
Happy Reading...
Tokk!
"Hadohh!"
Pukulan dari ujung tongkat kakek berhasil mendarat di puncak kepala. Dewa memekik sambil mengelus kepalanya yang menjadi sasaran dari kemarahan eyangnya.
Pria itu bahkan belum sempat istirahat setelah perjalanan dari Lombok, dan sekarang ia harus berada di depan meja peradilan. seperti seorang narapidana yang terbukti bersalah dan menunggu putusan hakim.
"Dasar anak nakal!" kembali tongkat sakti itu dengan bebas menghajar. bukan lagi pada kepala, tai pada pantat.
Saat ini Dewa lebih mirip anak kecil yang bolos sekolah dan terciduk keluyuran di mall.
"Udah dong Yah, kasihan anakku." Mama Graciella menahan tangan pria tua yang masih kuat memberikan pukulan itu.
"Biar, biar saja. biarkan dia menerima hukuman dari ketidak becusan nya."
Semua orang yang berada di ruang itu hanya mampu terdiam. tak ada yang berani membantah ataupun menolong jika Eyang sudah bertindak. bahkan Papa Rendra hanya membeku di tempatnya.
Berbeda dengan Dewa yang begitu tenang menerima hukumannya, justru Alex yang juga sedang berada di sana terlihat ketakutan dengan keringat dingin mengalir di pelipisnya.
"Tapi jangan di pukul terus Dewa nya, nanti dia sakit." pintanya memelas sambil memeluk Dewa.
Percayalah raut wajah Dewa sudah mirip anak SD yang sedang berada dalam pembelaan ibunya.
"Graciela," tegur papa Rendra agar istrinya membiarkan apapun yang ingin di lakukan pria tua itu. jika tidak, sang penguasa yang masih gagah di usia hampir delapan puluh tahun itu akan semakin menunjukkan taringnya.
"Tapi Pa," tolaknya, tapi hanya sebentar karena Rendra memberikan usyarat dengan matanya.
Graciella mundur. wanita itu terpakasa hanya menonton. ia meringis membayangkan ayah mertuanya itu akan menghajar putra semata wayangnya itu dengan tongkatnya.
"Kamu sadar apa kesalahan kamu?" kembali suara bariton itu menggema di ruang kerja Dewa.
"Tahu eyang," jawab Dewa sedikit malas. bahkan pukulan yang lebih keras dari ini pernah ia terima saat pulang dalam keadaan mabuk. Dewa sudah kenal baik dengan tongkat itu.
"Terus sekarang mana istri kamu?" tanya Eyang bernada tuduhan. tentu saja ia tak mampu menjawab. bahkan baru dua puluh empat jam menghilang, Cintya berhasil menggoncang keluarga. besarnya.hebat sekali.istrinya itu membangunkan raja singa yang sedang terlelap.
"Dewa belum ketemu eyang." jawab Dewa jujur. bohong pun percuma. pria tua itu tak akan berhenti bertanya sebelum ia mendapatkan apa yang di inginkan nya.
"Lalu apa saja yang kamu lakukan dua hari ini?"
"Salah informasi dan tah begitulah. mungkin orang yang di sana bisa menjelaskan." jawab Dewa dengan melemparkan pandangan tuduhan pada Alex.
Karena merasa tertuduh dan memang benar adanya, Alex pun tak dapat menyanggah tuduhan Dewa. ia hanya mampu menunduk, menunggu hukuman dari tuan besar tempatnya bekerja.
"Kalian ini benar-benar keterlaluan. kalian sadar apa tidak jika Cintya membawa dua cicit ku, kenapa kalian tidak mencari dengan benar dan membuatnya jadi bahan candaan. bagaimana jika terjadi sesuatu dengan mereka!" cerca pria itu lantang pada Dewa dan Alex yang berdiri bersisian.
Kedua pria itu hanya bergeming. tak tahu harus memberikan alasan apa. karena mereka tahu, apapun alasan ysng mereka berikan tak akan mampu membuat Eyang menarik kembali kemarahannya.
__ADS_1
"Dan kamu anak nakal," tunjuknya pada Dewa dengan menggunakan tongkatnya. Dewa sampai harus menarik mundur wajahnya agar tak sampai mencium ujung tongkat pria tua itu. "apa karena wanita di rumahmu itu sampai istrimu pergi dari rumah! benar begitu?"
Dewa membulatkan mata, jadi kakek sudah melihat Elvira? apa karena itu kakek jadi tahu semuanya. Dewa bertanya dalam hati.
"Dasar Bodoh!" umpatnya tepat di depan muka Dewa.
Dewa menutup rapat matanya. apa yang di katakan Elvira sehingga Eyangnya bisa semarah ini. berbagai pertanyaan melintas di epala Dewa.
"Kalau tau kamu akan berbuat seperti ini, Eyang tak akan menjodohkan kalian. Eyang menyesal melakukannya. Eyang sangat malu!"
"Memang apa yang aku lakukan Eyang?" dengan sisa keberaniannya Dewa bertanya.
Bukannya mendapat simpati, Eyang justru kembali mendaratkan tongkatnya di kepala Dewa.
"Masih berani tanya kamu hah! wanita itu hamil anak kamu. bahkan si kembar belum genap berusia lima bulan. apa yang ada dalam otak kamu itu Dewa!?" Hardikan Eyang berhasil menarik kesadaran Dewa. ia merasa mendapatkan pukulan lebih keras saat kata-kata Eyang itu mampir di telinga nya.
"Tidak Eyang, itu tidak benar." sanggah Dewa cepat sebelum masalah ini semakin meruncing.
"Lalu yang benar bagaimana? ayo jawab!"
Dewa menelan ludah agar dapat melancarkan ceritanya. tapi itu lebih pada usahanya menghilangkan kegugupannya.
"Ayah dari bayi wanita itu adalah karyawan yang telah menyelamatkanku Eyang,"
"Jadi maksudmu wanita itu berbohong, begitu?"
Tokk!
Entah berapa kali Dewa mendapatkan pukulan di kepala sore itu. yang jelas Eyang lah yang Maha benar. Dewa yang paling salah. jadi terserah pria itu mau menghukum bagaimana.
"Jadi menurut kamu Eyang yang bersalah, begitu?"
Diam sajakah Dewa dari pada dapat getokan lagi.
"Jawab!"
"Bukan Eyang, dia yang salah."
"Sekarang kamu menyalahkan orang lain?"
Dasar labil. jawab ini salah itu salah jadi terserah Eyang sajalah. Dewa hanya mampu menggerutu dalam hati.
"Pokoknya Eyang tak mau tau, dalam dua hari ini, kamu harus bisa membawa kembali anak dan istri kamu. jika tidak_"
"Jika tidak, apa Eyang?"
"Jabatan kamu akan Eyang turunkan!"
Baiklah, Dewa harus sadar, meski ia memiliki kedudukan tertinggi. tapi Eyang lah yang paling berkuasa.
__ADS_1
"Dan kamu;" tunjuk Eyang pada Alex. pria itu mendongak memperhatikan. "Kamu akan bekerja di lapangan dan semua fasilitas kalian berdua akan di cabut."
Alex dan Dewa sama-sama membeku, perintah kakek bersifat mutlak. dan mereka harus tunduk di bawah perintah.
"Rapat bubar!" titahnya membuat ke empat orang di saba bernafas lega.
Satu persatu ketiga orang keluar dari ruangan. sekarang tinggallah Dewa dan Alex yang sepertinya nasih mencerna ucapan pria tua labil dan pemarah itu.
"Lex,seriusan yang tadi itu?"
"Ya iya lah Bego, secara Nyang lo yang ngasih perintah!"
"Terus gue harus cari ke mana Lex dalam dua hari. dia kira pulau jawa sebesar daun kelor apa?"
"Mana gue tau, lo kan lakinya." jawab Alex yang sepertinya tak begitu peduli.
"Gak masalah sih, yang turun jabaran bukan cuma gue, lapangan panas loh Lex"
Alex mulai ketar-ketir mengingat keadaannya. bagaimana jika ia benar-benar turun jabatan.
"Wa,apa lo udah lunasin apartemen gue?"
"Sayangnya belom Lex."
Dewa begitu menikmati wajah khawatir Akex. memangnya ia pikir hanya dirinya yang bisa iseng. Dewa lebih jago dalam hal ini.
"Terus sekarang gimana?"
"Tanya sama abang durjana gue, di mana istri gue bersembunyi."
"Gue coba dulu."
Belum sempat Alex menelpon, gawai nya lebih dulu berdering. Leo menghubunginya. dan suara di seberang sana terdengar sangat panik.
"Apa!"
".."
"Oke.."
"Ada apa Lex?" melihat ada tang tak beres, Dewa bertanya khawatir.
"Nyonya menghilang!"
"Apa!"
***
udah panjang ya,
__ADS_1