Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).

Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).
Perjalanan hidup.


__ADS_3

Happy Reading...


Hidup bukan hanya tentang menjalani aktivitas,menatap indahnya pagi dan nenikmati kelamnya malam.


Hidup adalah perjalanan panjang yang selalu memiliki tujuan. bukan untuk berhenti saat tujuan itu tercapai namun harus terus beruang agar apa yang sudah kita rai tak begitu saja Raib.


Dalam hidup, kebahagiaan dan kesedihan selalu berjalan bersisian. jika kebahagiaan telah menghampiri, maka jangan heran jika ujian akan datang secara beruntun bahkan melebihi kebahagiaan. yang telah di cecap.


Hari-hari keluarga kecil Dewa Herlambang selalu di naungi kebahagiaan. tak ada kesedihan berarti nyang mereka alami kecuali jika saat si kembar memutuskan untuk kompak berulah.


Acara begadang semalam adalah masalah terberat. yang orang tua baru itu alami. tak jarang mereka harus merasakan nyeri punggung akibat tidur di lantai beralas karpet karena tertidur saat menemani anak-anaknya bermain.


Rasa pening yang menyambut di pagi hari adalah sebuah kenikmatan tersendiri bagi Dewa. karena nyatanya, tawa ceria tiga orang terkasihnya adalah penawarnya.


"Kakak gak ngantuk, hari ini di rumah saja ya?" Tawar Cintya karena melihat mata Dewa sedikit meredup. kentara sekalii jika saat ini pria itu di landa kantuk berat.


"Hari ini ada rapat Dewan Direksi, tak akan melelahkan."


"Tapi semalam kakak hanya tidur satu jam." memasangkan dasi yang merupakan aktivitas setiap pagi menjadi adalah satu hal yang di sukai Cintya. karena setelah itu Dewa akan mencium dan memeluknya. menunjukkan kasih sayangnya.


"Itu sudah biasa sayang, tak tidur semalaman bahkan dua hari juga sudah biasa."


"Empat puluh delapan jam ngapain saja?" pancing Cintya. penyakit keponya tiba-tiba kumat di pagi itu.


"Dalam sehari setelah dua belas jam bekerja maka sisanya kami berada di markas."


Markas? markas apa? suaminya itu orang kantoran bukan orang militer. suaminya itu memakai jas bukan berbaju loreng atau pun coklat.

__ADS_1


Jangan-jangan pria yang menikahinya tiga bulan yang lalu itu adalah seorang Mafia. tapi Dewa tak pernah terlihat memegang senjata. ia lebih memilih memegang pulpen yang harganya ratusan ribu dolar itu. bahkan pulpen dengan merk Mystery Masterpice Mont & Van Cleef Blanc & Arpels Limited Edition seharga hampir sepuluh milyar itu menjadi salah satu koleksinya.


Cintya memandang sayang pada benda koleksi suaminya itu saat Dewa menunjukkan bagaimana rupa dan bentuk sebuah alat tulis yang terbentuk dari emas delapan belas karat berpadu dengan batu mulia.


Rubi, Zamrud dan Safir adalah benda yang paling sering Ia minta, yang terwujud dalam bentuk cincin ataupun liontin. tak jarang juga dalam rupa accecories rambut. tapi ini dalam bentuk pulpen, ah sayang sekali.


Tapi itulah perhiasan atau Accecories seorang pria selain jam tangan dengan harga selangit maka harga pulpen pun harus merogoh kantong sedalam inti bumi.


Benar-benar sangat sayang sekali.


Berbicara tentang pulpen mahal membuat Cintya kembali mengingat pekerjaan Dewa. suaminya itu adalah Direktur dari perusahaan keluarga dan juga perusahaan yang di dirikan ya sendiri dari nol. Dia bukanlah Mafia seperti yang ada dalam pemikirannya itu.


"Ngapain aja di markas, kakak lagi benerin motor di sana?" ketertarikan nya pada dunia balap tak begitu saja lekang meski ia telah menjadi seorang ibu. tapi Ada yang larangan Dewa membuatnya harus mengucapkan Bye pada motor kesayangan nya.


Cintya bisa saja melanggarnya jika ia sudah mampu berdamai dengan pahitnya jus Pare.


"Lalu kakak ngapain di sana?"


"Kita sering menghabiskan waktu di markas Mami Rosi." kata Dewa seakan lupa jika perkataannya itu bisa saja menjadi bumerang untuknya.


"Mami Rosi bukannya Mama nya Pak Ken?"


"Itu Mama Rosita, yang ini Mami Rosela pemilik club biasa kakak berkumpul bersama Alex dan Zack.


"Oh," Mulut Cintya pembentuk huruf O. Kalo di markas Mami Rosi ngapain aja?"


Memancing di air yang bening memiliki keasyikan tersendiri. kita bisa melihat mangsa yang menjadi target. itulah yang di lakukan Cintya pada suaminya saat ini.

__ADS_1


"Biasalah pria, uang kami terlalu sayang untuk di simpan. jadi, ya begitulah. membayar mahal hanya untuk satu sentuhan dan berakhir dengan satu semburan. itu sudah menjadi hal biasa bagi kami. bahkan biasanya kami para pria cukup mampu membawa dua wanita sekaligus aje atas ranjang."


Cintya masih setia mendengarkan ocehan pria mantan buaya itu dengan wajah datar. sesekali mengangguk dan tersenyum. namun satu yang tidak di sadari Dewa yaitu, Cintya sudah menipiskan bibirnya. pertanda emosi sedang menyapanya hingga pekikan Dewa mengakhiri cerita tentang Markas.


"Aw! Cinta, kamu mau bunuh kakak?" tanya Dewa karena Cintya menarik simpul dasinya sangat erat.


"Antusias banget cerita ranjang markas!" Cintya mendelik kesal. mata bulatnya yang cantik itu semakin membuat membuatnya lucu tapi juga menyeramkan.


Lihat sekarang? siapa yang bertanya dan siapa yang marah-marah.


"Sudah siap jadi janda ya?" goda Dewa sebelum kemarahan pura-pura itu menjadi nyata. kedua tangannye sudah merengkuh pinggang yang semakin berisi milik Cintya.


"Janda kaya tidak terlalu menakutkan."


Kedua tangannye sudah mengalung di leher kokoh suaminya, bersikap dengan apa yang mereka lakukan setiap pagi sebelum Dewa berangkat ke kantor.


Pertemuan dua bibir berlebel halal yang terakhir dengan nafas yang saling memburu dan benang Saliva yang saling bertaut adalah cara mereka menyatakan perasaan mereka.


"Mencintai dan membahagiakan mu adalah hal yang paling menyenangkan dalam hidupku. love you, Wife."


Dewa mengusap bibir Cintya yang basah dan sedikit bengkak akibat.ulahnya dengan ibu jarinya.


"Love you more hubby," jawab Cintya dengan mata terpejam.


***


sambung siang, siapkan Emosi kalian.

__ADS_1


__ADS_2