Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).

Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).
Musuh dalam selimut.


__ADS_3

Happy Reading...


Malam hampir larut saat Dewa keluar dari kamar mandi. Cintya masih menekuk mukanya, rasa pahit yang masih terasa mencekik di lehernya membuatnya ingin mencakar wajah Dewa. satu jam yang lalu ia merengek meminta Dewa untuk membelikan coklat dan ice cream untuk menetralisir rasa pahit di mulutnya.


Sudah satu cup besar ice cream yang ia tandaskan, tapi rasa pahit di tenggorokannya itu masih menyiksanya. dan sekarang ia sedang menikmati satu buah coklat besar yang Dewa beli dan di depannya satu slop kinerjoy sudah Dewa siapkan untuk jaga-jaga.


Dewa tak menyapa ataupun menegur. ia justru melewati begitu saja kaki Cintya yang menjulur bersilang di bawah meja. dan itu benar-benar membuat Cintya kesal setengah mati.


Cintya sudah seperti ikan badut. pipinya mengembung hingga bibirnya tampak lebih kecil. sementara si pelaku yang membuatnya seperti itu tampak cuek, duduk di seberang meja sedang memangku laptop.


"Cinta, sudah malam gosok gigi lalu tidur." titah Dewa tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.


Cintya menatap horor sambil menggigit besar coklat di tangannya lalu mengunyahnya dengan gerakan kasar.


Sungguh hatinya teramat kesal. ini merupakan hukuman terburuk yang ia terima seumur hidup.


Melihat reaksi Cintya seperti itu, Dewa sangat ingin tertawa. tapi ia menahannya dengan wajah datarnya. sungguh sangat lucu sekali, ia seperti melihat Aza dalam diri Cintya.


"Sayang," ulang Dewa dengan nada lembut namun tegas.


Dengan wajah memberengut dan hentakan kaki pertanda protes, Cintya masuk ke kamar mandi untuk menggosok gigi seperti perintah Dewa.


Dewa hanya menggelengkan kepala. ternyata melahirkan dua anak kembar tak serta merta membuat istrinya itu menanggalkan sifat manjanya. justru ia semakin menjadi-jadi. seolah takut perhatian Dewa beralih pada kedua anaknya.


Sepuluh menit kemudian, cintya kembali duduk di hadapan Dewa. wajahnya masih terlihat tak mengenakkan meski ia telah mencuci muka dan mengoles krim malamnya.

__ADS_1


"Kenapa gak tidur, ini sudah malam sayang." menatap Cintya sekilas lalu kembali fokus pada pekerjaannya.


"Gak mau! biar aja, aku nungguin di sini." tolak Cintya persis anak kecil yang sedang merajuk.


"Mau jadi satpam?" tanya Dewa menggoda.


"Iya, kali aja Elvi Tamasya itu menelpon kakak buat nemani dia tidur." jawab Cintya sambil menegakkan duduknya.


Dewa nyaris terbahak. Elvi siapa tadi? Tamasya. bisa-bisanya istrinya itu mengganti nama orang sembarangan.


"Kok gitu ngomongnya, jelek ah. cantiknya om gak boleh berkata buruk."


Dewa mengusap lembut pipi Cintya dengan punggung tangannya. hal yang paling Cintya sukai saat dirinya merajuk. Dewa selalu bisa membuatnya kembali pada mood yang baik.


Ah, panggilan Om itu, Cintya sangat merindukannya.


"Seperti apa, apa maksud kamu?"


"Aku seperti orang yang lagi ngelamar pekerjaan. di ajakin ngomong tapi kakak liatnya dama laptop sama berkas-berkas doang."


Dewa terkekeh, "Bisa saja kamu ini."


"Ih, beneran!"


"Iya, kamu lagi ngelamar jadi satpam, satpam yang jagain hati aku."

__ADS_1


Blush!


Cintya Merona, ucapan Dewa yang diucapkan dengan nada datar yapi mengandung makna yang sangat romantis.


"Apa sih, ngomongnya alay." Cintya membuang muka, Dewa dengan gampangnya membuatnya melambung.


"Kalo gak jagain hati kakak, emang kamu mau jagain apa?"


"Ya jagain kakak."


"Dari?"


"Musuh."


"Kakak gak punya musuh Cinta,"


"Mantan banyak," Cintya berdecih.


"Gak ada ya kakak punya mantan."


"Kalo gitu aku jagain kakak dari musuh, musuh dalam selimut."


"Nah itu baru bener, kamu kan musuh dalam selimutnya?" Dewa memandang penuh minat yang segera di sadari oleh Cintya.


"Apa sih?"

__ADS_1


***


Buat pengantar tidur saja, sekalian ngucapin Happy week end.


__ADS_2