
Happy Reading...
Dengan gontai, Cintya menyeret langkahnya menuju balkon hanya untuk memastikan suaminya itu tak akan menolehnya lagi. dan benar adanya. Dewa hanya memutar balik mobilnya. melesat keluar melalui gerbang tinggi rumah yang baru saja mereka tinggali.
Tak terasa bulir air mata mengaliri pipinya. bukan karena ia tak mempercayai Dewa. tapi menyadari bahwa perhatian suaminya terbagi dengan orang lain tak dapat ia terima.
***
Di dalam mobil, Dewa menyadari kesalahan yang baru saja ia buat. kecemasan yang tak beralasan membuatnya melupakan keadaan istrinya. bisa saja saat ini Cintya sedang bersedih karena sikapnya. atau mungkin marah.
Sudah sejauh ini, apakah ia harus kembali. sedangkan di sana juga ada nyawa bayi yang mungkin saja terancam karena ibunya yang depresi.
Meneruskan atau kembali.
Dewa mulai menimbang-nimbang. akhirnya dengan kecemasan yang masih menggantung di dadanya, Dewa memutar balik mobilnya. tak ada yang lebih penting dari perasaan istrinya. tak boleh ada kesalah pahaman yang bisa melukai hubungan mereka.
Sejak Dewa meninggalkan halaman rumahnya, Cintya masih berada di tempatnya dengan perasaan terkecai. kedua Bayinya sudah bersama Fira. hingga pandangannya yang semula tertunduk ia angkat karena deru suara mobil Dewa kembali masuk ke halaman rumah mereka.
"Sayang," Panggil Dewa tak sabar.
Cintya menoleh ke arah pintu. Dewa berjalan tergesa ke arahnya.
"Cinta, maafkan kakak." Dewa mencium seluruh wajah Cintya semuanya yang dapat di jangkau dengan bibirnya.
"Kenapa kembali? bukankah Elvira membutuhkanmu?" tanya Cintya sedikit menyindir.
"Tak ada yang lebih penting dari kamu," Dewa membawa Cintya ke dalam pelukannya.
"Siapa Elvira?"
"Dia wanita depresi yang tak menginginkan bayinya." jelas Dewa.
"Lalu siapa ayahnya?"
Dewa tak menjawab. yang di lakukannya hanya terdiam sambil menelisik wajah Cintya yang menunjukkan raut penuh pertanyaan dan sedikit curiga.
"Kakak tau apa yang ada dalam otak mu itu sayang," Dewa membawa Cinta duduk di sofa panjang. ia tahu jika istrinya itu tak akan berhenti bertanya sebelum rasa penasarannya terobati.
"Emang apa yang ada dalam otak aku?"
"Kamu pasti curiga itu adeknya Twins kan?" Dewa menjauhkan wajahnya untuk menjangkau wajah Cintya yang sedang duduk di pangkuannya.
"Kali aja kakak khilaf."
Dewa mendengus, bisa-bisanya otak kecil istrinya yang sayangnya luar biasa itu berpikir sampai ke sana.
"EMANG ADA KAKAK NAPSU SAMA WANITA LAIN?"
"Kan kemarin habis puasa lama kakak," Cintya memayunkan bibirnya.
Cup!
__ADS_1
"Manis, sayang di anggurin," Dewa menjilat bibirnya sendiri seperti sedang merasai sebuah minuman.
"Ih, iseng banget sih!" Cintya memukul pelan bibir Dewa yang langsung di tangkapnya dan mendaratkan kecupan kecil di punggung tangannya.
"Jadi inget kejadian di hotel ya dek," Dewa tersenyum "sejak saat itu kamu resmi jadi milik Dewa Herlambang." ujarnya terkekeh geli.
"Idih, udah jadi maling bibir aja bangga."
"Kalo gak di curi mana mau kamu kasih gratisan?"
"Emang aku cewek gampangan apa, mau kasih ciuman gratis sama orang asing."
Dewa mencebik.
"Sekarang kamu gampangan, bukan cuma ciuman aja yang gratis, semuanya kamu kasih gratis."
"Aku murahan banget sih?"
"Kan kakak udah bayar tunai, jadi bebas pakai dong."
"Persis kolor gitu kan?" Cintya berdecih.
"Amukan kamu juga gratis kayaknya."
Cintya mendelik.
"Aku makin suka kalo ngamuknya di bayar."
"Yang gratis aja serem apa lagi yang berbayar."
"Ya kali itu pesbuk."
Keduanya tergelak. tak ada beban masalah yang berat jika semuanya di bicarakan secara terbuka.
Obrolan tak penting namun mampu membuat keduanya saling terbuka. saling mengungkapkan dan mengingatkan di saat terlupa, seperti merangkai mata rantai satu dan yang lainnya membentuk benang tak kasat mata untuk mengikat keduanya dalam kata kebersamaan dan kepercayaan.
Mereka seolah lupa dengan masalah yang sedang menjerat mereka, yang mungkin saja akan membuat mereka menjadi berjarak karena kesalah pahaman.
Hari semakin menua, mereka berdua masih larut dalam cerita tentang kejadian dua bulan yang lalu.
Dewa memutusakan untuk menceritakan semuanya dari awal keberangkatannya. sebuah proyek bermasalah yang harus ia tinjau langsung dan tentu saja itu bersama sang Asisten. namun sayangnya Alex harus cepat kembali karena Sherryl yang juga sedang membutuhkannya.
Flashback on.
"Awas pak!"
Krak!
Bugh!
Terdengar suara patahan di susul dengan runtuhnya sebuah tembok yang belum terlalu sempurna pembangunannya.
__ADS_1
"Toni!" jerit Dewa yang terlempar agak jauh karena Antoni yang mendorongnya keras.
Antoni adalah manajer yang bertanggung jawab untuk mengawasi pembangunan sebuah resort di pinggiran pedesaan.
Siang itu, di hari ketiga yang seharusnya Dewa pulang seperti janjinya pada Cintya harus ia ingkari. karena Antoni yang mengalami luka serius di bagian kepala. punggungnya mengalami patah tulang belakang akibat benturan dari patahan tiang penyangga serta tungkainya tertimbun puing-puing dari tembok yang campurannya antara lain semen dan batu-batu kecil.
"Pak, anda ti_tidak apa-apa?" panggilnya terbata di antara kesadarannya yang hampir hilang.
"Toni, sadar Toni," Dewa membalik tubuh Antoni yang tertelungkup. darah sudah mengucur deras di pelipisnya. "Lex, siapkan mobil." titahnya.
Sedangkan Alex yang masih dalam keterkejutan malah salah arah.
" Lex cepetan." Bentak Dewa sangat kesal. entah kenapa Asistennya itu menjadi makin konyol setelah kenal dengan Sherryl.
"Pak, tolong beri perlind_"
Tek!
Tangan Antoni terkulai, pemuda berusia dua puluh lima tahun itu benar-benar kehilangan kesadarannya. luka di kepala nya yang terlihat paling parah yang menyebabkan pemuda itu kehilangan banyak darah. dan akhirnya Antoni menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit karena selain ia mengalami kecelakaan parah, Antoni juga mengidap hemofilia yang memperparah keadaan nya.
Flashback off.
"Jadi Elvira adalah istri Antoni?" tanya Cintya.
"Mereka belum resmi menikah sayang,"
"Tapi Elvira hamil, jadi_"
"Kita tidak perlu memikirkan itu, yang jelas sekarang ada anak Antoni yang harus kita perhatikan. kamu gak keberatan kan?"
"Kalo hanya soal materi, bukankah perusahaan akan memberikan per tanggung jawaban."
"Kau benar, tapi masalahnya Elvira mengalami gangguan mental setelah kematian Antoni."
Cintya tercenung.
"Jadi jangan pernah berpikir macam-macam jika suamimu ini akan menghianati istri yang segalak singa betina ini, apa lagi singa nya cantik begini." Dewa mencubit gemes hidung Cintya. membuat pemiliknya meringis.
"Kakak gak bohong kan?" Cintya bertanya, namun sebenarnya itu adalah caranya menegaskan bahwa Dewa tak akan membuatnya sedih.
"Kakak akan mati sebelum itu terjadi."
"Dan aku akan jadi janda kaya raya dan siap kawin lagi."
Cintya memasang wajah tak berdosa meski Dewa sudah menekuk wajahnya.
"Kok gitu sih ngomongnya."
***
Cerita ini hanya pemanis, karena tak ada kehidupan perkawinan yang semulus jalan tol tanpa lubang.
__ADS_1
Semoga sore bisa Up lagi.
RL lagi melambai memangil.