
Happy Reading.
"Tapi kenapa jin ini tampan sekali dan juga wangi?"
Cintya mengendus leher Dewa "tapi wanginya sabun," ujarnya lali menarik kepalanya. sedikit menjauhi Dewa. wanita dengan rambut sedikit berantakan itu menelisik Dewa dari atas sampai bawah.
"Tapi mukanya kenapa mirip kakak?" tanya-nya pada diri sendiri
Cintya berdiri santai sambil melipat tangan di dada. sementara Dewa sendiri hanya bergeming memperhatikan Cintya yang melihatnya dengan pandangan seperti menyelidik.
"Kalo jin nya setampan ini, aku mau lah khilaf sebentar saja." wanita itu kembali berceloteh membuat Dewa melebarkan matanya.
"Om! Om! Om Jin!" seru Cintya di depan wajah Dewa."Gak seru ih, Jin nya gak punya kuping!"
Dewa terpekik dalam. bisa-bisanya Cintya mengatakan ia tak memiliki telinga secara tidak langsung Cintya mengatakan dia tuli.
"Tapi gak seru gak denger suaranya" Jari Cintya mengetuk-ngetuk pelipisnya. "Apa selain tuli ia juga bisu ya?"
Dengan konyolnya Cintya menengok arah kiri dan kanan wajah Dewa. "Tapi kenapa dia lebih tampan dari kakak? boleh kali tukar tambah!" tutur Cintya lalu terkekeh geli.
Dewa menajamkan telinga, apa maksud Cintya dengan menukar tambah dirinya.
"Tapi mana ada yang mau?" ujarnya sendu di buat-buat. "kerjain boleh kali, mumpung lagi jinak."
Cintya memasang wajah seolah berpikir serius. "Aha!" beo nya antusias
Namun sebelum Ia mengatakan apa yang dingin di katakan nya, suara yang tak asing menyapa pendengaran nya, "Sebutkan tiga permintaanmu!"
Sontak Cintya mundur dengan mata membulat sempurna dan mulut menganga.
__ADS_1
"Oh, jadi Om Jin yang ada di iklan rokok itu yang ada di sini?"
Lihatlah! ternyata wanita itu belum berhasil mengumpulkan nyawanya yang tercecer. bisa-bisanya dia menganggap Dewa adalah jin di iklan rokok warna hijau itu.
"Beneran?" Dewa mengangguk.
"Oke!" jawabnya riang. "permintaan pertama, untuk meyakinkan, Cium pipiku." pinta Cintya sambil menyodorkan pipinya.
Cup! bukan pipi, melainkan bibir yang Dewa kecup.
"Ih, di bilang pipi juga!" ketusnya. "tapi kok enak ya? mirip ciuman kakak!" Cintya menjilat bibirnya setelah Dewa menciumnya.
"Boleh gak sih selingkuh sama jin tampan ini?"
Dewa menggelengkan kepala tak habis pikir.
"Oke! lanjut, permintaan kedua, berikan aku perhiasan yang indah."
Tanpa mengucapkan apapun, Dewa menarik tangan Cintya lalu memakaikannya.
"Wow, bagus sekali. terima kasih Om Jin." Cintya memperhatikan benda melingkar di pergelangan tangannya sambil tersenyum.
"Kakak, aku kangen!" tuturnya sendu dengan nada sedikit manja.
Dewa tersenyum mendengar ucapan Cintya.
"Om Jin, permintaanku tinggal satu, apa bisa Om kabulkan?"
Dewa mengangguk pelan.
__ADS_1
"Aku mau Om bawa kakak kesini!"
Dewa melangkah mendekat ke hadapan Cintya lalu mencium bibir lembut dan sedikit lama.
Cintya menarik diri karena kaget."Ya Tuhan! aku di baperin om Jin! apa karena aku terlalu memikirkannya sampai rasa ciumannya juga sama." pekik Cintya dengan memegang dadanya.
Dewa tak tahan lagi, mati-matian ia menahan tawanya agar tidak pecah, namun semuanya gagal hanya karena ucapan istrinya yang lucu.
"Kenapa malah tertawa?" tanya Cintya
Dewa menghembuskan nafas pendek dan kasar. "Ini Kakak Cinta," ucap Dewa pelan.
Cintya semakin membuka mulutnya. "Bahkan suaranya sama persis!"
Semakin aneh saja tingkah Cintya. membuat Dewa ingin sekali menggigit kulit seputih bakpao itu.
"Ini kakak Cinta," ucap Dewa menegaskan.
"Ya Tuhan, Kursi... kursi.."
Teriak Cintya panik sambil menghentakkan kakinya dengan cepat. seperti gerakan lari di tempat.
Dewa semakin tergelak, bisa-bisanya Cintya mempertanyakan tentang kursi di saat seperti ini.
"Kok kursi?" bingung sendiri Cintya dengan ucapannya. " Ayat kursi!" serunya. "Aku harus membaca ayat kursi sebelum aku kerasukan." ucapnya seperti orang linglung.
Melihat tingkah Cintya, Dewa gemes sendiri. ingin sekali ia menjahili Cintya. Dewa mengikis jarak, lalu seperti biasa mendarat kan ciuman lembut yang menuntut di bibir yang sudah menjadi candu untuknya. dan pagi itu, menjadi saksi dua anak manusia berjumpa setelah tiga hari minggu perpisahan yang menyiksa.
"Om Jin, I love you!" tutur Cintya setelah ciumannya berakhir.
__ADS_1
***