
"Lex, cari tau jam berapa penerbangan mereka!" titah Dewa.
"Gimana caranya?" Alex makin bingung.
"Pikirkan sendiri caranya!"
"Dasar titisan Fir'aun!" gumam Alex dengan suara rendah.
"Gue denger lex!" ucap Dewa yang sudah berjalan beberapa langkah dari Alex.
Hiks! ternyata selain titisan Fir'aun lo merangkap menjadi siluman ayam. tajem banget perasaan tuh kuping. gerutu Alex dalam hati.
"Haman cepat!" teriak Dewa dari kejauhan.
Eh tunggu! apa pria itu bilang tadi?
Alex hendak menggerakkan kaki hendak berjalan. tapi langkah kakinya mendengar julukan untuknya.
"Enak aja lo main ganti nama gue sembarangan!" gerutunya di belakang Dewa
"Bukannya benar lo kaki tangan gue, lo bilang tadi gue Fir'aun jadi gak salah dong lo gue panggil Haman."
Tapi benar kan Alex adalah kaki tangan Dewa. jadi tak ada ya g salah dalam hal ini. Alex tak memiliki alasan untuk marah.
Dengan sedikit decakan Alex mengikuti Dewa kembali ke ruangannya.
"Gimana? lo jadi nyusul nyonya gak?" tanyabAlex setelah mereka berada di dalam.
"Lihat nanti, kalo sampe malam Cinta gak nyampe, bedok gue susul."
"Jadi gue gak jadi nih atur ulang agen_ eh tunggu, ada telpon dari orang yang gue suruh nyari adeknya Antoni." Alex merogoh kantongnya. "Ya gimana?" wajah Alex tampak serius. "oh oke!" Alex mematikan telponnya sepihak.
"Gimana?"
"Adiknya Antoni udah ketemu dan sekarang_"
"Apa Lex!"
"Dia lagi sakit."
"Terus dia dimana?"
"Di rumah sakit Harapan,"
"Kita kesana Lex!"
"Terus Nyonya gimana?"
"Lo udah tau jam berapa penerbangannya?"
"Belum sih."
"Ya sudah sambil jalan."
"Oke."
Dewa berjalan menuju Basement kantornya dengan Alex berjalan di belakanganya.
__ADS_1
"Dua jam perjalanan. mereka telah sampai di tempat tujuan. sebuah Rumah sakit Swasta. di sana, Alex di sambut oleh seseorang yang ia sewa untuk mencari tahu keberadaan adik Antoni.
"Gimana? " tanya Alex pada temannya itu.
"Gue nemuin dia di rumah Antoni. sepertinya dia kelelahan mungkin juga lapar."
Dewa membiarkan Alex berbicara dengan temannya. sedangkan ia sendiri masuk ke dalam untuk menemui adik dari Antoni.
"Hai," sapa Dewa dengan seulas senyum. ia tak mau gadis kecil itu takut padanya.
Gadis kecil itu tersenyum lemah.
"Siapa nama kamu?" tanya Dewa.
"Andini Om."
Gadis berusia empat belas tahun itu mencium punggung tangan Dewa dengan Tahkzim.
"Baiklah Andini, bisa kamu cerita kan pada Om, bagaimana bisa kamu berada di sana. bukankah kamu ada di pesantren?"
Gadis itu terdiam dengan wajah takut.
"Kak Antoni sudah tiga bulan tidak menjenguk Dini, jadi Dini meminta izin untuk pulang. tapi kak Antoni tidak ada di rumah. tetangganya bilang kak Antoni meninggal. itu tidak benar kan Om," pecah tangisan gadis kecil itu membuat Dewa kembali merasa bersalah.
"Yang sabar ya." tutur Dewa menenangkan.
"Apa Om temannya kak Antoni?"
"Iya, Om temannya Antoni. kamu tenang saja. mulai sekarang Om yang akan jagain kamu."
"Terima kasih."
Dewa sama sekali tak ingin membuang waktu. ia harus segera mencari tahu tentang hubungan Elvira dan Antoni.
"Bo_boleh."
"Dini tahu seorang wanita bernama Elvira, apa dia ada hubungan dengan kakak kamu?"
Dini tampak berfikir. "Hanya ada satu teman Kak Antoni yang namanya Elvira dan seingat Dini kak Antoni tidak pernah menceritakan masalah temannya itu."
Dewa mendengarkan dengan Serius.
"Apa kamu tahu jika Elvira sedang hamil?"
Dini mengerutkan dahi, "Hamil? sayang tidak tahu."
"Elvira bilang itu anaknya Antoni."
Dini terperangah. "tidak mungkin!"
"Maksud kamu?"
"Maaf tak seharusnya Dini menceritakan ini, tapi demi membersihkan nama Kak Antoni. saya akan menceritakan."
"Ada apa?"
"Dokter memvonis kak Antoni tak bisa punya anak."
__ADS_1
"Apa?" ketiga pria di ruang itu terkejut.
"Berarti Elvira udah tipu lo Wa." celetuk Alex.
"Sialan! Lex cari tahu semua tentang Elvira. buat dia menyesal. berani sekali dia memanfaatkan situasi." ucap Dewa geram.
"Gampang itu, sekarang rencana lo apa?"
"Dia." tunjuknya pada Dini.
"Biarkan dia istirahat di sini dulu sampai pulih, dan tolong lo jaga dia." pintanya pada teman Alex. "Lex beresin semua."
"Beres bos!"
Kembali Dewa memfokuskan perhatiannya pada Dini yang terbaring, "Dini nanti mau balik ke pesantren?"
Gadis itu tampak berpikir. "tapi Kak Antoni udah gak ada Om, siapa nanti yang nanggung biaya sekolah Dini?" jawab gadis itu ragu dengan menunduk. ia sampai meremat selimutnya.
"Perusahaan tempat kakak kamu bekerja yang akan menanggung." Jawab Dewa. tanpa ragu ia mengelus pucuk kepala Dini yang terbungkus hijab putih sedikit lusuh itu.
Dini tersenyum,ada binar bahagia di wajah gadis itu. "Terima kasih Om, kak Antoni pernah berkata jika kita berbuat baik, maka pertolongan tak akan jauh dari kita. dan sekarang saya melihatnya sendiri. tapi bolehkan saya tahu bagaimana kakak meninggal."
Dewa menatap sendu gadis kecil di hadapannya. meski tanpa keluarga lengkap, Antoni mampu mendidik adiknya dengan begitu baik. terbukti dari tutur kata Andini yang sangat sopan dan pemikirannya yang dewasa. dan semua itu seperti tamparan untuknya. nasibnya tak jauh beda dari Antoni. hanya saja Ia lebih beruntung dari segi finansial. namun justru semua itulah yang membuat Dewa terjerumus dalam dunia yang buruk.
"Antoni menyelamatkan Om dari kecelakaan kerja." jawab Dewa gugup. ia takut Andini justru marah padanya. "Maaf, Om tak bisa menyelamatkannya." sesal Dewa.
Andini mengusap sudut matanya yang tampak basah. gadis itu menangis tanpa suara. "semua yang ada di dunia ini milik Tuhan, dan Tuhan akan mengambilnya sewaktu-waktu tanpa bisa kita tolak. dan sudah waktunya Tuhan menginginkan kak Antoni kembali. kita hanya bisa merelakan dan mengikhlaskan. dan saya sudah ikhlas."
Dewa tak dapat berkata apa-apa lagi. betapa dewasanya gadis ini.
Setelah berbincang-bincang sebentar, Dewa pergi bersama Alex. meninggalkan Andini bersama satu orang kepercayaan Alex.
"Sekarang apa rencana lo sama Elvira?" tanya Alex saat perjalanan pulang.
"Kumpulkan bukti lalu kasih ke istri gue." jawab Dewa.
"Wiih, ngeri nih!" Alex tertawa ringan.
"Gue gak mau ambil resiko dengan kemarahan Cinta lagi. baru tiga hari udah puyeng aja gue jauh dari mereka." Keluh Dewa terlihat sangat menyesal.
"Baru juga tiga hari, padahal rencananya nyonya pergi dua bulan."
Alex sepertinya tak sadar dengan ucapannya. ia masih tenang berada di belakang kemudi. padahal di sampingnya Dewa telah menatapnya tajam.
"Apa lo bilang!" suara Dewa naik satu oktaf.
"Apa?" sepertinya Alex masih belum sadar.
"Tadi lo bilang Cinta berencana pergi dua bulan, dan itu artinya lo tahu dan lo gak mengatakan apapun." Alex gelagapan. ia sudah tak dapat meralat ucapannya lagi.
"Dasar Asisten durjana jelmaan Abu nawas!"
***
🤣🤣🤣
No komen.
__ADS_1
Kalian aja komeng banyak-banyak.🤣🤣🤣