Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).

Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).
Cinta... cinta...


__ADS_3

Happy Reading...


"Apa maksud kakak melarang kak Josh menikah dengan Jacinta dan membicarakan tentang perasaan tak mencintai segala macam." Cintya mencerca Dewa dari belakang sambil mencapit telinga nya dengan sangat keras. membuat Dewa mengaduh hingga hampir berteriak.


"Cinta,,, cinta,, sakit Cinta." keluh Dewa berusaha melepas kan jari Cintya dari telinganya.


"Apa maksudnya dengan tak mencintainya?" Dewa meringis menahan sakit sekaligus bingung kenapa Cintya tiba-tiba marah padanya.


"Jangan bilang kalian menyembunyikan sesuatu dariku?"


Dewa mengernyit, makin tak terarah saja ucapan istrinya itu.


"Ayo katakan alasan kakak melarang kak Josh menikah. bukankah wanita yang kak Josh Cintai sudah di miliki orang lain. jadi kenapa kakak melarang teman sendiri untuk mencari kebahagiaan lain."


Bagaimana bisa Dewa menjawab pertanyaan bertubi-tubi jitu,sedangkan mulutnya saja terkunci karena tak mendapatkan kesempatan bicara.


"Cinta,, lepas cinta,, sakit ini kakak." tunjuknya pada telinga yang mulai merah.


"Katakan dulu!" pinta Cintya galak.


"Iya lepasin dulu ini." Dewa tak kalah galak membuat Cintya cemberut seketika dengan wajah hampir menangis. Cepat-cepat Dewa menenangkan sebelum ada drama baru lagi.


"Maaf, kakak gak bentak kok." Dewa nyengir demi mendalami perannya. peran pura-pura tak ingin marah padahal aslinya ingin sekali ia menggigit telinga wanita galak di depannya.


"Josh gak boleh menikahi wanita yang tak dia cintai. itu tak baik karena pasti akan membuat Jacinta sedih." ucap Dewa memberikan penjelasan dengan sangat sabar.


"Biarkan saja sih seperti itu. itu masalah kak Josh, mungkin dengan


begitu dia akan bahagia dan bisa melupakan gadis yang ia cintai."


"Tapi bukan begitu caranya." akhirnya Dewa menyerah. memberi penjelasan pada Cintya yang keras kepala akan sangat percuma. pria itu pasrah dengan menghadapi istrinya yang tingkat menyebalkan-nya setinggi mount Everest. terlihat dari bahunya uang menurun. ia pikir percuma mendebat karena ia tak mungkin menang.


"Atau mungkin ada alasan lain?" Cintya memicing. memandang curiga kepada Dewa.


"Maksud kamu?"

__ADS_1


"Mungkin kakak yang justru tertarik pada Jacinta, hingga tak ingin kak Josh menikahinya."


Dewa menelan saliva, apa lagi ini. hebat sekali otak istrinya itu. hingga berpikiran sampai kesana.


"Atau mungkin kakak yang tak ingin kak Josh menikah karena kalian ada sesuatu?"


Makin bingung saja. Dewa dengan ucapan Cintya.


"Maksudnya?" tanya Dewa antara tak mengerti dan juga bingung.


"Kalian memiliki hubungan."


Dewa melotot mendengar ucapan Cintya.


"Kakak sudah bosan dengan lubang dan mulai tertarik dengan batang." bahkan Cintya mengatakan tuduhan itu tanpa merendahkan suaranya. membuat Dewa menipiskan bibir menahan kesal. meski seperti itu ia masih diam. menunggu Cintya mengatakan tuduhannya kembali.


"Kalian Ho mo"


Dewa mendelik bisa-bisanya istrinya itu menuduhnya sejauh itu. benar-benar harus di tindak.


Cintya terdiam seketika dengan mulut terkatup. melihat tatapan Dewa yang menatap tajam padanya membuatnya sadar bahwa ia telah membuat kesalahan.


"Kak!" Cintya nyengir, lebih tepatnya ia sedang melancarkan rayuan.


"Coba katakan lagi," geram Dewa dengan suara tertahan.


"A_apa?" tanya Cintya gugup.


"Yang tadi?"


Dewa tahu jika Cintya hanya pura-pura lupa.


"Ayo bilang sekali lagi, kalo gak hukuman kali ini bakal bikin si cantik ini nyesel." ancam Dewa membuat Cintya bergidik. itu karena ia ingat bagaimana Dewa menghukumnya. ia benci rasa pahit karena jus pare dan dia juga kesal karena kakinya kaku terpendam es. tapi hukuman enak yang Dewa berikan tetap membuatnya berpikir ulang untuk melakukan kesalahan.


"Kakak bosan sama lubang dan mulai menyukai batang" ulang Cintya takut-takut.

__ADS_1


"Lalu?" desak Dewa dengan kaki selangkah ke depan Cintya membiat wanita itu mengambil langkah mundur.


"Kakak Ho mo." di sertai cengiran setelah mengatakannya.


"Kita buktikan sekarang dan kita lihat besok kamu masih bisa berjalan atau kakak harus menggendong mu." ancam Dewa dengan seringai menakutkan.


"Kakak mau apa?"


Dewa melempar tatapan seperti hendak menerkam, membuat Cintya dingin segera kabur. namun sayang. Grab! dengan cepat Dewa menangkapnya.


"Mau kabur? selesai kan dulu hukumannya."


Dewa membopong tubuh Cintya kembali ke villa ya g tak begitu jauh.


Setelah Sampai di kamar, dengan sedikit keras Dewa melempar tubuh Cintya aje atas ranjang hingga memantul.


"Kak, hukum yang lain saja ya, atau tunda samapi kita kembali." Pinta Cintya menghiba. dengan perlahan ia memundurkan tubuhnya hingga iatak mampu bergerak lagi karena telah berada di ujung.


"Ayo, jangan membuang waktu" Dewa menarik pelan pergelangan kaki Cintya. membaiat wanita itu terlentang. dan dengan cepat Dewa menindihnya.


Untuk beberapa lama Dewa mendomonasi permainan. sementara Cintya Cintya menolak, Dewa memberikan serangan-serangan gan yang membuat terlena.


"Sudah ya, kita ke pantai aja. besok kan udah balik." Sekuat tenaga Cintya menahan desah annya.


"Yakin udahan sampai di sini?" tanya Dewa dengan senyum tipis.


"Yakin banget." jawab Cintya terbata.


"Lalu ini apa?" Dewa menunjuk jari-jari Cintya yang lincah membuka kancingnya satu persatu.


Cintya nyengir, "Lanjut saja."


Eh,,,


Dewa tercengang. kini Cintya yang mengambil alih permainan.

__ADS_1


__ADS_2