih menikmati senyum Cintya yang tak luntur. hingga suara Dewa menyadarkannya.
"Gue dengar lo pergi menetap di Rusia, kok malah balik. jangan-jangan lo kangen cewek yang udah buat lo patah hati." ledek Dewa telak menyentil perasaan Josh.
"Sayangnya gue terlambat. sepertinya dia sudah menjatuhkan pilihan." ujar Josh dengan senyum hambar. sungguh hatinya seperti di remas saat ini. apalagi Cintya tampak begitu nyaman dalam pelukan Dewa meski mereka sedang berada di tempat umum.
"Kak,"
"Kenapa cinta? capek?" tanya Dewa saat merasakan Cintya melonggarkan pelukannya.
Hati Josh rasanya tertusuk, yang ia tahu namanya Cintya tapi Dewa memanggilnya Cinta. sedangkan Cintya meski memanggilnya kakak, terdengar begitu manja.
"Sepertinya Twins haus, jika kalian masih ingin mengobrol, aku cari tempat duduk saja." pintar Cintya pada Dewa dengan suara khasnya. manja.
__ADS_1
"Oke, kita sekalian makan siang." Dewa beralih menatap Josh. "Bergabung dengan kami?" tawar Dewa.
Josh tampak berpikir sebentar lalu mengangguk.
Kesunyian merambati hati Josh, ia merasakan sesak di dadanya padahal ia berada di ruangan yang luas manakala Cintya dengan begitu manja bergelayut pada Dewa yang berjalan di sampingnya.
Saat berada di restoran, Josh mengambil duduk di samping Dewa tepat berhadapan dengan Cintya. ia sedikit tersenyum karena bebas menikmati wajah Cintya yang sedang mengajak Twins berbincang.
"Berapa usia mereka?" tanya Josh basa-basi untuk mengalihkan perhatian Dewa agar tak sampai tahu jika ia sedang memandang puja pada Cintya.
"Enam bulan." jawab Dewa.
"Udah mau punya adek, lo beneran normal ternyata." Josh terkekeh menutupi rasa sakitnya.
Kedatangannya kembali membawa harapan dan tujuan, tapi ia di hadapkan pada kenyataan, bahkan sebelum genap sehari ia berafa di negeri sendiri.
"Apa lo bakal lama di sini?"
"Jika lo ijinin gue sering main ke rumah lo." jawab Josh dengan senyum tersembunyi.
"Tentu lo boleh datang kapan saja."
***
Gantung ya, sambunglah nanti...
Josh kok ganteng sih, saingan berat si sableng nih.
Wa, jaga istri baik-baik..
__ADS_1