
Happy Reading
Dewa mengulas senyum, yang membuat Elvira melambung. tapi sebenarnya yang Dewa lakukan adalah ia sedang mencemooh Elvira. membiarkan wanita itu berpikir bahwa ia telah masuk ke dalam jebakannya.
"Bagaimana kandungan kamu?"
Blush!
Tak menyangka Dewa akan menanyakan itu. dan itu Elvira anggap sebagai peluang emas untuk menarik simpati Dewa.
"Dia baik, sepertinya dia mengerti jika ayahnya tak bersamanya. di saat seperti ini seharusnya Alvaro menemaniku."
Tanpa sadar Elvira mengatakan nama lain.
"Alvaro, siapa Alvaro?" Dewa mengerut kan dahi.
Elvira gelagapan, "Alvaro? siapa Alvaro?" alih-alih menjawab, Elvira justru balik bertanya. itu semakin menambah kecurigaan Dewa.
"Tadi kamu menyebut Alvaro yang seharusnya menemani kalian." korek Dewa dengan pandangan curiga.
Elvira gugup. jari-jarinya saling meremas. ia bingung harus menjelaskan apa. Dewa sudah telanjur mendengarnya.
"Sepertinya aku salah mengucapkan nama," ujarnya tergagap. ia sampai harus melarikan pandangannya kearah lain untuk menghindari tatapan Dewa yang menghujam seperti hendak mengulitinya.
"Kenapa kau gugup seperti itu?" Dewa melihat raut ketakutan pada wajah Elvira yang tiba-tiba pucat.
"Ti_tidak, tidak apa-apa. sepertinya aku hanya kelelahan saja." jawabnya terbata dengan senyum yang si paksakan.
"Kalau kau lelah, istirahat saja. atau kau ingin ke dokter mungkin?"
Tanpa di duga Dewa mengatakan itu. ini adalah kesempatan emas. dan Elvira merasa harus mengambil kesempatan ini. ini merupakan kesempatan untuk Elvira mengambil perhatian Dewa sebanyak-banyaknya. ia tak boleh menyia-nyiakannya.
"Tapi aku tidak tahu dokter kandungan di sini. dan kalau aku harus pergi ke dokter kandungan yang biasa aku kunjungi, itu terlalu jauh."
"Apa kau ingin aku mengantarmu?" tawar Dewa semakin membuat Elvira melambung.
Yess!
Elvira bersorak dalam hati.
"Terima kasih, tapi aku tak dingin merepotkan mu." Alasan, Elvira hanya tidak ingin terlihat mencolok.
Elvira tersenyum samar sambil menunduk. ia bertingkah seperti.gadis yang baik dan malu-malu.
Sedangkan Dewa pun tak kalah senang, karena apa yang telah ia rencana kan semakin mendekat pada keberhasilan.
"Baiklah, kita akan pergi nanti." keputusan Dewa seperti sebuah ajakin bulan madu yang sangat Elvira harapan. kapan lagi ia bisa berdua dalam mobil dengan pria sesempurna Dewa.
"Terima kasih Dewa, kau sungguh baik." Elvira memberanikan diri menangkap tangan besar Dewa di atas meja.
Dewa pun tak menolak, membuat Elvira semakin merasa di atas angin.
__ADS_1
"Aku bahagia, entah kebaikan apa yang aku lakukan dulu sehingga Tuhan mengirim mu padaku."
Uweek!
Di balik tembok, Cintya muntah udara di buat-buat. jengkel sekali ia pendengar mulut dramatis Elvira. sepertinya manusia itu membutuhkan sesuatu yang pahit agar tak terlalu bebas untuk mengumbar mulut manisnya.
"Tapi aku juga ingin pergi ke suatu tempat, aku butuh belanja kebutuhanku, apa kau juga tak keberatan untuk mengantarku?"
Cintya mengepalkan tangannya. ia sampai harus meninju udara untuk meluapkan emosinya. kurang ajar sekali wanita itu.
"Mau jalan-jalan ya? boleh ikut gak? boleh dong." Cintya bertanya sendiri dan di jawab sendiri.
Lalu dengan langkah ringan dan cepat ia melipir ke arah dapur. Dewa hanya menggelengkan kepala melihat tingkah konyol istrinya itu.
Sebuah rencana yang tak terlalu keren terbesit di otak kecil Cintya. suaminya itu harus di beri pelajaran berani-beraninya ia menawarkan kebaikan pada wanita ular seperti Elvira.
Di dapur, Cintya sudah mengacak-acak isi lemari pendingin nya. Cintya tak akan pernah lupa pada apa yang Dewa lakukan padanya. sesuatu yang pahit telah masuk ke dalam tubuhnya dan semua itu bermuara pada Elvira. Cintya berpikir pasti akan sangat menyenangkan jika wanita itu juga merasakan hal yang sama.
"Apa kalian hanya akan mengobrol saja, aku sudah sangat lapar menunggu adegan manis kalian." Cintya berkata ketus. dan berhasil membuat kedua tangan yang saling bertaut itu terlepas.
Dewa tersenyum kaku sedangkan Elvira tertunduk menyembunyikan senyum kemenangan.
"Apa lu?" tanya Cintya pada Dewa tanpa suara. hanya bibirnya saja yang bergerak.
"Cepatlah Elvira, nyonya Adisti hanya menugaskan aku untuk mengurus Tuan dan si kembar. tapi untuk kali ini ada pengecualian. beliau memintaku secara khusus untuk melayani mu. jadi apapun yang akan ku lakukan kau tak berhak untuk protes."
Ucapan Cibtya yang panjang lebar berhasil menerbitkan senyum kepuasan di bibir Elvira. lain halnya dengan Elvira, Dewa justru merasa khawatir. pasti akan ada sesuatu yang terjadi setelah ini. tak mungkin Cintya melakukan kebaikan pada orang yang tak ia suka tanpa ada niat terselubung di dalamnya. apalagi Dia adalah Elvira.
"Ayam panggang madu buat suamiku," dengan riang Cintya menghidangkan makanan di hadapan Dewa.
Upss! Cintya keceplosan. tapi bukan Cintya namanya jika tak mampu keluar dari jebakannya sendiri.
"Tentu saja, suamiku. apa ada yang salah dengan hal itu, aku melayaninya setiap detik setiap waktu. kapan pun dan dimana pun yang ia inginkan," Cintya mengerling genit.
Uhuk! uhuk!
Sekali lagi Cintya membuat kekacauan di pagi hari. jangankan bersikap seperti itu, bahkan dengan berkedip saja Cintya sudah mampu membuat sesuatu di bawah sana meronta-ronta untuk di keluar kan.
Baiklah, sarapan dua kali bukanlah ide yang buruk.
Elvira membuang muka. Cintya selalu saja berhasil membuat nya tak mampu menjawab.
"Elvira, kita pergi agak siang karena ada hal penting yang terlebih dulu harus aku lakukan."
Dewa berucap pada Elvira, tapi tatapannya tertuju pada Cintya. Dengan bertumpu pada kedua siku dan kedua tangannya saling menggenggam di depan mulut, Dewa menyembunyikan senyum melihat Cintya yang hanya mampu menelan ludah susah payah.
Cintya benar-benar menyesali ucapannya. setelah ini Dewa pasti akan menghabisinya.
Dasar buaya cap cicak mesum.
kembali bibir nya bergumam tanpa suara.
__ADS_1
Dewa tersenyum lebar sambil mendekat kan piring yang berisi nasi yang telah Cintya siapkan.
"Makanan khusus ibu hamil, atas perintah nyonya Adisti dan harus habis." Cintya mengangsurkan kepiting saus pedas manis ke hadapan Elvira, yang diterima dengan pandangan lapar.
"Selamat menikmati Nona," Cintya tersenyum jahat.
Elvira mulai makan dengan lahab, rasa kepiting itu sedikit lebih manis dari seleranya, tapi tak apalah, karena itu masakan orang lain. mungkin itu seleranya. begitulah batin Elvira.
Cintya kembali dengan membawa sayur yang juga harus ia habiskan. Elvira membelalakkan mata. tapi ia tetap menelan makanannya karena ada Dewa di sana.
"Aku memasaknya sendiri, apa kau menyukainya?" Cintya bertanya dengan senyum terbaiknya. bersikap setulus mungkin. meski pun itu hanya yah, begitulah. si ratu drama.
"Em, ya enak sekali."
Elvira memaksakan bibirnya untuk melengkung. meski tenggorokan nya sudah merasa tercekik. asin sekali.
"Teh hijau untukmu, baik untuk kesehatan."
Bohong! itu hanya pare yang di rebus.
Ada suara malaikat yang berwujud sebagai gelembung udara untuk mengingat kan. seperti gerakan menusuk balon, cintya menggerakkan tangannya ke sisi kepalanya, sehingga suara peringatan itu tak sampai ke telinga Elvira.
Cintya terkekeh dalam hati atas kekonyolannya sendiri. Dewa melihat itu semua tapi demi menjaga keamanan dunia, pria itu memilih diam. apalagi Cintya yang diam-diam melemparnya dengan tatapan ancaman.
"Makanan manis tidak terlalu baik untuk wanita hamil, jadi kau harus menetralisir kadar gula dalam darahmu." Cintya mendekat kan cangkir yang sama dengan yang Dewa gunakan waktu itu. minumlah selagi hangat. "
Dengan tangan sedikit gemetar Elvira mengambil cangkir itu dan mendekat kan dengan bibirnya. dan dengan gerakan cepat ia meminum cairan ini karena Cintya mengintimidasi dengan tatapannya.
"Huwaaaa pahiiit!" Elvira lari terbirit-birit mencari tempat untuk memuntahkan minumannya.
"Setelah mendapatkan yang manis kau juga harus merasakan yang pahit;" Cintya tepingkal-pingkal melihat gerakan Elvira yang lari tunggang langgang.
"Cinta..."
"Itu perintah nyonya Adisti," jawabnya santai sambil memiringkan bibirnya. seperti anak kecil yang saling mencibir dengan temannya. lalu tanpa dosa ia membalikkan piringnya dan memulai sarapan.
Dewa hanya menggeleng kepala dan menghembuskan nafas kasar.
"Dasar iseng!" bukannya marah, Dewa malah mengacak rambut Cintya gemas.
Tentu saja, Dewa tak akan marah dengan semua tingkah istrinya. urat marah pria itu telah tergerus oleh besarnya cinta untuk sang istri.
"Sini kakak suapin," Dewa menarik Cintya ke atas pangkuannya dan memakan sarapan dari piring yang sama.
***
1253 kata, authornya mabok pas ngetik.
*Elvira enak ya tumis pare.
Cintya kamu nakal.
__ADS_1
Papi Dewa sekali-kali harus marah ya sama Mami biar gak iseng.
Readersnya harus dukungan like komen and Vote. kalo perlu bantu promosi*.