Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).

Perfect Love (Kutukan Cinta Sang Casanova 2).
Aku akan menikahinya.


__ADS_3

Cintya nyengir. ternyata ia benar-benar telah salah menuduh. tapi ia tak ingin mengaku salah. salahkan saja keadaan yang membuat Josh tampak bersalah.


"Jadi dia ternyata yang jadi cicaknya yang sangat suka menempel. cicak betina yang lumayan cantik."


"Sialan kau membuatku malu." umpat Cintya yang di tujukan pada Cintya daam hati.


"Tapi tenang saja karena aku akan menikahinya." sepenggal kalimat yang keluar dari mulut pria berkebangsaan amerika itu sontak membuat semua mulut orang yang ada di ruang makan pagi itu menganga tak percaya.


"Josh." peringat Leo penuh makna yang di angguki tanda setuju dari Dewa.


Mungkin Josh kecewa dan patah hati tapi untuk menikah dengan gadis yang tak ia cinta dan juga tak begitu ia kenal, tentu bukanlah hal yang harus di lakukan. Dewa dan Leo tak menyetujui hal itu.


"Aku akan menikahinya." ulang Josh membuat Cintya tersenyum.


Jacinta mengangkat wajahnya. ia tak percaya dengan pendengarannya. tadi ia memang menginginkan hal itu. tapi setelah ia mendengar penjelasan Josh, ia tak ingin menuntut itu karena ia tahu jika Josh tak berbohong apalagi Jacinta memang menyadari itu adalah kebiasaan nya. berjalan dalam tidur.


"Josh, kau tak akan melakukan itu." cegah Dewa. ia tak ingin temannya itu terjerumus dalam pernikahan tanpa cinta. apalagi hanya untuk pelampiasan. ia tak ingin ada dua hati yang terluka yang berujung pada petaka rumah tangga di kemudian hari. Dewa pernah menjadi korban, ia tak ingin sedih dan merasa bersalah. Dewa memang tak menyukai perasaan Josh pada Cintya. tapi jika Josh gegabah mengambil keputusan untuk pernikahannya apa lagi dengan orang sembarangan, tentunya ia kurang setuju.


"Benar sekali paman, kita tak perlu melakukan itu. maafkan aku, aku hanya salah faham tadi." jelas Jacinta pada Josh, mendukung ucapan Dewa.

__ADS_1


Cintya memandang bingung pada ketiganya bergantian. dan lagi pula kenapa Dewa harus mencegah jika Josh ingin menikah. apa ada sesuatu di antara mereka. pemikiran buruk mulai merasuki pikiran wanita yang sedang di pengaruhi hormon kehamilan itu.


"Kenapa tak mau, apa kau yakin jika aku tak melakukan apapun padamu." ucap Josh menciptakan kebimbangan di hati Jacinta.


"Tadi yang paman bilang?" Jacinta menyalak membalas ucapan Josh yang menurut nya tidak konsisten.


"Yang aku bilang tadi memang benar tapi. bukan berarti semuanya benar. bisa saja aku.." Josh tak menerus kan ucapannya. jelas itu membuat Jacinta sedikit ragu. apalagi melihat Josh yang memandang dirinya penuh minat.


"A_apa maksud paman berkata seperti itu." Jacinta semakin sulit mengeluarkan kalimatnya. hatinya sekarang lebih resah dari beberapa saat lalu.


Josh berjalan mendekat pada Jacinta di ikuti pandangan oleh ke empat orang lain di sana. pria itu berdiri tepat di hadapan gadis yang sepertinya sedang merinding itu. perlahan ia meraih pinggang Jacinta. merapatkan tubuhnya lalu dengan cepat membaliknya. menghadap kaca besar di ruang itu. kaca pada lemari hias tapi masih mampu memberikan pantulan.


Ia sampai menumpukan dagunya pada bahu Jacinta agar gadis yang tampak sangat mungil di depan dadanya itu mengerti yang ia maksud.


Jacinta menelisik pada apa yang Josh tunjuk. tapi ia tak menemukan apapun kecuali hiasan meja yang terbuat dari Kristal yang ada dalam lemari tersebut. serta pantulan dirinya yang sedang di peluk Josh dari belakang.


"Apa? aku tak melihat apapun paman." tentu saja Jacinta tak mampu melihat apapun karena itu bukan cermin. Josh sengaja ingin membuatnya bingung saja.


Keempat orang di sana pun tak kalah penasaran. mereka sampai harus memanjangkan lehernya. agar bisa melihat lebih jelas. anggap saja mereka semua bodoh. termakan ucapan Josh. bukankah akan lebih mudah melihat pada sumbernya langsung yaitu leher Jacinta yang memiliki tanda kepemilikan berwarna merah terang hampir kebiruan. ya, benar sekali. Di leher Jacinta ada kissmark yang di ciptakan oleh Josh semalam. dan anehnya semua orang tak melihatnya.

__ADS_1


Beberapa jam yang lalu.


Josh sampai di villa saat malam hampir larut. dan sepertinya keempat orang temannya telah masuk ke dalam kamar masing-masing. sehingga tak ada yang mengetahui kedatangannya yang sedang menggendong seorang gadis di punggungnya.


Josh langsung membawa gadis itu ke kamarnya. tak ada waktu untuk menyiapkan kamar lain karena tubuhnya yang lelah setelah membawa tubuh gadis itu berjalan cukup jauh. ia lantas menurunkan Jacinta yang terlelap di atas Sofa bed tak jauh dari ranjangnya.


Josh tak mau menidurkan Jacinta di ranjangnya karena ia tak ingin terjadi sesuatu. karena bagaimana pun ia tetaplah pria normal. apalagi setelah kejadian ciuman beberapa saat lalu masih menganggu pikiran dan bagian tubuhnya yang lain. Josh tak ingin kalah dengan keinginan yang salah itu.


Setelah menurunkan dan membaringkan tubuh Jacinta, Josh hendak meninggal kan gadis itu untuk membersihkan diri. namun kejadian tak terduga kembali terjadi. kakinya tersandung kaki sofa saat hendak selangkah. Josh terhuyung yang mengakibatkan dirinya terjatuh tepat di atas tubuh Jacinta. dan dengan tak tahu dirinya gadis itu malah memeluknya dengan nyaman. menganggap Josh layaknya bantal guling hangat dan nyaman.


Josh tak bisa menjauh kan tubuhnya karena Jacinta memeluknya sangat erat. tapi sepertinya Josh memang sengaja memanfaatkan momen itu. ia tak benar-benar ingin pergi dari tempat nyaman itu. bukan kah ia terlihat lebih kuat jika di bandingkan dengan tubuh gadis itu. hanya saja Josh tak menggunakan tenaganya untuk melepas kan diri dari pelukan hangat seorang gadis.


Logika dan hatinya berperang apakah ia akan menghabiskan malam ini bersama seorang gadis di atas sofa bed dan melakukan hal-hal yang tak seharusnya di lakukan. atau ia memaksa melepas kan diri dari gadis yang masih memeluknya dengan nyaman meski resikonya gadis itu akan terbangun dan berteriak. yang kemungkinan akan membangunkan seluruh penghuni Villa. Josh tak ingin itu terjadi. meski mereka semua adalah temannya tapi tetap saja mereka adalah tamu yang harus merasa nyaman di tempatnya.


Untuk beberapa saat ia masih membiarkan Jacinta menempel di dadanya. hingga pandangan nya tertuju pada leher mulus gadis itu. seketika itu setan playboy nya kembali merasukinya kembali setelah tertidur selama beberapa tahun.


Josh langsung menyerang leher Jacinta seperti vampir yang haus akan darah. menghisap secara perlahan agar tak mengusik gadis yang sedang bermimpi itu. untuk beberapa saat ia terlena hingga ia merasakan tak nyaman di bawah sana dan menginginkan lebih. seketika ia tersadar sebelum semuanya terlambat. dengan sedikit kasar ia menarik diri. tak peduli jika Jacinta akan terbangun yang penting tak terjadi sesuatu yang buruk di antara mereka. Josh berlari ke dalam kamar mandi dan segera mendinginkan otaknya yang mulai memanas.


***

__ADS_1


Di larang traveling, Revisi bertahap. maaf membuat kalian menunggu. untuk saat ini akan slow up karena ada pekerjaan yang tak bisa di tinggal kan.


__ADS_2